Anak Marah Bukan Anak Nakal: Cara Menemani Tantrum Tanpa Ikut Meledak

Mahasiswa UIN JAKARTA
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Fathir El Badri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Antrean kasir sedang panjang. Di troli, seorang anak berusia tiga tahun tiba-tiba berteriak, menangis, dan merebahkan badan ke lantai karena permen yang ia minta tidak jadi dibeli. Semua mata menoleh. Orang tuanya mulai panas, malu, dan bingung harus berbuat apa.
Hampir setiap orang tua pernah berada di posisi itu. Dan pada momen seperti itu, pikiran yang paling sering muncul adalah: kenapa anak ini nakal sekali?
Padahal, dalam banyak kasus, anak yang sedang tantrum bukan sedang nakal. Ia sedang kewalahan.
Mengapa anak kecil mudah meledak?
Kemampuan mengatur emosi tidak dibawa sejak lahir, melainkan dilatih dan berkembang seiring usia. Bagian otak yang berperan dalam mengendalikan impuls dan menenangkan diri baru matang bertahun-tahun kemudian. Karena itu, balita punya perasaan yang besar tetapi belum punya “rem” yang cukup kuat.
Ditambah lagi, kosakata mereka masih terbatas. Anak sering tidak mampu berkata, “Aku kecewa karena kamu tidak membelikan permen itu.” Yang keluar adalah teriakan, tangisan, atau badan yang terhempas. Tantrum adalah bahasa mereka ketika kata-kata tidak cukup.
Artinya, tantrum pada usia balita umumnya bagian dari tahap perkembangan yang wajar, bukan bukti pola asuh yang gagal atau anak yang bermasalah.
Tantrum bukan soal menang atau kalah
Banyak orang tua terjebak dalam dua ekstrem. Pertama, menyerah dan menuruti permintaan agar anak diam. Akibatnya anak belajar bahwa teriakan adalah cara yang ampuh. Kedua, membalas dengan bentakan atau ancaman agar anak “kapok”. Akibatnya anak belajar bahwa emosi besar harus dilawan dengan emosi yang lebih besar.
Ada jalan tengah yang lebih sehat: tetap tegas pada batasan, tetapi hangat pada perasaan.
Lima langkah menemani anak saat tantrum
1. Tenangkan diri sendiri dulu.
Anak meminjam ketenangan dari orang dewasa di dekatnya. Tarik napas dalam, turunkan nada suara, dan ingatkan diri: ini bukan serangan pribadi.
2. Pastikan anak aman.
Jauhkan benda berbahaya dan pindahkan anak ke tempat yang lebih tenang bila memungkinkan. Pada saat puncak amarah, anak belum bisa diajak berpikir logis, sehingga ceramah hanya akan sia-sia.
3. Beri nama pada perasaannya.
“Kamu kesal ya, permennya tidak jadi dibeli.” Kalimat sederhana ini membantu anak merasa dipahami dan perlahan belajar mengaitkan kata dengan emosi.
4. Pertahankan batasan dengan tenang.
“Mama tahu kamu kecewa. Tapi hari ini kita tidak beli permen.” Tidak perlu mengulang-ulang penjelasan atau bernegosiasi di tengah tangisan.
5. Bicarakan setelah reda.
Ketika anak sudah tenang, barulah ajak bicara singkat: “Tadi kamu marah sekali ya. Lain kali kalau kesal, kamu bisa bilang ‘aku kesal’ atau peluk Mama.” Pelajaran paling efektif terjadi saat anak sudah siap mendengar.
Hal yang sebaiknya dihindari
Mempermalukan di depan umum, misalnya “Lihat tuh, semua orang ngeliatin kamu!”
Mengancam, seperti “Mama tinggal ya!”, yang membuat anak merasa tidak aman.
Memberi hadiah agar diam, karena anak bisa belajar bahwa tantrum menghasilkan imbalan.
Meremehkan, seperti “Gitu aja nangis”, yang membuat anak merasa perasaannya tidak penting.
Kapan perlu bantuan profesional?
Sebagian besar tantrum akan berkurang seiring bertambahnya usia dan kemampuan bahasa anak. Namun, pertimbangkan berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog anak bila tantrum sangat sering dan intens, masih terjadi di usia sekolah dengan kadar yang sama, membuat anak membahayakan diri sendiri atau orang lain, atau disertai kekhawatiran lain pada perkembangan anak. Meminta bantuan bukan tanda gagal sebagai orang tua, melainkan langkah bijak.
Penutup
Anak yang marah sedang menyampaikan sesuatu, hanya saja dengan cara yang belum rapi. Tugas kita bukan memadamkan amarahnya secepat mungkin, tetapi menemaninya melewati badai itu sambil mengajarkan cara yang lebih baik.
Lain kali anak Anda meledak di tengah keramaian, ingat satu kalimat ini: anak yang sulit sedang butuh dipahami, bukan dihukum.
