Lawang: Wilayah Potensial Penghasil Gula Tebu Saka di Indonesia

Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fayrusatul Qolbi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nagari Lawang di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dikenal dengan tanaman tebu. Bahkan, tidak heran kita akan dengan mudah menemui penjual minuman sari tebu dengan tulisan "Tebu Asli Lawang" atau "Tebu Lawang". Inilah yang akhirnya membuat masyarakat memutar otak mengelola air tebu menjadi komoditas yang lebih bernilai yaitu Gula Saka atau Gula Merah.
Terletak di ketinggian 1.250 mdpl, daerah ini mengolah tebu lokal menjadi gula merah khas yang disebut gula saka, berbeda dengan gula aren dari tanaman nira yang lebih populer. Terdapat sekitar 55 kilang pengolahan di wilayah ini, mulai dari yang masih menggunakan metode tradisional dengan bantuan tenaga kerbau hingga yang sudah menerapkan teknologi modern. Proses pembuatan gula saka di Lawang merupakan warisan budaya yang telah turun-temurun, menghasilkan produk dengan cita rasa khas yang belum banyak dieksplorasi.
Sayangnya, gula saka Lawang masih kalah terkenal dibanding komoditas lain seperti kopi arabika atau cengkeh dari daerah yang sama. Minimnya promosi, akses pasar yang terbatas, dan kurangnya inovasi produk menjadi tantangan utama dalam pengembangannya. Padahal, dengan sentuhan pengemasan yang lebih modern dan strategi pemasaran yang tepat, gula saka Lawang berpotensi menjadi produk unggulan baru Sumatera Barat. Pengembangan produk turunan seperti gula semut atau gula cair, serta integrasi dengan sektor pariwisata melalui wisata edukasi pembuatan gula tradisional, bisa menjadi solusi untuk meningkatkan nilai ekonominya.
Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mengangkat potensi gula saka Lawang. Kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan produk ini. Dengan upaya bersama, gula saka Lawang tidak hanya akan menjadi produk konsumsi bernilai ekonomi, tetapi juga sebagai warisan budaya yang patut dibanggakan. Harapannya, suatu saat nanti gula saka Lawang bisa setenar produk-produk khas Sumatera Barat lainnya dan dikenal luas hingga ke pasar nasional maupun internasional.
