Kenapa Berita Bencana Kadang Terasa Hampa? 5 Penjelasan Psikologisnya

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Negeri Surabaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fatkhiya Nuzulun Niam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kamu sedang berdiri di tengah keramaian ketika ponselmu menampilkan satu judul: kebakaran hutan di Kalimantan meluas, tim gabungan mengerahkan helikopter untuk memadamkan api. Fotonya menunjukkan kobaran oranye di antara pepohonan, asap pekat yang naik ke langit, dan helikopter yang menjatuhkan air dari atas. Kamu membaca beberapa kalimat tentang karhutla itu. Dadamu sempat terasa berat. Lalu orang-orang di sekitarmu bergerak, percakapan berlanjut, dan jempolmu sudah menggulir ke berita berikutnya. Anehnya, perasaanmu setelah membacanya datar. Kemudian muncul pikiran yang mengganjal dihatimu: jangan-jangan aku tidak peduli dengan kondisi negaraku saat ini, jangan-jangan aku tidak berempati kepada mereka yang kesusahan, apakah aku ini orang yang jahat?.
Kalau kamu pernah begitu, kamu tidak sendirian. Dan ini bukan persoalan jauh dari kita. Menurut pantauan BMKG per 12 Oktober 2026, kabut asap terlihat di sebagian Sumatra, seluruh Kalimantan, dan meluas dari Papua menuju pulau-pulau di sekitarnya. Sebelum kamu menghakimi diri sendiri lebih jauh, coba pahami dulu apa yang mungkin terjadi di kepalamu. Berikut lima penjelasan psikologisnya.
Kamu bisa ikut berat meski jauh dari lokasi
Psikolog C. Daniel Batson membedakan dua respons saat kita melihat orang menderita. Yang pertama empathic concern, perhatian yang tertuju pada orang yang kesulitan. Yang kedua personal distress, rasa tidak nyaman yang berpusat pada diri sendiri (Batson dkk., 1987). Singer dan Klimecki (2014) membuat pembedaan serupa antara empathic distress dan compassion.
Rasa “tidak bisa berbuat apa-apa” itu menekan
Menurut model stres dan coping Lazarus dan Folkman (1984), reaksi kita bergantung pada dua penilaian: seberapa mengancam situasinya, dan apakah kita punya sumber daya untuk menghadapinya. Modelnya dirancang untuk stres yang dialami langsung, jadi penerapannya pada berita adalah tafsiran, bukan klaim teorinya.
Tafsiran itu masuk akal. Api berkobar di Kalimantan atau Papua, sementara kita ada ratusan atau ribuan kilometer jauhnya. Kita ingin membantu, tapi jalannya terasa sempit.
Menutup aplikasi adalah cara mengatur emosi
James Gross menjelaskan bahwa emosi bisa diatur di beberapa titik (Gross, 1998). Dua yang paling dekat dengan kebiasaan kita saat membaca berita bencana: memilih situasi (tidak membuka berita) dan mengalihkan perhatian. Teori ini tidak menilai kebiasaan itu baik atau buruk. Ia membantu kita bertanya dengan lebih tenang: apakah ini jeda yang menolongku, atau cara untuk berhenti merasakan sama sekali?
Makin besar angka di berita bencana, makin datar rasanya?
Laporan akhir Agustus menyebut sekitar 5,4 juta warga di tujuh provinsi terdampak langsung asap karhutla, dan lebih dari 570.000 siswa di 3.524 sekolah belajar dari rumah. Angka sebesar itu sulit dibayangkan sebagai manusia satu per satu.
Cameron dan Payne (2011) meneliti hal yang mirip: kenapa orang merasakan emosi yang lebih sedikit untuk korban dalam jumlah besar dibanding satu korban. Penjelasan yang mereka ajukan: orang mengira kebutuhan kelompok besar bisa terlalu membanjiri, sehingga mereka mengatur emosinya untuk mencegah emosi yang berlebihan. Dalam eksperimennya, efek ini muncul hanya pada orang yang terampil meregulasi emosi.
Penulisnya menyebut buktinya awal, dan studinya bukan tentang berita atau karhutla. Menghubungkannya dengan rasa hampa saat membaca angka itu adalah tafsiran. Tapi tafsiran itu menggeser pertanyaan: mungkin rasa datar bukan hati yang hilang, melainkan cara pikiran melindungi diri dari yang terasa terlalu besar.
Pertanyaan yang lebih jujur: ke mana rasa kepedulian ini pergi?
Kalau mengatur emosi itu wajar, pertanyaannya bukan “boleh tidak aku berhenti membaca berita bencana?”. Jawabannya boleh. Pertanyaan yang lebih berguna: setelah berhenti, ke mana rasa kepedulian ini pergi? Pengaturan emosi bisa melindungi, tapi tanpa jalur lain untuk peduli, ia mudah berubah menjadi menjauh dari penderitaan. Beberapa hal yang bisa dicoba:
Baca satu sumber tepercaya, misalnya informasi resmi BMKG, pahami situasinya sekali, lalu berhenti.
Pilih satu tindakan realistis, misalnya donasi lewat lembaga yang kredibel.
Bagikan hanya informasi yang sudah terverifikasi. Tidak menambah kebingungan juga bentuk kepedulian.
Beri jeda dengan sadar, dan tentukan kapan kamu kembali dengan cara yang lebih kecil dan terarah.
Kita tidak harus terus menyaksikan penderitaan untuk membuktikan bahwa kita peduli. Tapi rasa hampa juga bukan alasan untuk berhenti peka. Mungkin ukurannya bukan berapa lama kita menatap layar, melainkan apa yang kita lakukan setelah layar itu padam.
Jika kelelahan emosional terasa berkepanjangan dan mengganggu kesehatan mental mu, berbicara dengan psikolog atau konselor adalah langkah yang wajar.
