Konten dari Pengguna

QRIS Jadi Pilihan Gen Z, Transaksi Cash Mulai Ditinggalkan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fachri Pandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber ilustrasi: Dokumentasi penulis, dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber ilustrasi: Dokumentasi penulis, dibuat menggunakan AI.

Perkembangan teknologi digital perlahan mengubah kebiasaan masyarakat dalam melakukan transaksi. Jika dulu uang tunai menjadi pilihan utama ketika membeli makanan, berbelanja, atau membayar kebutuhan sehari-hari, kini pembayaran digital mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu metode yang semakin sering digunakan adalah QRIS.

Di kalangan Generasi Z atau Gen Z, penggunaan QRIS menjadi hal yang cukup familiar. Hanya dengan menggunakan smartphone, transaksi dapat dilakukan tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Kebiasaan tersebut membuat pembayaran digital terasa lebih praktis, terutama bagi anak muda yang hampir selalu menggunakan smartphone dalam aktivitas sehari-hari.

QRIS sendiri merupakan sistem pembayaran berbasis kode QR yang memungkinkan konsumen melakukan transaksi melalui berbagai aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Pengguna cukup membuka aplikasi, memindai kode QR milik merchant, memasukkan nominal pembayaran, kemudian melakukan konfirmasi.

Kemudahan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa QRIS banyak digunakan dalam transaksi sehari-hari. Misalnya ketika membeli kopi, makanan di kantin, membayar di minimarket, hingga berbelanja di sejumlah toko yang sudah menyediakan fasilitas pembayaran digital.

Bagi sebagian Gen Z, membawa uang tunai dianggap kurang praktis dibandingkan menggunakan pembayaran digital. Smartphone yang selalu dibawa ke mana-mana membuat transaksi menggunakan QRIS dapat dilakukan dengan lebih mudah.

“Kalau pakai QRIS lebih praktis, soalnya hampir selalu bawa HP. Jadi nggak perlu cari uang pas atau takut uang kembalian kurang,” ujar salah satu mahasiswa yang menggunakan QRIS dalam transaksi sehari-hari.

Selain praktis, pembayaran menggunakan QRIS juga membuat pengguna dapat mengetahui jumlah uang yang dikeluarkan melalui riwayat transaksi pada aplikasi. Hal ini dapat membantu sebagian pengguna dalam melihat kembali pengeluaran mereka.

Meski demikian, penggunaan QRIS bukan berarti membuat uang tunai sepenuhnya ditinggalkan. Cash masih digunakan dalam kondisi tertentu, terutama ketika berada di tempat yang belum menyediakan pembayaran digital atau ketika terjadi kendala pada jaringan maupun aplikasi pembayaran.

Karena itu, sebagian Gen Z masih memilih membawa sedikit uang tunai sebagai cadangan. QRIS menjadi pilihan utama untuk transaksi yang memungkinkan, sedangkan uang tunai digunakan ketika pembayaran digital tidak dapat dilakukan.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan kebiasaan dalam cara masyarakat melakukan transaksi. Bagi Gen Z, pembayaran digital seperti QRIS tidak hanya menjadi alternatif dari uang tunai, tetapi sudah menjadi salah satu bagian dari aktivitas sehari-hari.

Perubahan tersebut juga menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi ikut memengaruhi gaya hidup generasi muda. Transaksi yang sebelumnya membutuhkan uang fisik kini dapat dilakukan hanya melalui smartphone.

Pada akhirnya, baik QRIS maupun uang tunai masih memiliki fungsi masing-masing. QRIS menawarkan kemudahan dan kepraktisan, sementara uang tunai tetap menjadi pilihan ketika pembayaran digital belum tersedia. Bagi Gen Z, keduanya dapat digunakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan dalam melakukan transaksi sehari-hari.