Bentrok HMI-PMII: Rebutan Maba, Lupa Kaderisasi

Mahasiswa UIN JAKARTA
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Fathir El Badri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa baru datang ke kampus dengan harapan besar. Mereka ingin belajar, berkenalan, dan mencari lingkungan yang membentuk karakter. Namun di sejumlah kampus, sebagian dari mereka justru menyaksikan hal lain di pekan pertama: dua organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia saling dorong, saling kejar, bahkan saling pukul.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sama-sama punya sejarah panjang dalam melahirkan tokoh bangsa. Keduanya juga sama-sama tergabung dalam kelompok Cipayung. Tetapi di tingkat komisariat, gesekan di antara keduanya berulang dari tahun ke tahun.
Pola yang berulang
Beberapa peristiwa yang pernah diberitakan menunjukkan polanya:
UIN Sumatera Utara (2022). Mahasiswa kedua organisasi berkelahi di kampus tersebut, dan polisi sempat turun tangan serta memfasilitasi mediasi.
Universitas Muhammadiyah Bone (2023). Bentrokan dipicu cekcok di ruang kelas yang kemudian melebar ke lembaga masing-masing, hingga kedua kubu saling kejar di area parkir kampus dan videonya viral.
UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu (2023). HMI Badko menyatakan seorang kadernya terluka di bagian kepala dalam bentrokan tersebut. Versi peristiwa ini disampaikan dari sisi HMI, sehingga tentu perlu diimbangi keterangan dari pihak lain.
UIN STS Jambi (Agustus 2025). Kericuhan terjadi saat kegiatan PBAK, disaksikan mahasiswa baru yang sedang mengikuti orientasi.
Penting dicatat, peristiwa-peristiwa ini umumnya melibatkan oknum atau komisariat tertentu, bukan seluruh anggota kedua organisasi. Ribuan kader HMI dan PMII lainnya menjalani kaderisasi tanpa pernah terlibat kekerasan.
Apa akar masalahnya?
1. Rivalitas merebut mahasiswa baru.
Seorang mantan ketua PMII Cabang Medan, saat menanggapi bentrok di UINSU, menduga pemicunya adalah persaingan dalam merekrut mahasiswa baru ke organisasi ekstra kampus. Ketika jumlah anggota baru menjadi tolok ukur gengsi komisariat, setiap momen orientasi berubah menjadi arena kompetisi.
2. Konflik personal yang menjadi konflik institusional.
Kasus Bone menunjukkan bagaimana urusan dua orang bisa menyeret dua organisasi. Solidaritas kader yang semestinya menjadi kekuatan justru berubah menjadi pembenaran untuk mengerahkan massa.
3. Gesekan lama yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Dalam peristiwa di Jambi, seorang mahasiswa menyebut bentrokan semacam ini bukan hal baru dan merupakan buntut dari gesekan emosional yang sudah lama terjadi. Kesepakatan damai di atas kertas sering tidak diikuti perubahan sikap di lapangan.
4. Mediasi yang rapuh dan emosi yang cepat menyulut.
Dalam kasus Jambi, mediasi berkali-kali dilakukan tetapi gagal menahan situasi. Begitu ada ucapan yang dianggap memprovokasi, pengendalian diri hilang.
Siapa yang paling dirugikan?
Pertama, mahasiswa baru, yang seharusnya mendapat kesan pertama yang aman dan positif. Kedua, citra kedua organisasi itu sendiri, karena publik cenderung menilai dari video viral, bukan dari ribuan kegiatan diskusi, advokasi, dan pengabdian yang tidak pernah viral. Ketiga, kampus, yang sering kali terpaksa menjadi pihak penengah sekaligus penanggung jawab keamanan.
Ada ironi di sini. Kedua organisasi mengajarkan kader tentang intelektualitas, keislaman, dan kemanusiaan. Saat kader saling pukul, nilai-nilai itu justru dipertanyakan. Pejabat kepolisian yang menanggapi kasus UINSU bahkan menilai peristiwa semacam itu sebagai kegagalan proses kaderisasi dalam materi penyelesaian masalah dengan kepala dingin.
Jalan keluar yang bisa ditempuh
Aturan main perekrutan yang jelas dan disepakati. Kampus bersama seluruh organisasi ekstra perlu menyepakati waktu, tempat, dan etika pengenalan organisasi kepada mahasiswa baru.
Mekanisme penyelesaian konflik yang cepat di level cabang dan pengurus besar. Bila ada insiden, kedua pihak segera duduk bersama tanpa menunggu viral dulu.
Sanksi organisasi yang tegas bagi oknum. Kader yang terbukti melakukan kekerasan perlu diberi sanksi, siapa pun dia dan dari organisasi mana pun.
Menghidupkan kembali kebersamaan Cipayung. Kegiatan lintas organisasi, seperti diskusi bersama, bakti sosial, dan advokasi isu kampus, membantu mengikis stereotip antarkader.
Memberi mahasiswa baru ruang memilih tanpa tekanan. Kader terbaik lahir dari kesadaran, bukan dari rebutan.
Penutup
Rivalitas dalam organisasi mahasiswa bukan hal yang haram. Persaingan sehat bisa memacu kualitas kaderisasi. Tetapi rivalitas yang berujung kekerasan hanya menghasilkan satu hal: luka, baik bagi korban maupun bagi nama besar organisasi.
Barangkali ukuran keberhasilan sebuah organisasi kader bukan pada seberapa banyak mahasiswa baru yang berhasil direkrut, melainkan pada seberapa dewasa kader-kadernya menghadapi perbedaan.
