IPK Dikejar, Ibadah Terlupa: Potret Kehidupan Mahasiswa Masa Kini

Mahasiswa manajemen pendidikan islam universitas pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari muhammad fathir zaid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi mahasiswa merupakan salah satu fase kehidupan yang penuh dengan tantangan. Ada tugas yang harus diselesaikan, ujian yang perlu dipersiapkan, nilai yang ingin diperoleh, serta harapan orang tua yang ingin diwujudkan. Di tengah kesibukan tersebut, kehidupan pertemanan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Nongkrong setelah kuliah, berbincang bersama teman, hingga mengerjakan tugas di luar kampus menjadi rutinitas yang biasa dilakukan.
Namun, di balik kesibukan itu, ada satu hal yang terkadang luput dari perhatian: kewajiban salat. Tidak sedikit mahasiswa yang mungkin pernah menunda salat karena masih mengikuti perkuliahan, sibuk menyelesaikan tugas, atau terlalu asyik berkumpul bersama teman. Awalnya hanya menunda beberapa menit, tetapi tanpa disadari, kebiasaan tersebut bisa membuat ibadah semakin terabaikan.
Persoalannya bukan terletak pada kesibukan kuliah atau aktivitas nongkrong itu sendiri. Keduanya merupakan bagian dari kehidupan mahasiswa yang wajar. Persoalan muncul ketika aktivitas tersebut mulai menempati posisi yang lebih penting daripada kewajiban kepada Allah Swt.
Ketika Kesibukan Menjadi Alasan
Sebagai mahasiswa, mengejar prestasi akademik tentu merupakan hal yang penting. IPK yang baik dapat menjadi salah satu bentuk pencapaian selama menempuh pendidikan. Begitu pula dengan membangun relasi pertemanan yang sehat, karena mahasiswa juga membutuhkan lingkungan sosial untuk belajar, berbagi pengalaman, dan mengembangkan diri.
Akan tetapi, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah demi mengejar nilai dan mempertahankan pergaulan, kita mulai terbiasa mengesampingkan salat?
Terkadang, kita mampu meluangkan waktu berjam-jam untuk mengerjakan tugas atau duduk bersama teman, tetapi merasa berat ketika harus menyisihkan beberapa menit untuk menunaikan salat. Kita khawatir tertinggal materi perkuliahan, takut kehilangan momen bersama teman, atau merasa tanggung untuk meninggalkan obrolan yang sedang berlangsung. Sementara itu, ketika waktu salat tiba, kita berkata, “Nanti saja, masih ada waktu.”
Kalimat sederhana tersebut bisa menjadi awal dari kebiasaan menunda. Ketika dilakukan berulang kali, salat yang seharusnya dijaga pada waktunya justru dianggap sebagai aktivitas yang dapat disesuaikan sesuka hati.
Padahal, Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 103 bahwa salat merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang beriman. Ayat ini mengingatkan kita bahwa salat bukan sekadar kegiatan tambahan di sela-sela kesibukan, melainkan kewajiban yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Karena itu, kesibukan seharusnya mendorong kita untuk mengatur waktu dengan lebih baik, bukan menjadi alasan untuk terus menunda ibadah.
Prestasi Akademik Bukan Alasan Melupakan Kewajiban
Pendidikan merupakan jalan untuk memperoleh ilmu, memperluas wawasan, dan mempersiapkan masa depan. Dalam Islam, menuntut ilmu juga memiliki kedudukan yang mulia. Namun, kesungguhan dalam menempuh pendidikan semestinya berjalan beriringan dengan ketaatan dalam beribadah.
Jangan sampai kita begitu bersemangat mengejar gelar sarjana, tetapi perlahan kehilangan kedisiplinan dalam menjaga salat. Jangan sampai kita mampu menyusun jadwal kuliah, membuat daftar tugas, dan mengatur agenda organisasi, tetapi tidak berusaha menyediakan waktu untuk memenuhi kewajiban kepada Allah.
Tentu, kondisi setiap mahasiswa berbeda. Ada yang menghadapi jadwal kuliah padat, praktikum, pekerjaan, atau perjalanan pulang-pergi yang panjang. Situasi seperti ini membutuhkan pengaturan waktu dan pemahaman terhadap ketentuan ibadah yang sesuai. Namun, ketika kesempatan untuk salat tersedia, jangan sampai kebiasaan menunda dan keinginan untuk terus bersantai menjadi penghalang.
Kita perlu memahami bahwa keberhasilan tidak hanya berbicara tentang angka di dalam transkrip nilai. Ada pula tanggung jawab moral, kedisiplinan, dan hubungan spiritual yang perlu dijaga. IPK dapat menjadi bagian dari perjalanan akademik, tetapi ia bukan satu-satunya ukuran keberhasilan hidup.
Nongkrong Boleh, Lupa Salat Jangan
Pertemanan merupakan bagian penting dalam kehidupan mahasiswa. Melalui pergaulan, kita bisa mendapatkan dukungan, bertukar pikiran, dan membangun kenangan selama menjalani masa kuliah. Karena itu, nongkrong bersama teman bukan sesuatu yang harus dipandang negatif.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menempatkan pergaulan dalam kehidupan sehari-hari. Teman yang baik bukan hanya mereka yang membuat kita tertawa dan merasa nyaman, tetapi juga mereka yang membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Bayangkan ketika waktu salat tiba, tetapi seluruh teman masih asyik mengobrol. Apakah kita akan memilih mengikuti kebiasaan kelompok, atau berani mengajak mereka berhenti sejenak untuk beribadah?
Ajakan sederhana seperti, “Sudah masuk waktu salat, yuk, kita salat dulu,” mungkin terdengar biasa. Namun, kebiasaan saling mengingatkan dapat membantu menciptakan lingkungan pertemanan yang lebih positif.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-'Ankabut ayat 45 bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Pesan ayat ini menunjukkan pentingnya salat dalam membentuk kehidupan seorang Muslim. Salat bukan hanya kewajiban ritual, melainkan juga pengingat agar kita terus memperbaiki sikap dan perilaku.
Dengan demikian, pertemanan seharusnya tidak membuat kita semakin jauh dari ibadah. Justru melalui pertemanan yang baik, kita dapat saling mendukung untuk menjaga kewajiban tanpa harus merendahkan atau menghakimi satu sama lain.
Sudahkah Kita Mengoreksi Diri?
Dalam hadis riwayat Tirmidzi nomor 413, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa amal yang pertama kali diperhitungkan pada hari kiamat adalah salat. Hadis ini menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga salat dalam kehidupan seorang Muslim.
Pesan tersebut seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan merenungkan kebiasaan sendiri. Selama ini, apakah kita sudah berusaha menjaga salat, atau justru lebih sering mencari alasan untuk menundanya? Apakah kesibukan yang kita jalani benar-benar membuat kita tidak memiliki kesempatan, atau kita sebenarnya belum menjadikan ibadah sebagai prioritas?
Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi mahasiswa lain. Kita pun perlu bercermin karena setiap orang memiliki kekurangan dan perjuangannya masing-masing. Ada kalanya kita lalai, terlambat menyadari kesalahan, atau merasa sulit membangun kebiasaan yang lebih baik.
Namun, menyadari kelalaian merupakan langkah awal untuk memperbaiki diri. Kita tidak perlu menunggu menjadi pribadi yang sempurna untuk kembali menjaga salat. Kita dapat memulainya dengan memperhatikan waktu salat, mencari tempat ibadah di lingkungan kampus, memasang pengingat, dan mengajak teman untuk salat bersama.
Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membangun kebiasaan yang lebih baik. Jika selama ini kita terbiasa berkata “nanti”, cobalah mulai mengubahnya menjadi “sekarang, selagi waktunya tiba”.
Jangan Sampai Masa Depan Mengalahkan Kewajiban Hari Ini
Pada akhirnya, kehidupan mahasiswa bukan hanya tentang bagaimana memperoleh nilai tinggi, menyelesaikan pendidikan tepat waktu, atau memiliki banyak teman. Masa kuliah juga menjadi kesempatan untuk membentuk karakter, melatih kedisiplinan, dan belajar menyeimbangkan berbagai tanggung jawab.
Mengejar IPK merupakan hal yang baik. Menjalin pertemanan juga bukan kesalahan. Namun, keduanya tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kewajiban salat.
Kita perlu belajar menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Ketika waktu kuliah tiba, jalankan tanggung jawab akademik dengan sungguh-sungguh. Ketika waktu untuk beristirahat dan berkumpul bersama teman tersedia, nikmatilah dengan bijak. Dan ketika waktu salat tiba, berusahalah memenuhi panggilan Allah sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebab, jangan sampai kita begitu sibuk membangun masa depan, tetapi lupa menjaga kewajiban yang harus ditunaikan hari ini.
Barangkali, yang perlu kita benahi bukan hanya jadwal harian, melainkan juga cara kita memandang prioritas dalam kehidupan. Sudahkah kita memberikan ruang yang layak bagi ibadah di tengah berbagai kesibukan?
Pertanyaan itu layak kita renungkan bersama. Bukan untuk merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan agar kita tidak terus-menerus membiarkan diri terlena.
Karena pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi IPK yang berhasil kita raih, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani kehidupan dengan tanggung jawab, menjaga hubungan dengan sesama, dan tidak melupakan kewajiban kepada Allah Swt.
****************************************************************
"Jangan sampai sibuk mengejar masa depan, tetapi lupa menunaikan kewajiban kepada Allah. IPK boleh tinggi, tetapi salat tetap harus dijaga".
*****************************************************************
