Konten dari Pengguna

Saat yang Saleh Tak Lagi Patuh: Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azmi Aqil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu pertanyaan yang sering mengendap di benak banyak orang sejak kecil, tetapi jarang berani diucapkan: apa yang akan terjadi jika aku berhenti menurut? Pertanyaan inilah yang dijadikan Eka Kurniawan sebagai jantung novelnya, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (2024), yang terbit setelah ia menghilang dari dunia kepenulisan selama delapan tahun. Bagi saya, novel ini bukan sekadar kisah seorang anak yang melawan ayahnya. Ia memperlihatkan bahwa kuasa dalam keluarga tidak ikut lenyap ketika pemegangnya telah tiada.

Prolog yang Menggugat

Kisah dimulai dengan sebuah prolog yang langsung menghantam pembaca. Tokohnya, Sato Reang, pada suatu hari berhenti pergi ke masjid. Ia juga berhenti salat dan tidak lagi berdoa sebelum tidur. Ia makan dengan tangan kiri dan masuk ke rumah tanpa mengucapkan salam. Anehnya, tidak ada petir yang menyambar dan tidak ada gempa yang mengguncang. Sato tetap bisa makan dengan kenyang dan tidur dengan nyenyak.

Adegan itu tampak sederhana, tetapi pertanyaan di baliknya sangat besar. Jika aturan dilanggar dan tidak ada hukuman yang datang, dari manakah sesungguhnya kekuatan aturan itu berasal? Eka tidak menjawabnya dengan khotbah. Ia membiarkan pembaca menyaksikan sendiri bahwa ancaman yang selama ini menopang kepatuhan ternyata tidak pernah tiba.

Judul novel ini bekerja dengan cara yang sama. Anjing yang mengeong dan kucing yang menggonggong adalah pemandangan yang ganjil, dan dari keganjilan itulah pertanyaannya muncul. Apakah sesuatu benar karena memang demikian adanya, atau hanya karena kita telanjur terbiasa menganggapnya benar?

Kesalehan sebagai Beban

Setelah prolog, cerita bergerak mundur ke masa kecil Sato di sebuah kota kecil di Jawa. Ia adalah anak yang gemar mengadu jangkrik, bermain sepak bola, dan melakukan kenakalan khas anak-anak seusianya. Hari-harinya berjalan riang sampai ia disunat. Saat itulah ayahnya, seorang lelaki yang taat, menyatakan bahwa sudah tiba waktunya Sato menjadi anak saleh. Sejak hari itu, menurut sinopsis dari penerbit, kepalanya menjadi riuh dan penuh keributan.

Di bagian inilah, menurut saya, novel ini berbicara dengan paling jujur. Kesalehan tidak hadir sebagai pilihan yang tumbuh dari dalam diri Sato, tetapi sebagai tuntutan yang dijatuhkan dari luar. Secara lahiriah ia menurut, bahkan berusaha memahami ayahnya. Namun batinnya menolak aturan ibadah yang terasa kaku. Ia merindukan kesenangan sehari-hari dan kebebasan untuk membentuk jati dirinya sendiri. Sato pun menjadi tokoh yang terbelah, patuh di luar tetapi memberontak di dalam. Banyak pembaca yang dibesarkan dengan tuntutan untuk menjadi “anak baik” tentu akan mengenali keterbelahan itu.

Dalam perjalanan hidupnya, Sato dipertemukan dengan Jamal, teman sekelas yang rajin salat lima waktu dan tekun mengaji. Jamal menjadi cermin yang tidak pernah diminta Sato. Ia dipaksa berteman dengan Jamal, padahal ia membencinya, dan paksaan itu hanyalah satu dari serangkaian penghinaan yang diterimanya dari sang ayah. Pada suatu ketika, Sato menyarankan agar Jamal berbuat sedikit dosa saja, sebab pahalanya sudah menumpuk. Ucapan itu terdengar lucu, tetapi juga getir. Di baliknya tersimpan kemuakan seorang anak terhadap kesalehan yang dihitung layaknya saldo tabungan.

Pemberontakan yang Tak Kunjung Usai

Pemberontakan Sato kemudian mewujud dalam tindakan nyata. Secara diam-diam ia membakar bioskop di kotanya, dan dari perbuatan itu ia memperoleh semacam pelepasan batin. Meskipun demikian, novel ini menolak memberikan penyelesaian yang mudah. Kebebasan tidak datang hanya karena aturan telah dilanggar. Bahkan, kebebasan itu tidak datang ketika sang ayah meninggal dunia secara mendadak.

Tubuh Sato ternyata masih menyimpan ingatan akan irama ibadah yang dulu dipaksakan kepadanya. Wajahnya yang mirip dengan wajah sang ayah membuatnya merasa tetap dikuasai dari alam yang lain. Bagi saya, inilah gagasan terkuat dalam novel ini: wibawa orang tua tidak berakhir bersama kematiannya. Ia menetap dalam kebiasaan, dalam tubuh, bahkan dalam bayangan di cermin.

Pesan tersebut terasa relevan hingga ke luar dunia fiksi. Pola asuh yang menekan, tanpa ruang untuk berdiskusi atau berkompromi, dapat meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada usia orang yang mengasuh. Sebagian pembaca menafsirkan novel ini sebagai kritik terhadap pola asuh otoriter, dan tafsir itu menurut saya cukup masuk akal. Di kalangan akademisi, novel ini juga dibaca melalui strategi naratif dan perlawanan terhadap pembentukan identitas keagamaan.

Bentuk yang Mengantarkan Gagasan

Gagasan-gagasan itu terasa utuh karena cara Eka menuturkannya. Ia sengaja memakai sudut pandang orang ketiga sekaligus orang pertama untuk menceritakan Sato. Pada satu saat, Sato terasa sangat dekat melalui kata “aku”. Pada saat lain, ia terasa berjarak melalui kata “ia”, seolah-olah ia sendiri sedang terpisah dari dirinya. Pergantian sudut pandang ini bukan sekadar permainan bentuk, melainkan cara untuk menghadirkan batin tokoh yang retak.

Humor Eka pun bekerja dengan cerdas. Gaya bertuturnya yang tajam dan blak-blakan tidak digunakan untuk menghindari persoalan berat, melainkan untuk mengantarkannya kepada pembaca. Karena itulah persoalan agama dan kekuasaan dalam keluarga dapat dibaca tanpa terasa menggurui. Meskipun berlatar kota kecil di Jawa, ulasan di The Tribune menilai novel ini memotret masa kanak-kanak dengan humor dan rasa haru, serta memiliki kerangka yang bersifat universal.

Tidak untuk Semua Orang

Tentu saja novel ini memiliki batas. Ia menyentuh persoalan agama dan kekuasaan orang tua dengan sangat terbuka, sehingga sebagian pembaca mungkin merasa tidak nyaman. Cakupannya pun lebih personal dan terpusat pada satu tokoh. Pembaca yang mengharapkan saga besar berlapis-lapis seperti Cantik Itu Luka sebaiknya menyesuaikan harapan.

Namun, menurut saya, keterbatasan cakupan itulah yang membuat pertanyaan dalam novel ini terasa dekat. Tidak ada kutukan dan tidak ada tokoh jahat yang besar. Yang ada hanyalah seorang anak, seorang ayah, dan aturan yang tidak pernah boleh dipertanyakan.

Pertanyaan yang Tertinggal

Sumber : Doc. Pribadi Azmi Aqil

Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong mengingatkan kita bahwa kebebasan batin tidak otomatis datang begitu aturan terlepas. Kadang, yang harus dibongkar bukan hanya larangan di luar diri, tetapi juga suara sang ayah yang telah bermukim di dalam diri.

Karena itu, bagi siapa pun yang pernah bertanya dalam hati mengapa sesuatu harus dilakukan hanya karena begitulah yang diajarkan, novel ini layak dibaca. Mungkin bukan untuk menemukan jawaban, melainkan untuk menyadari bahwa pertanyaan itu wajar untuk diajukan.