Konten dari Pengguna

Politisasi Agama di Balut Ibadah Haji: Membaca Tema "Kelok Jalan Menuju Engkau"

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azmi Aqil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada cerpen yang menyimpan kegelisahannya di balik hal yang tampak sepele: gelar. Dalam "Kelok Jalan Menuju Engkau" karya Ahmadul Faqih Mahfudz, kegelisahan itu berputar di sekitar dua huruf—K atau K.H.—dan satu kata yang sering dianggap murni: haji. Namun begitu dibaca lebih dalam, cerpen ini sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar titel keagamaan: bagaimana agama, dan simbol-simbolnya, bisa ditunggangi kepentingan politik dan kekuasaan.

Tema Menurut Robert Stanton: Titik Berangkat

Untuk membuktikan itu, saya akan memakai kerangka yang ditawarkan Robert Stanton dalam Teori Fiksi. Bagi Stanton, tema merupakan "aspek cerita yang sejajar dengan 'makna' dalam pengalaman manusia" (hlm. 36)—bukan sekadar rangkuman moral yang bisa ditempel di akhir cerita, melainkan makna yang harus digali dari detail, konflik, dan pilihan-pilihan pengarang dalam menyusun cerita.

Kenapa Konflik adalah Pintu Masuk

Stanton menyarankan cara paling efektif mengenali tema sebuah cerita: dengan mengamati konflik utamanya, sebab konflik itu biasanya memuat sesuatu yang berguna jika benar-benar dirunut (hlm. 42). Ia bahkan memberi contoh dengan novel 1984 karya Orwell, di mana konflik antara sepasang kekasih dan Partai justru mengarahkan pembaca pada tema, bukan tema totalitarianisme atau cinta itu sendiri yang berdiri sendiri-sendiri.

Prinsip ini pas sekali diterapkan pada "Kelok Jalan Menuju Engkau". Konflik utama cerpen ini bukan sekadar "Kiai Badrul ingin naik haji", melainkan pertarungan antara menjaga kemandirian agama dan tergoda—atau dipaksa terjebak—oleh jalur-jalur yang disediakan kekuasaan. Sejak kalimat pembuka cerpen, konflik ini sudah ditegaskan lewat dialog Kiai Jubni:

"Mumpung menterinya masih orang kita, Kiai. Kapan saja, peta politik bisa berubah, dan semua ini bisa hangus."

Kalimat ini bukan tawaran ibadah biasa. Ia adalah tawaran politik yang dibungkus bahasa keagamaan—haji yang difasilitasi bukan karena kebutuhan spiritual, melainkan karena "menterinya masih orang kita". Agama, di sini, sudah menjadi alat tukar kekuasaan.

Gelar Keagamaan sebagai Komoditas Sosial

Stanton mengingatkan, semua elemen cerita—peristiwa, karakter, bahkan objek yang tampak tidak relevan—turut mendukung kehadiran tema, sehingga keseluruhan cerita bisa terbentang gamblang bila relevansinya dikenali (hlm. 43). Salah satu elemen “Tidak relevan" dalam cerpen ini adalah lelucon soal titel K. dan K.H. antar-kiai:

"Kiai harus K.H., kalau hanya K., itu pelat nomor kendaraan," ledek Kiai Sonhaji.

Sekilas ini hanya banyolan pesantren. Tapi ejekan ini justru memperlihatkan bagaimana status keagamaan (gelar haji) telah bergeser jadi penanda kelas sosial yang diperebutkan, bukan lagi murni ibadah. Tokoh utama bahkan mengakui secara jujur bahwa dorongan berhaji sebagiannya didorong oleh keinginan mengakhiri cibiran seperti "kiai persamaan" dan tuduhan bahwa gelar kiainya didapat lewat jalur pernikahan, bukan keilmuan. Di titik ini, agama sudah bercampur dengan pertarungan gengsi dan validasi sosial.

Ironi ini dipertajam lewat dialog tokoh utama dengan istrinya, Ning Husna, tentang gunjingan para nyai:

"...para nyai menggojlok Ummi dengan berkata Aba sudah naik haji hanya karena Ummi sudah berhaji?"

Sekali lagi, ibadah haji tidak berdiri sebagai laku spiritual semata, melainkan mata uang sosial yang nilainya ditentukan oleh siapa yang memberi, siapa yang menerima, dan bagaimana orang lain menilainya.

Ketika Penolakan Berujung Petaka

Bagian paling menegaskan tema politisasi agama justru muncul di akhir cerita, saat terungkap identitas asli di balik penipuan haji mandiri yang menimpa tokoh utama:

"Bram, ternyata suruhan Haji Subroto... Haji Subroto tak suka keberadaanku karena aku gigih menggerakkan masyarakat untuk menolak tambang emas di wilayahku."

Di sinilah pengarang meletakkan detail yang, mengikuti prinsip Stanton, tampak sekilas tidak relevan dengan alur utama tapi sebetulnya kunci untuk memahami keseluruhan cerita (hlm. 42): perlawanan sang kiai terhadap tambang emas. Penipuan haji bukan kejahatan acak, melainkan balas dendam terselubung dari kekuatan ekonomi-politik yang merasa dirugikan oleh sikap independen sang kiai. Ibadah yang paling sakral dalam Islam—rukun Islam kelima—dijadikan senjata untuk menjatuhkan seorang tokoh agama yang menolak tunduk pada kepentingan tambang.

Tokoh Muhdari, yang diceritakan sebagai kilas balik, memperkuat pola yang sama: seseorang bisa membangun status "Kiai Haji" di masyarakat semata dari kebohongan yang dirawat bertahun-tahun, karena masyarakat menilai kesalehan dari simbol-simbol lahiriah (gamis putih, kurma, sorban), bukan substansi. Ini menunjukkan bahwa politisasi dan komodifikasi simbol agama bukan hanya dilakukan aktor luar (menteri, pengusaha), tapi juga dilanggengkan oleh cara masyarakat sendiri memberi makna pada simbol tersebut.

Menguji dengan Kriteria Interpretasi Stanton

Stanton menegaskan, interpretasi yang baik harus konsisten dengan detail-detail yang menonjol dalam cerita dan tidak boleh terpaku hanya pada sebagian bukti sambil mengabaikan bagian lain yang tampak kontradiktif (hlm. 44). Tema politisasi agama dalam cerpen ini teruji oleh kriteria tersebut karena hampir setiap detail—tawaran Kiai Jubni, ejekan gelar K.H., kecemasan Ning Husna soal gunjingan, hingga pengkhianatan Haji Subroto lewat tambang emas—mengarah pada satu benang merah yang sama: agama yang terus-menerus ditarik ke ranah kekuasaan, uang, dan gengsi, sementara tokoh utama berusaha—dengan ongkos yang mahal—mempertahankan agama sebagai wilayah yang independen.

"Kelok Jalan Menuju Engkau" akhirnya bukan sekadar kisah tentang niat suci yang tertunda oleh penipuan. Ia adalah potret bagaimana institusi keagamaan—gelar kiai, ibadah haji, bahkan pesantren itu sendiri—senantiasa berada dalam pusaran tarik-menarik kepentingan politik dan ekonomi. Dengan kerangka tema Robert Stanton, kita diajak melihat bahwa "kelok jalan" dalam judul cerpen ini bukan cuma jalan menuju Tanah Suci, melainkan juga jalan berliku yang harus ditempuh siapa pun yang ingin menjaga agama tetap murni di tengah dunia yang gemar memanfaatkannya.

DAFTAR PUSTAKA

Stanton, R. (2012). Teori fiksi Robert Stanton (terj. Sugihastuti & Rossi Abi Al irsyad). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Mahfudz, Ahmadul Faqih. (2026). Kelok Jalan Menuju Engkau. Kumparan. Diakses dari https://kumparan.com