Mengurai Teka-Teki Kehidupan lewat Novel "Janji" Karya Tere Liye

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fawnia Intan Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap orang punya masa lalu, tapi apakah masa lalu yang kelam secara otomatis menentukan siapa diri kita hari ini? Pertanyaan inilah yang membayangi saya saat menikmati novel Janji karya Tere Liye.

Kisah ini berawal dari perjalanan tiga santri pembuat onar di sebuah pesantren, yaitu Hasan, Baso, dan Kaharuddin. Akibat kenakalan mereka, Buya—pemimpin pesantren—memberikan hukuman yang terbilang unik. Mereka diminta melacak keberadaan seorang mantan murid bernama Bahar, yang sudah dikeluarkan sekitar empat puluh tahun lalu karena sebuah kesalahan fatal.
Di sinilah petualangan mereka dimulai. Hasan, Baso, dan Kaharuddin harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi menemukan keberadaan Bahar. Perjalanan ini bagaikan menyusun kepingan puzzle yang perlahan-lahan mulai menemukan titik terang.
Bahar merupakan anak yatim piatu yang dititipkan di pesantren lalu terlibat dalam insiden kebakaran pesantren hingga menelan korban jiwa. Peristiwa kelam inilah yang membuatnya dikeluarkan dari pesantren. Namun, ia pergi dengan membawa lima janji yang diberikan oleh Buya sebagai pedoman hidupnya.
Di tengah pencarian tersebut, ketiga santri justru menemukan sisi lain dari sosok Bahar yang selama ini dicap sebagai pembuat masalah. Di tengah masyarakat, Bahar ternyata tumbuh menjadi pribadi yang bekerja keras, berjiwa sosial tinggi, dan selalu ringan tangan membantu orang-orang di sekitarnya.
Hal yang sangat menarik bagi saya dari novel ini adalah kontras pada karakter Bahar. Meskipun memiliki penampilan yang lumayan serem dan sering dicap buruk oleh orang lain, ia ternyata menyimpan ketulusan hati yang luar biasa.
Tere Liye berhasil mengajak pembaca ikut merasa penasaran, seolah-olah kita sedang mendampingi petualangan Hasan, Baso, dan Kaharuddin untuk mengurai teka-teki kehidupan Bahar. Gaya bahasa yang digunakan pun sangat mudah dipahami oleh berbagai kalangan, sehingga cerita terasa nyaman untuk diikuti dari awal hingga akhir.
Meski begitu, ada sedikit catatan untuk novel ini. Di beberapa bagian, alur perjalanan Hasan, Baso, dan Kaharuddin terasa agak bertele-tele karena banyaknya lokasi yang harus mereka kunjungi. Hal ini sesekali bisa membuat pembaca merasa jenuh.
Namun terlepas dari kekurangan tersebut, novel ini tetap sangat menarik untuk dibaca. Janji tidak hanya bercerita tentang kesalahan seseorang, tetapi juga menunjukkan pesan kuat bahwa seseorang selalu bisa berubah, terlepas dari seberapa kelam masa lalu yang pernah dijalaninya.
Pada akhirnya, novel Janji mengajarkan kita untuk tidak langsung menilai seseorang hanya dari kesalahan yang pernah dilakukan atau sekadar penampilan luarnya saja.
Lewat perjalanan hidup Bahar, Tere Liye menunjukkan bahwa manusia itu ibarat kepingan puzzle —tidak bisa dinilai hanya dari satu bagian kehidupannya saja. Setiap orang pasti memiliki sisi lain yang belum tentu diketahui oleh orang lain. Kebaikan seseorang kadang tertutup oleh prasangka dan masa lalu yang buruk, sehingga kita perlu belajar memahami seseorang lebih dalam sebelum terburu-buru memberikan penilaian.
