Saat Doa dan Dosa Duduk di Meja yang Sama

Mahasiswa uin Jakarta dari fakultas ilmu tarbiyah dan keguruan program studi pendidikan bahasa dan sastra indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fathan rizki destian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada cerpen yang enak dibaca kalau kita ikuti alurnya pelan-pelan, dari kalimat pertama sampai titik terakhir. "Lelaki yang Terus Berdoa" karya Andi Wirambara, yang terbit di Kompas pada 18 Maret 2026, adalah salah satunya. Yuk kita telusuri bareng, sambil sesekali berhenti untuk melihat apa yang sebenarnya sedang dibangun pengarangnya lewat teori unsur fiksi Burhan Nurgiyantoro (2013).
Malam yang Melankolis di Pekan Raya
Cerita dibuka dengan langit Jakarta yang "tampak melankolis, kelabu oleh mendung tipis yang berbaur dengan polusi." Di tengah suasana muram itu, ada keramaian Pekan Raya, ada band Slank yang mendendangkan lagu-lagu populer, dan ada pengumuman berulang tentang dompet kulit hitam yang hilang.
Pembukaan ini bukan sekadar latar. Nurgiyantoro menegaskan bahwa karya fiksi menampilkan dunia dalam kata, sebuah bangunan cerita yang sengaja dikreasikan pengarang untuk membawa pembaca masuk ke suasana tertentu sebelum konflik dimulai (Nurgiyantoro,2013: 29). Kontras antara "semarak lampu sorot" pesta rakyat dan kegelisahan orang-orang yang meraba kantong celana mereka sendiri sudah menaburkan benih tema besar cerpen ini: dunia yang gemerlap di permukaan, tapi penuh kecemasan di baliknya.
Lelaki yang Berjalan Pura-Pura Santai
Di luar kerumunan, muncul seorang lelaki berbandana motif bendera Amerika, berjalan pura-pura santai padahal kakinya masih gemetar. Dari sinilah pembaca sadar, dialah pelaku pencopetan yang tadi diumumkan lewat pengeras suara.
Lelaki ini masuk ke restoran cepat saji, memesan ayam goreng, lalu duduk sendiri di meja paling menyendiri. Sebelum makan, ia berdoa dua hal yang saling bertabrakan: memohon rezeki berlimpah untuk si pemilik dompet yang ia copet, sekaligus memohon ampun atas perbuatannya sendiri.
Di titik inilah moral cerita mulai terasa. Nurgiyantoro mengingatkan bahwa moral dalam fiksi adalah amanat yang disampaikan lewat sikap dan tingkah laku tokoh, bukan lewat ceramah langsung pengarang. (Nurgiyantoro, 2013: 430). Andi Wirambara tidak menuliskan "mencuri itu dosa" secara gamblang Ia membiarkan pembaca menyaksikan sendiri kejanggalan moral seorang pencopet yang masih sempat mendoakan korbannya, dan dari situ pembaca diajak menimbang sendiri, masih adakah nurani di balik kejahatan yang lahir dari keterpaksaan?
Kilas Balik ke Alasan Sebenarnya
Cerita lalu melompat mundur. Kita diberi tahu alasan lelaki ini datang ke Jakarta, yaitu janji kepada ibunya untuk membawa pulang sang adik yang kabur mengikuti seorang lelaki penuh koar. Ia berangkat dengan hati tak tentu, menahan air mata di depan ibunya, berdoa sepanjang perjalanan untuk keselamatan sang ibu.
Begitu sampai, ranselnya justru dicopet di terminal. Orang-orang di sekitarnya memilih tak peduli, "pura-pura tidak melihat, memilih tak ikut campur." Sejak saat itu" setiap langkah kakinya menciumi wajah lain dari Jakarta" gang sempit, rumah berhimpitan, televisi yang menyiarkan sorak Piala Dunia berbarengan dengan kabar bencana.
Di bagian inilah konflik cerpen mulai berlapis. Nurgiyantoro menyebut konflik sebagai unsur esensial yang menentukan kadar ketegangan sebuah cerita naratif (Nurgiyantoro, 2013: 178). Di sini setidaknya ada dua lapis konflik yang saling menumpuk: konflik antara lelaki itu dan kota Jakarta yang dingin serta tak berbelas kasih, dan konflik batin antara niat mulianya mencari sang adik dengan kenyataan bahwa ia sendiri mulai kehabisan cara untuk bertahan hidup.
Ditolak, Kehabisan Uang, dan Pilihan Terakhir
Pencarian sang adik berujung pada penolakan demi penolakan. Ia menemukan alamat, tapi pemilik warung di sana hanya menggeleng ketus:
"Memang dia siapanya gue? Sampai harus pamit segala!" Doanya, seperti dituliskan berulang dalam cerpen ini, "makin pendek, makin sunyi, seiring harapannya yang menipis.
Uangnya mulai tak cukup lagi untuk makan. Misi mulia mencari sang adik pelan-pelan direnungi sebagai "hasil dari emosi yang sesat." Di titik paling rendah inilah ia memanjat tembok Pekan Raya di malam hari, menyusup ke sudut paling minim cahaya, dan melihat kantong belakang tebal milik seorang lelaki lain.
Inilah klimaks yang mempertemukan tema dan konflik sekaligus. Tema besar cerpen ini, yaitu religiusitas yang tersesat di tengah keterpaksaan berbuat dosa, dan konflik batin tokoh yang telah dibangun sejak awal, bertemu tepat di adegan pencopetan kedua ini. Nurgiyantoro (2013) menyebut tema sebagai dasar yang selalu berkaitan dengan pengalaman hidup manusia seperti rasa takut dan pergulatan religius, dan momen inilah puncaknya: tokoh kita mencuri sambil hatinya sendiri menjerit menolak identitas itu (Nurgiyantoro, 2013: 32,113).
Doa yang Lupa Menyertakan Diri Sendiri
Cerita ditutup dengan lelaki itu kembali duduk di meja restoran, menyantap ayam gorengnya sambil "menunduk, memejamkan mata, dan kembali berdoa, lebih lirih dari sebelumnya." Ia membayangkan wajah ibunya tersenyum di kursi seberang.
Namun ada satu detail penting yang jadi kunci resolusi cerpen ini: ia lupa mendoakan kelancaran urusannya sendiri di Jakarta. Seluruh doanya habis untuk ibunya, untuk korban copetannya, tapi tidak untuk dirinya sendiri.
Detail kecil ini sebenarnya adalah amanat moral paling menyentuh dari keseluruhan cerpen, sekaligus penyelesaian dari konflik batin yang dibangun sejak awal. Tokoh ini tidak pernah benar-benar menang melawan Jakarta, tidak juga menang melawan kemiskinannya. Yang ia menangkan hanyalah satu hal kecil, yaitu tetap menjadi orang yang berdoa, meski doa itu sendiri sudah lupa cara mendoakan dirinya.
Apa yang Bisa Kita Bawa Pulang
Kalau dirunut dari orientasi sampai penutup, "Lelaki yang Terus Berdoa" sebenarnya bercerita tentang bagaimana niat baik bisa terkikis pelan-pelan oleh kota yang keras, sampai akhirnya yang tersisa hanya insting bertahan hidup dan doa yang makin lirih. Tema, moral, dan konfliknya tidak berdiri sendiri-sendiri, tapi tumbuh bersama sepanjang alur, seperti yang dijelaskan Nurgiyantoro (2013) tentang fiksi sebagai totalitas yang unsur-unsurnya saling menggantungkan satu sama lain.
Dan mungkin, itulah alasan cerpen ini terasa jujur. Ia tidak menyuruh kita menghakimi si pencopet, tapi mengajak kita bertanya: seberapa jauh kota bisa menekan seseorang sebelum nuraninya benar-benar patah?
Referensi
Nurgiyantoro, B. (2013). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Wirambara, A. (2026, 18 Maret). Lelaki yang Terus Berdoa. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/lelaki-yang-terus-berdoa
