Membangun Kesadaran dan Kompetensi Manajemen pada Kalangan Pelajar

Mahasiswa universitas Pamulang angkatan 2025
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fandy Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah derasnya arus informasi dan ketatnya persaingan dunia kerja, kemampuan mengelola diri, waktu, dan sumber daya kerap luput dari perhatian pendidikan formal. Banyak pelajar pandai secara akademik, tetapi kesulitan menyusun prioritas, bekerja dalam tim, atau mengambil keputusan. Padahal, itulah inti dari manajemen.

Menjawab kebutuhan itu, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang, yang terdiri dari Fandy Gunawan Malau, Muhammad Dava Rahmadani, Muhammad Teguh Islam, dan Zulfathoni Akbar, melaksanakan kegiatan di SMA Islamiyah, Yayasan Darul Irfan, Sawangan, Depok, pada Senin, 26 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti 28 siswa dengan tema membangun kesadaran dan kompetensi manajemen di kalangan pelajar.
Manajemen Dimulai dari Diri Sendiri
Selama ini manajemen sering dianggap urusan perusahaan atau organisasi besar. Dalam kegiatan ini, siswa diajak melihat bahwa mereka sebenarnya sudah menjalankan fungsi-fungsi manajemen setiap hari: merencanakan jadwal belajar, mengatur uang saku, membagi peran dalam tugas kelompok, hingga mengevaluasi hasil ujian.
Pemahaman dasar inilah yang menjadi pintu masuk. Ketika siswa menyadari bahwa perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi adalah kebiasaan yang bisa dilatih, manajemen tidak lagi terasa sebagai konsep yang jauh dan rumit.
Lima Materi, Satu Benang Merah
Materi yang disampaikan mencakup lima topik yang saling berkaitan.
Pertama, manajemen waktu. Siswa dikenalkan pada pentingnya menyusun prioritas antara tugas sekolah, kegiatan organisasi, ibadah, dan waktu istirahat, agar tidak terjebak kebiasaan menunda.
Kedua, perencanaan tujuan. Siswa diajak merumuskan target jangka pendek dan jangka panjang, seperti prestasi belajar, rencana kuliah, atau cita-cita karier, serta langkah konkret untuk mencapainya.
Ketiga, kepemimpinan dan kerja sama tim. Materi ini menekankan bahwa kepemimpinan tidak hanya milik ketua kelas atau ketua OSIS, tetapi tentang tanggung jawab, komunikasi, dan kemampuan menghargai peran orang lain dalam kelompok.
Keempat, pengelolaan keuangan pribadi. Sebagai mahasiswa akuntansi, tim memanfaatkan latar keilmuannya untuk mengenalkan dasar pencatatan pemasukan dan pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membiasakan menabung sejak dini.
Kelima, dasar-dasar kewirausahaan. Siswa diperkenalkan pada cara melihat peluang, merencanakan usaha sederhana, dan menghitung modal serta keuntungan.
Metode penyampaian tidak hanya ceramah, tetapi juga diskusi, studi kasus, dan simulasi agar siswa terlibat langsung dan dapat mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari.
Mengapa Penting bagi Pelajar
Kompetensi manajemen menjadi bekal penting menghadapi tantangan abad ke-21. Dunia kerja kini menuntut keterampilan nonteknis seperti komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan pengambilan keputusan, di samping kemampuan akademik. Pelajar yang terbiasa mengelola diri sejak dini cenderung lebih disiplin, bertanggung jawab, dan siap beradaptasi dengan perubahan.
Literasi keuangan dasar juga semakin relevan. Pelajar hari ini hidup di tengah kemudahan transaksi digital, tawaran belanja daring, dan gaya hidup konsumtif. Tanpa kebiasaan mengatur keuangan, kemudahan itu mudah berubah menjadi pemborosan. Membekali mereka dengan kemampuan mencatat dan merencanakan keuangan sejak SMA merupakan investasi jangka panjang.
Bagi sekolah berbasis nilai keislaman seperti SMA Islamiyah, kompetensi ini sejalan dengan prinsip amanah, tanggung jawab, dan perencanaan yang baik dalam kehidupan. Mengelola waktu, harta, dan tanggung jawab dengan baik adalah bagian dari nilai yang sudah lama diajarkan, hanya kini dibingkai dengan keterampilan praktis.
Antusiasme Siswa
Para siswa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sangat antusias. Mereka aktif terlibat dalam diskusi dan simulasi, menunjukkan bahwa topik manajemen ternyata dekat dengan keseharian mereka. Antusiasme ini menjadi sinyal bahwa pelajar sebenarnya haus akan pengetahuan praktis yang bisa langsung diterapkan, bukan sekadar teori.
Menjembatani Kampus dan Sekolah
Bagi tim PKM, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar. Mahasiswa dituntut menerjemahkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah menjadi bahasa yang sederhana dan mudah dipahami pelajar. Proses ini mengasah kemampuan komunikasi sekaligus menumbuhkan kepekaan sosial, dua hal yang tidak selalu didapat dari ruang kuliah.
Ke depan, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah semacam ini perlu diperluas. Pengabdian kepada masyarakat tidak boleh berhenti pada kegiatan sehari, tetapi perlu menjadi jembatan berkelanjutan untuk menumbuhkan generasi muda yang sadar akan pentingnya mengelola hidup dan masa depannya.
Fandy Gunawan Malau, Muhammad Dava Rahmadani, Muhammad Teguh Islam, Zulfathoni Akbar
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang
