Menciptakan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang Aktif, Seru, Inovatif, dan Kolaboratif

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Faranida Aulia Rahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, mata pelajaran tersebut membuat sebagian dari kita beranggapan bahwa ini adalah "Mata pelajaran yang kurang menarik". Padahal kalau dipikir-pikir, bukan pelajarannya yang membosankan, tapi cara membawakannya. Sesungguhnya, pembelajaran ini dapat menjadi sangat menarik apabila disampaikan dengan pendekatan yang inovatif.
Bayangkan jika kita menjadi seorang guru melihat anak siswanya tidak bersemangat belajar, terlihat wajah jenuhnya saat kegiatan belajar. Hal ini pasti membuat kita merasa sedih dan bingung. Kenapa hal ini bisa terjadi? Mungkin bukan karena siswanya malas, tapi karena pola belajarnya yang masih satu arah, di mana siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan dan mengerjakan soal. Kalau terus seperti itu, wajar kalau suasana kelas terasa monoton. Apalagi di zaman sekarang yang teknologinya sudah canggih, wajar kalau siswa jadi lebih tertarik belajar lewat teknologi.
Sebagai seorang calon guru, kita juga perlu sadar kalau menciptakan suasana baru itu tidak mudah. Guru punya keterbatasan waktu, fasilitas, dan tuntutan kurikulum. Tapi justru di situlah tantangannya, bagaimana kita mengajar sesuai dengan perkembangan zaman. Pembelajaran konvensional mungkin sudah tidak terlalu relevan lagi bagi anak generasi sekarang. Oleh karena itu, sudah saatnya kelas bahasa dan sastra Indonesia bertransformasi menjadi ruang belajar yang aktif, seru, inovatif dan kolaboratif. Nah bagaimana caranya?
Mewujudkan Kelas yang Aktif
Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia perlu dirancang dengan memberikan ruang bagi siswa untuk terlibat secara aktif. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu siswa menemukan pengalaman belajar yang bermakna. Jika kelas aktif, siswa tidak lagi menjadi pendengar saja, tetapi ikut menjadi pelaku. Mereka berani bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapatnya tanpa takut salah. Misalnya, saat materi debat, guru bisa membuat mini kompetisi dengan topik yang dekat dengan siswa, seperti "enakan belajar online atau offline?". Jadi mereka dapat belajar struktur debat sambil dipraktikkan langsung.
Menciptakan Suasana Pembelajaran yang Menyenangkan
Seru dalam pembelajaran bukan berarti kita tidak mencapai tujuan belajar. Keseruan justru menjadi jembatan agar tujuan itu tercapai. Pembelajaran yang seru dapat diciptakan melalui kegiatan gamifikasi, kuis interaktif seperti di Quizizz atau Kahoot, belajar berperan, sampai belajar kolaboratif membuat iklan. Dengan begitu, siswa tetap memahami materinya, tapi dengan cara yang mereka sukai.
Mewujudkan Variasi Pembelajaran yang Inovatif
Pembelajaran yang inovatif membutuhkan kreativitas guru dalam memilih metode dan media yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru tidak harus selalu menggunakan cara yang sama. Di tengah perkembangan teknologi, kita bisa memanfaatkan video presentasi interaktif, kuis digital, dan film pendek sebagai media pendukung. Dalam pembelajaran sastra misalnya, siswa dapat menonton pementasan drama, kemudian mendiskusikan karakter tokoh dan pesan yang terkandung di dalamnya. Meskipun begitu, inovasi tidak selalu bergantung pada teknologi canggih. Keterbatasan fasilitas bukan halangan, karena permainan kata, kartu pertanyaan, diskusi kelompok, dan bermain peran tetap bisa menjadi alternatif yang menarik. Hal terpenting adalah kemampuan guru merancang kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kondisi siswa.
Penerapan Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia juga perlu memberikan ruang bagi siswa untuk berkolaborasi. Pembelajaran kolaboratif melibatkan siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Misalnya dalam kegiatan menulis, siswa dapat bekerja sama menyusun cerita pendek atau membuat majalah dinding bertema sastra. Setiap anggota kelompok bisa saling memberi ide dan membantu menyempurnakan hasil karya bersama. Dari situ mereka belajar menghargai pendapat orang lain.
Melalui kelas yang aktif, seru, inovatif, dan kolaboratif, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia tidak lagi dianggap membosankan. Justru dari sanalah siswa bisa belajar berpikir kritis, kreatif, dan lebih menghargai bahasa Indonesia itu sendiri.
