Konten dari Pengguna

Kafe sebagai Ruang Bersama, Antara Gaya Hidup dan Kebutuhan Berkumpul Anak Muda

Fajar Ananta

Fajar Ananta

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fajar Ananta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kafe kini hadir di hampir setiap sudut kota, dan hampir selalu ramai oleh anak muda. Di media sosial, foto es kopi susu berlatar interior estetik dan video "Work From Cafe" muncul nyaris setiap hari. Di kafe yang sesungguhnya, sebagian pengunjung tenggelam di depan laptop, sementara yang lain mengobrol berjam-jam bersama kawan sampai larut malam. Generasi yang lebih tua sering membaca gejala ini dengan curiga. Anak muda dicap boros, digerakkan FOMO, dan gemar bergaya hidup hedonis. Tetapi apakah kebiasaan ini benar-benar bisa dijelaskan hanya lewat konsumerisme?

Ketika ruang publik tidak mampu menampung, Oldenburg (1989) memperkenalkan gagasan third place. Rumah adalah ruang pertama, sekolah atau kantor ruang kedua, dan manusia masih memerlukan ruang ketiga untuk bersosialisasi, melepas lelah, serta membangun komunitas tanpa sekat jabatan. Pertanyaannya, apakah kota kita menyediakan ruang semacam itu bagi anak muda? Taman kota kerap kurang terawat, tempat duduknya minim, tidak ada akses internet, dan rasa amannya tidak selalu terjamin. Perpustakaan modern pun belum tersebar merata. Di celah inilah kafe masuk dengan pendingin ruangan, Wi-Fi yang cepat, dan colokan listrik. Karena itu, segelas kopi seharga tiga puluh ribu rupiah lebih tepat dibaca sebagai biaya sewa tempat duduk yang aman dan nyaman, bukan semata harga minuman.

Cara bekerja dan belajar yang ikut bergeser, faktor lain datang dari perubahan pola kerja dan belajar. Ekonomi gig, kerja lepas, dan tugas kuliah yang menuntut kolaborasi daring membuat fungsi kafe melebar. Ia tidak lagi sekadar tempat menghabiskan waktu, tetapi berperan sebagai ruang kerja bersama yang informal. Ada pula sisi emosionalnya. Di tengah tekanan hidup yang tinggi dan meluasnya rasa kesepian setelah pandemi, berkumpul bersama teman di kafe menjadi jalan untuk melepas penat. Bagi banyak anak muda, itu cara merawat kesehatan sosial mereka.

Tiga langkah yang bisa diambil

Meski begitu, kebiasaan ini bisa berbalik menjadi beban keuangan bila tidak dikelola. Ada tiga langkah untuk menjaga keseimbangannya.

Pertama, literasi finansial. Anak muda perlu memilah antara kebutuhan akan ruang berinteraksi dan dorongan gengsi. Nongkrong bukan hal terlarang, asalkan sesuai anggaran. Jangan sampai kopi mahal yang dibeli tiap hari demi pengakuan sosial memakan uang untuk kebutuhan pokok dan tabungan.

Kedua, menagih perbaikan ruang publik. Kafe yang selalu penuh sebaiknya dibaca sebagai teguran bagi pemerintah daerah. Publik perlu terus mendorong dan mengawasi penyediaan ruang terbuka hijau, perpustakaan, dan pusat kreatif dengan internet, listrik, serta keamanan yang memadai. Bila ruang publik yang gratis sama nyamannya dengan kafe, anak muda akan punya pilihan yang lebih ringan di kantong.

Ketiga, menghidupkan interaksi yang bermakna. Saat berkumpul di

Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi / Fajar Ananta

kafe, kurangi phubbing, yaitu sibuk dengan gawai masing-masing sambil mengabaikan teman di depan mata. Gunakan waktu itu untuk berdiskusi dan membangun relasi yang nyata, bukan sekadar bertukar konten.

Ruang ketiga jangan berubah jadi jebakan, budaya nongkrong di kafe berada di titik temu antara gaya hidup, tuntutan zaman, dan minimnya ruang publik. Kita tidak perlu memusuhinya, tetapi juga tidak boleh larut. Ruang sosial semestinya menjadi tempat kita bertumbuh, bukan tempat dompet kita habis.