Konten dari Pengguna

Resensi Film: Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fawnia Intan Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? (Sumber: Foto Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? (Sumber: Foto Pribadi)

Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?: Ketika Anak Tidak Butuh Ayah yang Sempurna, Hanya yang Selalu Ada

Terkadang, yang paling menyakitkan dari sebuah keluarga bukan ketika seseorang pergi meninggalkan kita, tetapi ketika orang itu ada di depan mata tetapi sosoknya tidak terasa. Namun di sisi lain, kita tidak tahu apa yang disembunyikan orang tua kepada kita.

Perasaan inilah yang saya rasakan setelah menonton Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?, film garapan Kuntz Agus yang diadaptasi dari buku karya Khoirul Trian. Film ini mengikuti kehidupan Dira dan Darin, dua kakak beradik yang tumbuh di keluarga sederhana bersama ayah mereka, Yudi, dan ibu mereka, Lia. Keluarga ini menjalankan usaha “Soto Bu Lia” yang menjadi salah satu sumber kehidupan mereka. Keluarga kecil ini terlihat sangat bahagia dari luar, namun setelah masuk ke dalam, terlihatlah satu per satu hal yang tertutupi senyum tawa mereka.

Dira adalah seorang anak perempuan pertama yang menjadi tokoh favorit saya dalam film ini karena ia selalu berusaha untuk meringankan beban keluarganya. Insiden kebakaran gas pada awal film yang membuat Lia mengalami cedera parah memaksa Dira yang baru saja lulus kuliah dan ingin melanjutkan S2 terpaksa mengambil alih posisi sebagai tulang punggung keluarga untuk membantu biaya rumah sakit Lia. Ayah yang seharusnya menenangkan keluarga justru tidak sesuai yang diharapkan; Dira dan Darin merasa ayah mereka tidak benar-benar hadir dalam kehidupan mereka.

Sejak saat itu, tekanan hidup keluarga ini semakin berat dan terungkap kebohongan yang selama ini disembunyikan dari Dira dan Darin. Lia yang terbaring di rumah sakit cukup lama membuat keuangan dalam keluarga gonjang-ganjing. Ternyata, Yudi memiliki sejumlah utang yang disembunyikan. Hal ini membuat Dira marah dan bertanya-tanya mengapa ayahnya bisa memiliki utang, padahal selama ini tidak memenuhi kebutuhan anaknya, bahkan SPP Darin menunggak 3 bulan.

Puncaknya terjadi saat Lia pulang dari rumah sakit. Tiba-tiba ada anak kecil yang datang ke rumah sambil mencari dan memanggil "Ayah Yudi". Dira dan Darin marah besar hingga mereka meninggalkan rumah. Mereka berpikir bahwa selama ini ayahnya memiliki anak lain yang disembunyikan. Kemudian Dira mengatakan satu kalimat yang menurut saya sangat dalam:

“Ayah yang seharusnya jadi cinta pertama anak perempuan, malah milih bohong terus pilih perempuan lain.”

Beberapa minggu setelah Dira meninggalkan rumah, Darin berkelahi hingga ia ditahan di kantor polisi. Kejadian ini memerlukan Yudi datang, dan momen ini menjadi titik balik kedekatan mereka. Dira dan Darin mengatakan suatu hal yang membuat saya menangis dalam film ini, yaitu:

“Kita nggak perlu ayah yang sempurna, kita cuma mau ayah yang selalu ada.”

Saat perjalanan pulang dari kantor polisi, Yudi mengembuskan napas terakhirnya. Dira dan Darin baru mengetahui bahwa ayahnya menyembunyikan penyakit kronis dari mereka. Dan ternyata, anak kecil yang memanggil Yudi "Ayah" adalah anak dari sahabat Yudi yang meninggal karena kecelakaan.

Film ini dapat membuat penonton merasa masuk dalam kehidupan Yudi dan merasakan menjadi Dira yang menjadi tulang punggung keluarga. Sehingga dapat dikatakan film ini berhasil membuat penonton larut dalam emosi dan simpati yang mendalam. Film ini sangat cocok untuk kaum fatherless karena kemungkinan akan relate dan membuat banjir air mata saat menontonnya.

Namun menurut saya pribadi, film ini kurang membuat suasana naik turun. Film ini terasa flat menceritakan kesedihan dan kurang menambahkan sisi bahagia atau lucu, sehingga suasana yang dibangun terasa sedih dan haru sepanjang film.

Ada satu kalimat Dira yang membuat tangisan saya pecah di akhir film, yaitu:

“Ayah. Sialnya aku lebih dekat waktu Ayah sudah tidak ada.”

Hal yang bisa diambil dari film ini adalah pentingnya komunikasi dalam keluarga agar tidak ada miskomunikasi, serta pentingnya mengungkapkan perasaan satu sama lain, keterbukaan, dan kejujuran.