Konten dari Pengguna

Kenapa Idol Cewek Salah Dikit Bisa Jadi "Dosa Besar"?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Intan Aulia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Ilustrasi dari AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi dari AI

Saat ini lagi nge trend semua serba K-pop tapi tidak banyak fans newbie tahu kalau dunia K-pop bikin geleng-geleng kepala: idol perempuan bisa langsung dihujat habis-habisan cuma karena kesalahan kecil, sementara idol pria yang terlibat kontroversi lebih serius masih ada segelintir oknum yang membela, banyak suara justru buru-buru bikin tagar di media sosial seperti X. Ekspresi datar dicap sombong. Pakaian berani dicap vulgar. Satu kesalahan kecil bisa jadi pembullyan.

Ini bukan sekadar siapa yang banyak disukai, tapi ini soal siapa yang lebih mudah dihakimi. Ketika perempuan melakukan kesalahan kecil, kebanyakan sering langsung diberi label buruk dan diserang tanpa ampun. Ketika laki-laki melakukan kesalahan besar justru sering diberi ruang untuk "belajar" ,"bangkit lagi" atau "hanya khilaf". Padahal baik idol perempuan atau laki-laki mereka sama-sama manusia yang punya hati dan sama-sama harus bertanggung jawab apa yang diperbuat.

Jennie BLACKPINK mungkin salah satu contoh yang menonjol sekali. Ekspresi wajah yang tidak selalu ceria selalu dicap sebagai antagonis, arogansi, sombong, angkuh. Gaya berpakaian yang berani sering jadi bahan kritik. Bahkan saat melakukan hal kecil reaksi netizen global bisa jauh lebih panas ketimbang idol pria terlibat kontroversi. Temuan ini bukan cuma perasaan fansnya saja. Bahkan, penelitian tentang wacana penggemar K-pop menemukan bahwa idol perempuan lebih sering menjadi sasaran ejekan yang berbau seksual dan merendahkan, sementara idol pria lebih sering dikritik soal penampilan. Artinya, perempuan tidak hanya dinilai dari karya, tetapi juga dari tubuh, gaya, dan kehidupan pribadinya.

Masalahnya, kritik seperti ini sering dibungkus dengan alasan peduli. Katanya demi menjaga moral, nama grup, atau menjaga nama baik fandom. Padahal sudah jelas kalau perempuan diberi standar yang lebih ketat. Dia harus cantik, tapi tidak boleh menonjol dari member yang lain. Harus ekspresif, tapi tidak boleh dianggap sombong. Harus berani, tapi tidak boleh disebut vulgar.

Gejala Fanatisme ini sampai diangkat ke layar. Dalam drama I Dol I, kehidupan idol digambarkan sebagai dunia tanpa privasi: ada sasaeng yang menguntit, tekanan untuk selalu sempurna, dan publik yang cepat menghakimi begitu skandal muncul. Drama ini memang fiksi, tapi pesannya terasa nyata. Idol perempuan sering diperlakukan seolah harus hidup tanpa cela, sementara idol pria lebih diberi ruang untuk dimaklumi.

Tentu, tidak semua fans sifatnya seperti itu. Masih banyak yang kritis terhadap fanatisme dan berusaha menjaga ruang sosial media tetap sehat. Tapi masalahnya, suara paling keras sering bukan suara yang paling bijak. Ketika suara keras itu menang, standar ganda akan terus dianggap wajar. Padahal, keadilan bukan cuma memberi tempat yang sama untuk kesalahan yang berbeda. Buka juga memaafkan orang yang salah begitu saja. Keadilan berarti menilai seseorang dari apa yang benar-benar dia lakukan bukan dari gender, penampilan, atau asumsi liar yang belum tentu benar.

Sudah saatnya kita menjadi fans yang sehat, berhenti memperlakukan idol perempuan seperti malaikat tanpa dosa. Mereka boleh lelah, boleh tampil sesuai selera, boleh membuat kesalahan, dan boleh tidak selalu tersenyum saat konser. Kalau kita benar-benar mengaku mengidolakan mereka, cintailah mereka sebagai manusia bukan sebagai figur yang harus sesuai dengan standar kita.