RAPBN 2027: APBN sebagai Alat Perjuangan Mendorong Lompatan Besar Indonesia

Pejabat Fungsional Pembina Teknis Perbendaharaan Negara Terampil pada KPPN Cirebon
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fahmi Nurul Islam Kosasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih dibayangi perang dagang, konflik geopolitik, tekanan nilai tukar, dan tingginya suku bunga internasional, pemerintah memilih mengajukan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dengan pendekatan yang berbeda. APBN tidak hanya diposisikan sebagai instrumen fiskal, tetapi juga sebagai "alat perjuangan" negara untuk menjawab kebutuhan rakyat dan mempercepat transformasi Indonesia.
Pesan tersebut menjadi benang merah dalam Nota Keuangan RAPBN 2027 yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI tanggal 14 Agustus 2026. Dalam dokumen tersebut, pemerintah menegaskan bahwa setiap rupiah yang dikumpulkan negara harus kembali menjadi harapan bagi rakyat.
Langkah optimistis itu dilandasi oleh kondisi ekonomi nasional yang relatif kuat. Hingga Juli 2026, inflasi tercatat terkendali pada level 2,88 persen secara tahunan. Pertumbuhan ekonomi semester pertama 2026 mencapai 5,45 persen, menjadi yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Pada saat yang sama, pendapatan negara tumbuh 21,3 persen dan belanja negara meningkat 18,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara defisit APBN tetap terjaga di level 0,91 persen terhadap PDB.
Fondasi tersebut menjadi pijakan pemerintah dalam menyusun RAPBN 2027 yang lebih ekspansif. Pendapatan negara ditargetkan mencapai Rp3.426 triliun, meningkat dibandingkan target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun. Belanja negara direncanakan sebesar Rp4.097,2 triliun, sedangkan pembiayaan anggaran diproyeksikan sebesar Rp671,2 triliun atau setara 2,40 persen terhadap PDB. Angka ini lebih rendah dibandingkan outlook defisit APBN 2026 sebesar 2,68 persen terhadap PDB, menunjukkan komitmen menjaga keberlanjutan fiskal meskipun belanja terus ditingkatkan.
Pemerintah juga menetapkan asumsi dasar ekonomi yang cukup optimistis. Pertumbuhan ekonomi 2027 dipatok sebesar 6 persen, lebih tinggi dibanding target 5,4 persen pada APBN 2026. Inflasi dijaga pada level 2,5 persen, nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.500 per dolar AS, sementara harga minyak mentah Indonesia ditetapkan sebesar USD75 per barel.
Namun yang menarik dari Nota Keuangan RAPBN 2027 bukan hanya angka-angka makro tersebut. Pemerintah menggariskan strategi pembangunan yang lebih konkret melalui delapan Klaster Program Kerja Prioritas Nasional, yaitu kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur dan perumahan, ekonomi kerakyatan dan desa, serta penurunan kemiskinan. Seluruh program itu didukung oleh penguatan pertahanan, penegakan hukum, tata kelola, digitalisasi, dan diplomasi ekonomi.
Di sektor kesehatan, pemerintah meluncurkan agenda besar berupa renovasi 10.000 puskesmas yang tersebar di 7.285 kecamatan mulai tahun 2027 dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp4 miliar per unit. Selain itu, akan dibangun 514 laboratorium kesehatan masyarakat pada seluruh kabupaten/kota dan merevitalisasi 441 rumah sakit umum daerah. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat layanan kesehatan dasar hingga layanan rujukan di seluruh wilayah Indonesia.
Sektor pendidikan juga memperoleh perhatian besar. Pemerintah menargetkan percepatan renovasi sekolah pada periode 2027-2028 yang disebut sebagai program renovasi sekolah terbesar dalam sejarah Indonesia. Targetnya, seluruh sekolah di Indonesia berada dalam kondisi baik, aman, bersih, dan layak belajar paling lambat pada 2029.
Di bidang ekonomi, sejumlah kebijakan baru disiapkan untuk memperkuat daya saing nasional. Pemerintah berencana mengoperasikan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis mulai 1 Januari 2027 yang berada di bawah pengawasan OJK. Kehadiran bursa tersebut diharapkan mampu menciptakan referensi harga komoditas nasional sehingga Indonesia tidak lagi sekadar menjadi price taker di pasar global.
Pemerintah juga mendorong optimalisasi aset BUMN yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Skema kerja sama dengan sektor swasta akan dilakukan melalui proses yang terbuka, kompetitif, dan akuntabel, dengan tetap menjaga kepemilikan strategis negara.
Pada sektor energi, pemerintah menyiapkan program pembangunan energi surya hingga 100 gigawatt dan penghentian bertahap pembangkit listrik tenaga diesel. Langkah ini diproyeksikan menghasilkan potensi penghematan biaya produksi listrik hingga Rp73,9 triliun per tahun.
Selain itu, pemerintah juga mengusung pembentukan Indonesia Financial Center di Jakarta dan Bali sebagai pusat keuangan, investasi, teknologi finansial, arbitrase, dan penyelesaian sengketa komersial bertaraf internasional. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Indonesia bagi arus modal global.
Pada akhirnya, Nota Keuangan RAPBN 2027 memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada menjaga stabilitas fiskal, tetapi juga berupaya melakukan lompatan pembangunan melalui berbagai program berskala besar. Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Keberhasilan RAPBN 2027 akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga efektivitas belanja, meningkatkan kualitas tata kelola, serta memastikan setiap rupiah APBN benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bagi Kementerian Keuangan dan seluruh unit vertikalnya, termasuk Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN), RAPBN 2027 menjadi momentum penting untuk memastikan APBN terus bekerja sebagai instrumen pembangunan. Sebab pada akhirnya, APBN bukan sekadar kumpulan angka dalam dokumen negara, melainkan sarana nyata untuk menghadirkan layanan publik yang lebih baik, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mempercepat terwujudnya Indonesia yang maju dan berdaya saing.
