Bahaya Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter

Mahasiswa S1-Keperawatan Universitas Airlangga
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fathinnisa Dyah Alifia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah mengalami sakit tenggorokan, batuk, atau demam, lalu memilih melakukan pengobatan mandiri dengan membeli antibiotik tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan? Kebiasaan penggunaan antibiotik tanpa resep dokter perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko penggunaan obat yang tidak tepat dan berkontribusi terhadap resistansi antibiotik.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization), resistansi antimikroba merupakan ancaman kesehatan global yang perlu ditangani bersama. Ketika muncul bakteri resistan, antibiotik tertentu dapat menjadi tidak efektif sehingga infeksi lebih sulit diobati. Oleh karena itu, penggunaan antibiotik secara bijak sangat penting untuk mencegah penyebaran resistansi antimikroba dan melindungi kesehatan masyarakat.
Apa Itu Resistansi Antibiotik dan Mengapa Berbahaya?
Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi akibat bakteri. Namun, antibiotik tidak dapat mengobati infeksi yang disebabkan oleh virus, seperti flu biasa. Oleh karena itu, batuk, pilek, atau demam tidak selalu membutuhkan antibiotik. Penyebab keluhan perlu dinilai terlebih dahulu oleh tenaga kesehatan agar pengobatan yang diberikan sesuai dengan kondisi pasien.
Resistansi antibiotik terjadi ketika bakteri tidak lagi dapat dibasmi atau dihambat secara efektif oleh antibiotik yang sebelumnya mampu mengatasinya. Akibatnya, infeksi akibat bakteri resistan dapat menjadi lebih sulit ditangani, membutuhkan pilihan pengobatan lain, dan berpotensi meningkatkan risiko komplikasi.
Masalah ini bukan sekadar akibat seseorang salah memilih obat. Resistansi antimikroba merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk penggunaan antibiotik yang tidak tepat, pencegahan infeksi yang belum optimal, serta penyebaran bakteri resistan di masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter Masih Menjadi Masalah
Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah penggunaan antibiotik tanpa resep dokter. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diterbitkan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan pada 2024, sebanyak 41% responden yang menggunakan antibiotik oral dalam satu tahun terakhir memperoleh antibiotik tanpa resep dokter.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik tanpa resep masih menjadi persoalan yang perlu ditangani. Tanpa pemeriksaan yang sesuai, seseorang berisiko menggunakan antibiotik ketika sebenarnya tidak diperlukan, memilih obat yang tidak sesuai dengan penyebab infeksi, atau menggunakan obat tanpa petunjuk yang tepat.
Selain itu, pemberian antibiotik tanpa resep juga menjadi perhatian dalam pengawasan obat. Pada 2025, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Makassar melaporkan temuan penyerahan antibiotik tanpa resep pada seluruh 13 apotek yang diperiksa di Kabupaten Bulukumba. Temuan ini menggambarkan persoalan dalam lingkup pemeriksaan tersebut, bukan berarti seluruh apotek di Indonesia melakukan praktik yang sama.
Penggunaan antibiotik tanpa resep perlu diperhatikan karena keputusan pengobatan seharusnya didasarkan pada penilaian kondisi pasien oleh tenaga kesehatan yang berwenang. Antibiotik yang tepat untuk satu jenis infeksi belum tentu sesuai untuk infeksi lainnya.
Bagaimana Resistansi Antibiotik Dapat Membahayakan Kesehatan?
Dampak resistansi antibiotik bukan sekadar teori. Pedoman surveilans resistansi antimikroba Kementerian Kesehatan tahun 2026, yang menggunakan data 2024, melaporkan bahwa 70,8% isolat Escherichia coli dari spesimen darah yang diuji menunjukkan resistansi terhadap ceftriaxone. Selain itu, 40,16% isolat Staphylococcus aureus dari spesimen darah yang diuji termasuk dalam kategori MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus).
Angka tersebut merujuk pada bakteri yang diperiksa dalam surveilans, bukan persentase seluruh penduduk Indonesia yang mengalami infeksi resistan. Data ini juga tidak berarti bahwa semua kasus resistansi disebabkan oleh pembelian antibiotik tanpa resep. Namun, temuan tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan dan penggunaan antibiotik yang tepat untuk menghadapi ancaman resistansi antimikroba.
Ketika bakteri telah resistan, pengobatan dapat menjadi lebih rumit karena antibiotik yang biasa digunakan mungkin tidak lagi efektif. Pasien dapat membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan pengobatan yang sesuai. Dalam kondisi tertentu, infeksi yang sulit diobati juga dapat meningkatkan risiko komplikasi dan memperpanjang masa perawatan.
Cara Mencegah Resistansi Antibiotik melalui Penggunaan Antibiotik yang Bijak
Mencegah resistansi antibiotik membutuhkan peran tenaga kesehatan, pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mendukung penggunaan antibiotik secara bijak.
1. Jangan membeli antibiotik tanpa resep dokter.
Jangan menggunakan antibiotik hanya berdasarkan pengalaman sebelumnya atau rekomendasi orang lain. Konsultasikan keluhan kepada tenaga kesehatan agar penyebab penyakit dapat dinilai dan kebutuhan pengobatan ditentukan dengan tepat.
2. Gunakan antibiotik sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
Apabila antibiotik diresepkan, ikuti dosis, jadwal, dan durasi penggunaan yang telah ditentukan. Jangan mengubah dosis, memperpanjang penggunaan, atau menghentikan pengobatan atas keputusan sendiri. Jika mengalami efek samping atau memiliki pertanyaan mengenai pengobatan, konsultasikan kepada dokter atau apoteker.
3. Jangan berbagi atau menggunakan sisa antibiotik.
Antibiotik yang diresepkan untuk orang lain belum tentu sesuai dengan kondisi kita. Sisa obat dari pengobatan sebelumnya juga tidak boleh digunakan kembali tanpa penilaian tenaga kesehatan.
4. Cegah infeksi sejak awal.
Mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta memperoleh vaksinasi sesuai rekomendasi dapat membantu mencegah infeksi. Pencegahan infeksi turut mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik.
5. Tingkatkan pemahaman tentang resistansi antimikroba.
Masyarakat perlu mengetahui bahwa antibiotik bukan obat untuk semua penyakit. Informasi mengenai penggunaan antibiotik yang benar dapat diperoleh melalui tenaga kesehatan dan sumber tepercaya, seperti Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization).
Bijak Menggunakan Antibiotik, Menjaga Efektivitasnya untuk Masa Depan
Resistansi antibiotik merupakan tantangan kesehatan yang membutuhkan perhatian bersama. Kebiasaan membeli antibiotik tanpa resep, menggunakan obat tanpa petunjuk yang tepat, atau berbagi antibiotik dengan orang lain dapat meningkatkan risiko penggunaan yang tidak rasional. Meski demikian, resistansi antibiotik merupakan masalah kompleks yang tidak disebabkan oleh satu perilaku saja.
Antibiotik tetap menjadi bagian penting dalam pengobatan infeksi bakteri. Karena itu, penggunaannya perlu dilakukan secara tepat dan bertanggung jawab. Dengan tidak menggunakan antibiotik sembarangan, mengikuti petunjuk tenaga kesehatan, dan mencegah infeksi, kita dapat ikut mendukung upaya mengendalikan resistansi antibiotik serta menjaga efektivitas pengobatan bagi generasi mendatang.
