Kita Terlalu Sibuk Terlihat Bahagia hingga Lupa Menikmati Kehidupan

Mahasiswa UIN JAKARTA
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Muhammad Fathir El Badri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era media sosial, kebahagiaan seolah menjadi sesuatu yang perlu diperlihatkan. Kita mengunggah foto saat berlibur, membagikan pencapaian ketika berhasil meraih sesuatu, dan menampilkan momen terbaik bersama orang-orang terdekat. Semua itu terlihat wajar. Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita benar-benar menikmati kebahagiaan tersebut atau justru terlalu sibuk memastikan orang lain melihat bahwa hidup kita baik-baik saja?
Media sosial telah mengubah cara manusia menjalani dan memandang kehidupan. Apa yang dahulu cukup dinikmati secara pribadi kini sering kali terasa lebih lengkap ketika dibagikan kepada publik. Momen makan bersama teman, perjalanan ke tempat baru, hingga keberhasilan kecil dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi konten yang ingin ditampilkan. Tanpa disadari, kita tidak hanya menjalani kehidupan, tetapi juga mulai memikirkan bagaimana kehidupan itu terlihat di mata orang lain.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan membagikan kebahagiaan. Media sosial dapat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, menjaga hubungan, dan mengekspresikan diri. Persoalan muncul ketika keinginan untuk berbagi berubah menjadi kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan. Kita mulai merasa senang ketika unggahan mendapatkan banyak tanda suka, bangga ketika memperoleh komentar positif, dan kecewa ketika perhatian yang datang tidak sesuai harapan. Pada titik tertentu, kebahagiaan yang seharusnya berasal dari pengalaman pribadi justru bergantung pada penilaian orang lain.
Keadaan ini membuat kita perlu merenungkan kembali hubungan antara media sosial dan cara kita memaknai kebahagiaan. Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk membangun kesan bahwa hidup berjalan dengan baik, sampai lupa memberikan perhatian kepada kehidupan yang sebenarnya sedang kita jalani.
Salah satu hal yang sering terjadi di media sosial adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat teman yang berhasil menyelesaikan pendidikan, seseorang yang mendapatkan pekerjaan impian, atau orang lain yang tampak menikmati kehidupan dengan penuh kebebasan. Tanpa disadari, pencapaian mereka menjadi ukuran untuk menilai kehidupan kita sendiri. Ketika orang lain terlihat lebih berhasil, kita merasa tertinggal. Ketika teman sebaya mencapai sesuatu lebih dahulu, kita mulai mempertanyakan kemampuan dan pilihan hidup kita.
Padahal, setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Kita tidak mengetahui seluruh perjuangan di balik keberhasilan seseorang, sebagaimana orang lain juga tidak mengetahui semua persoalan yang sedang kita hadapi. Media sosial hanya memperlihatkan bagian tertentu dari kehidupan, bukan keseluruhan cerita. Foto liburan tidak selalu menggambarkan keadaan finansial seseorang, unggahan pencapaian tidak menceritakan seluruh kegagalan yang pernah dialami, dan senyum dalam sebuah foto tidak dapat menjelaskan seluruh kondisi emosional seseorang.
Ironisnya, kita sering membandingkan kehidupan kita yang utuh, lengkap dengan kekurangan dan masalahnya, dengan potongan kehidupan orang lain yang telah dipilih untuk ditampilkan. Perbandingan semacam ini tentu tidak selalu adil. Namun, jika terus dilakukan, kita dapat kehilangan kemampuan untuk menghargai apa yang sudah dimiliki karena perhatian terlalu terarah pada sesuatu yang belum tercapai.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika muncul tuntutan untuk selalu terlihat bahagia, sukses, produktif, dan baik-baik saja. Terutama bagi anak muda, kehidupan seolah memiliki standar keberhasilan yang harus dipenuhi pada usia tertentu. Harus lulus tepat waktu, mendapatkan pekerjaan yang baik, memiliki pergaulan luas, mandiri secara finansial, dan menunjukkan perkembangan hidup yang membanggakan. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan tersebut, muncul perasaan bahwa diri sendiri belum cukup berhasil.
Tekanan itu dapat semakin kuat ketika kita terus-menerus melihat pencapaian orang lain. Kita merasa harus segera menyusul, membuktikan kemampuan, dan menunjukkan bahwa kita juga mampu menjalani kehidupan yang baik. Akibatnya, kegagalan terasa memalukan, kesedihan dianggap sebagai kelemahan, dan masa-masa sulit menjadi sesuatu yang harus disembunyikan.
Padahal, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada masa ketika seseorang merasa bersemangat, tetapi ada pula masa ketika ia kehilangan arah. Ada waktu untuk merayakan pencapaian, tetapi ada juga waktu untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi diri. Kita tidak harus selalu terlihat kuat, tidak wajib mengubah setiap kesedihan menjadi cerita inspiratif, dan tidak perlu membuktikan kepada semua orang bahwa kita mampu melewati segala sesuatu tanpa kesulitan.
Kita tetap berharga meskipun sedang berproses, belum mencapai target, atau belum menemukan jalan yang tepat. Nilai seseorang tidak semestinya ditentukan oleh seberapa menarik kehidupannya terlihat di media sosial.
Di sinilah pentingnya membedakan antara menikmati apresiasi dan menggantungkan harga diri pada apresiasi. Sebagai manusia, kita tentu senang ketika mendapatkan penghargaan atau pengakuan dari orang lain. Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Namun, pengakuan seharusnya menjadi pelengkap, bukan satu-satunya alasan kita merasa berharga. Jumlah tanda suka dapat berubah, perhatian orang lain dapat berkurang, dan tidak semua hal yang kita lakukan akan mendapatkan respons positif.
Jika kita terus menjadikan penilaian orang lain sebagai ukuran kebahagiaan, kita akan selalu merasa perlu mengejar sesuatu yang belum tentu memberikan kepuasan. Kita mungkin berhasil mendapatkan perhatian hari ini, tetapi kembali merasa kurang ketika melihat orang lain memperoleh lebih banyak perhatian esok hari. Akhirnya, kehidupan berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Lalu, apakah kita harus berhenti menggunakan media sosial agar dapat menikmati kehidupan? Tentu tidak sesederhana itu. Persoalannya bukan semata-mata pada seberapa sering kita mengunggah sesuatu, melainkan pada bagaimana kita menggunakan media sosial dan seberapa besar pengaruhnya terhadap cara kita memandang diri sendiri.
Kita dapat mulai dengan membiasakan diri menikmati pengalaman sebelum memikirkan bagaimana cara membagikannya. Ketika sedang berkumpul bersama keluarga, cobalah benar-benar hadir dalam percakapan. Ketika mengunjungi tempat yang indah, berikan waktu kepada diri sendiri untuk menikmati pemandangan tanpa harus segera mengambil gambar. Ketika berhasil mencapai sesuatu, izinkan diri sendiri merasa bangga tanpa harus menunggu orang lain memberikan pengakuan.
Kita juga perlu belajar mengurangi kebiasaan membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain. Tidak semua orang harus mencapai keberhasilan pada waktu yang sama. Ada yang menemukan pekerjaan lebih awal, ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pendidikan, dan ada pula yang harus mengubah arah hidup setelah menghadapi kegagalan. Perbedaan tersebut bukan berarti seseorang lebih unggul atau lebih rendah daripada yang lain. Setiap orang memiliki keadaan dan pertimbangannya sendiri.
Selain itu, kita perlu membangun ukuran kebahagiaan yang lebih personal. Kebahagiaan tidak selalu harus berkaitan dengan pencapaian besar, penghasilan tinggi, perjalanan ke tempat yang jauh, atau kehidupan yang terlihat mengesankan. Terkadang, kebahagiaan hadir dalam bentuk yang sederhana: memiliki waktu untuk beristirahat, berbicara dengan orang yang dipercaya, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, atau menjalani hari tanpa terus-menerus merasa tertinggal.
Menikmati kehidupan juga berarti memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan berbagai emosi. Bahagia, sedih, kecewa, takut, dan bingung merupakan bagian dari pengalaman manusia. Kita tidak perlu menganggap setiap perasaan yang tidak menyenangkan sebagai tanda bahwa hidup sedang gagal. Ada kalanya kita memang membutuhkan waktu untuk memahami keadaan, menerima kenyataan, dan menentukan langkah berikutnya.
Pada akhirnya, media sosial akan terus berkembang. Akan selalu ada pencapaian baru untuk dilihat, tempat menarik untuk dikunjungi, dan kehidupan orang lain yang tampak lebih menyenangkan. Kita tidak mungkin mengendalikan semua hal yang muncul di layar, tetapi kita tetap dapat menentukan bagaimana menyikapinya. Kita boleh membagikan kebahagiaan, merayakan pencapaian, dan menceritakan pengalaman kepada orang lain. Namun, jangan sampai keinginan untuk terlihat bahagia mengambil alih kesempatan untuk benar-benar merasakan kebahagiaan itu sendiri.
Kehidupan bukan perlombaan untuk menghasilkan tampilan paling menarik. Kita tidak harus selalu membuktikan bahwa kita berhasil, tidak perlu terus-menerus menunjukkan bahwa kita bahagia, dan tidak wajib menjelaskan setiap pilihan kepada orang lain. Ada hal-hal yang tetap berharga meskipun tidak pernah diunggah, tidak mendapatkan tanda suka, dan tidak diketahui oleh banyak orang.
Mungkin, sesekali kita perlu meletakkan ponsel, berhenti sejenak dari kebisingan dunia digital, dan memberikan perhatian kepada hal-hal sederhana yang selama ini terlewatkan. Sebab, tidak semua momen harus diabadikan untuk menjadi berarti, tidak semua pencapaian harus diumumkan agar layak dirayakan, dan tidak semua kebahagiaan membutuhkan penonton.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa bahagia kehidupan kita terlihat di mata orang lain, melainkan seberapa bermakna kehidupan itu bagi diri kita sendiri. Sebelum kembali sibuk menunjukkan bahwa hidup kita baik-baik saja, mungkin kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kita sedang menjalani kehidupan yang benar-benar kita nikmati, atau hanya sedang membangun kehidupan yang ingin dilihat orang lain?
Sebab, jangan sampai kita menghabiskan terlalu banyak waktu untuk meyakinkan dunia bahwa kita bahagia, hingga lupa memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk benar-benar merasakannya.
