Pesbukers dan Pelajaran Penting tentang Kualitas Tayangan TV

mahasiswa universitas pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari faisal ferliandy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kasus teguran KPI terhadap program Pesbukers menjadi pengingat bahwa hiburan di televisi harus tetap memperhatikan kualitas isi dan perlindungan penonton

Televisi masih menjadi salah satu media hiburan yang dikenal masyarakat Indonesia. Berbagai program komedi hadir untuk menghibur penonton melalui lawakan, interaksi antarpengisi acara, dan situasi yang mengundang tawa. Salah satu program yang pernah populer adalah Pesbukers, yang ditayangkan oleh ANTV.
Namun, popularitas sebuah program tidak selalu berarti bahwa seluruh isi tayangannya sudah sesuai dengan standar penyiaran. Program Pesbukers pernah mendapatkan teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terkait materi tayangan, termasuk penggunaan kata kasar dan persoalan perlindungan anak serta remaja.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa membuat program hiburan bukan hanya tentang menghadirkan kelucuan, tetapi juga menjaga kualitas konten agar sesuai dengan aturan dan dapat dinikmati oleh penonton secara bertanggung jawab.
Hiburan Harus Tetap Memiliki Batas
Program komedi membutuhkan kreativitas agar penonton tidak merasa bosan. Humor dapat dibangun melalui dialog, permainan, parodi, karakter yang unik, dan kejadian sehari-hari yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Sayangnya, apabila kreativitas terlalu bergantung pada kata-kata kasar, penghinaan, atau tindakan yang tidak pantas, kualitas hiburan dapat dipertanyakan. Komedi seharusnya mampu membuat penonton tertawa tanpa harus merendahkan orang lain atau menampilkan perilaku yang berisiko memberikan contoh buruk.
Karena itu, tim produksi perlu memastikan bahwa setiap materi yang ditampilkan telah melalui proses pemeriksaan sebelum disiarkan.
Pentingnya Memilih Waktu Tayang
Selain isi program, waktu penayangan juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan televisi. Stasiun televisi perlu memahami siapa target penontonnya, kapan mereka biasanya menonton, dan apakah materi program sesuai dengan kelompok usia yang mungkin mengaksesnya.
Dalam pemrograman media, penjadwalan bukan sekadar memilih jam dengan potensi jumlah penonton yang tinggi. Jadwal juga harus mempertimbangkan karakteristik program, klasifikasi usia, dan ketentuan penyiaran yang berlaku.
Memindahkan program ke jam yang lebih malam saja tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila materi tayangannya masih bermasalah. Oleh sebab itu, perbaikan konten dan penyesuaian jadwal perlu dilakukan secara bersamaan.
Apa yang Perlu Diperbaiki?
Ada beberapa langkah yang dapat diterapkan oleh pengelola program hiburan televisi.
Pertama, memperkuat pemeriksaan naskah dan rekaman sebelum tayang. Dialog, adegan, dan improvisasi pengisi acara perlu dievaluasi agar tidak bertentangan dengan standar penyiaran.
Kedua, mengembangkan humor yang lebih kreatif. Permainan, parodi, tantangan, dan cerita keseharian dapat menjadi alternatif untuk menghadirkan hiburan tanpa bergantung pada materi yang berpotensi menimbulkan masalah.
Ketiga, menyesuaikan jadwal dengan target penonton dan klasifikasi program. Pengelola harus memastikan bahwa waktu tayang dan isi program saling sesuai.
Keempat, melakukan evaluasi secara berkala. Keberhasilan program tidak cukup dinilai dari jumlah penonton, tetapi juga perlu mempertimbangkan kualitas tayangan, tanggapan masyarakat, dan kepatuhan terhadap regulasi.
Penonton Juga Memiliki Peran
Masyarakat tidak hanya berperan sebagai penikmat tayangan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengawasan kualitas penyiaran. Penonton dapat menyampaikan kritik secara bertanggung jawab apabila menemukan tayangan yang dinilai tidak pantas atau tidak sesuai dengan ketentuan.
Masukan dari masyarakat dapat menjadi bahan evaluasi bagi stasiun televisi untuk memperbaiki format program dan memahami harapan audiens.
Pada akhirnya, program hiburan yang baik bukan hanya program yang berhasil menarik perhatian, melainkan juga mampu mempertahankan kreativitas, menghormati penonton, dan mematuhi aturan penyiaran.
Kasus Pesbukers memberikan pelajaran bahwa kualitas tayangan harus menjadi bagian utama dari strategi pemrograman televisi. Dengan perencanaan jadwal yang tepat, pengawasan konten yang kuat, dan kreativitas yang bertanggung jawab, program hiburan dapat tetap menarik tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat.
Referensi:
* Komisi Penyiaran Indonesia, dokumentasi teguran terhadap program Pesbukers pada 2018.
* Komisi Penyiaran Indonesia, dokumentasi teguran terhadap program Pesbukers pada 2019.
* Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
