Ketika Puisi Kehilangan Jiwa

Mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Pancasila
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fellisa Hasna Haifana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era modern ini, AI (Artificial Intelligence) semakin marak digunakan untuk membantu kehidupan sehari-hari, khususnya dalam membuat puisi. Padahal, puisi lahir dari perasaan dan pengalaman manusia. Namun AI dengan mudahnya membuat lebih cepat tanpa adanya emosi sehingga terasa kosong. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah puisi AI dapat dikatakan karya yang sesungguhnya?
AI Sang Bujangga
AI (Artificial Intelligence) pertama kali dikembangkan pada tahun 1957. Sejak tahun 2000-an, berbagai pakar mulai memanfaatkan teknologi ini di bidang teknologi informasi. Mengikuti perkembangan zaman, AI sudah bisa menghasilkan karya seperti puisi hingga lagu. Karyanya dapat dibilang bagus dan tersusun rapi sehingga dapat membantu manusia yang membutuhkan referensi. Namun, meskipun AI hasilnya indah dan terstruktur, karyanya tetap terasa kosong karena hanya menyusun pola yang sudah ada, bahkan mayoritas mengambilnya dari internet.
Kreativitas Terancam
Hal ini berpengaruh kepada kreativitas manusia sebagai penggerak imajinasi dan ekspresi. Rama, Mahasiswa Berprestasi Fakultas Kesehatan UPNVJ mengatakan bahwa, “Menurut aku, kreativitas seseorang akan menurun kalau misalnya ada orang yang membuat puisi dan kata-katanya dibantu AI” (31/8/25). Hal tersebut selaras dengan pandangan bahwa AI dapat mengancam kreativitas manusia. Rama terbiasa menyusun puisi dengan kata-katanya sendiri karena ia menyukai penggunaan metafora, seperti “langit jadi cakrawala”. Baginya, puisi termasuk ke dalam bentuk ekspresi sekaligus mengasah kreativitas, sehingga terasa lebih mengalir dan bermakna yang dalam.
Penggunaan AI dalam menyusun puisi dapat menimbulkan ketergantungan teknologi karena merujuk kepada karya yang instan. Ketergantungan ini dapat melemahkan manusia sebagai sumber kreativitas alami, yang seharusnya menciptakan karya orisinal, tetapi justru menyerahkan semuanya kepada AI.
Status Orisinalitas
Pembuatan puisi menggunakan AI menimbulkan pertanyaan besar mengenai orisinalitasnya. Puisi AI tidak dapat dikatakan karya yang orisinil karena pada dasarnya teknologi hanya mengikuti pola yang ada di internet dan pada akhirnya mengambil data orang. Selain itu, karya yang orisinil harus menuangkan kreativitas, imajinasi, dan pengalaman manusia. Lagi-lagi AI hanya menyusun pola yang sudah ada. Namun, dalam konteks hukum hak cipta, hal ini tidak selaras dengan UU No. 28 Tahun 2014 yang mengatakan bahwa hak cipta hanyalah milih manusia. Pada akhirnya, puisi AI hanyalah bentuk teknologi yang sudah dirancang sedemikian rupa, bukan ekspresi seni yang murni dari manusia.
Cara Bijak Menggunakan AI
Di zaman yang canggih ini, sulit bagi kita untuk lepas dari teknologi, khususnya AI. Namun, penggunaannya perlu dibatasi agar kita sebagai manusia masih mempunyai kemampuan untuk berkreasi. AI boleh digunakan sebagai alat bantu untuk mencari ide, tetapi tidak seharusnya seluruh proses diberikan langsung kepada AI karena karya yang dihasilkan akan kehilangan sentuhan jiwa. Pada akhirnya, karya terbaik tetaplah buatan manusia, meski mungkin tidak tersusun begitu rapi, namun memiliki makna yang lebih mendalam.
Sumber:
Firdaus. (2025, 14 Agustus). Puisi dari AI: Ekspresi atau Tiruan? Diakses pada 2 September 2025, dari https://kelola.kim.id/~350721200301/berita/read/puisi-dari-ai-ekspresi-atau-tiruan32460-350721200301
Pratomo, MA. (2025, 5 Agustus). Karya yang Melibatkan Kecerdasan Buatan AI, Hak Ciptanya Tetap Milik Manusia. Diakses pada 5 September 2025, dari https://www.jendelasastra.com/wawasan/artikel/karya-yang-melibatkan-kecerdasan-buatan-ai-hak-ciptanya-tetap-milik-manusia
Jo, B. (2024, 10 Januari). Ai (Artificial Intellegence) alias kecerdasan buatan memiliki sejumlah manfaat luar biasa. Diakses pada 5 September 2025, dari https://tirto.id/pengertian-ai-menurut-para-ahli-dan-manfaat-kecerdasan-buatan-gUj3
https://p2sid.uma.ac.id/dampak-artificial-intelligence-ai/
