Ketika Bertahan Menjadi Bentuk Cintai

Mahasiswi UIN Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fia Alfiyatun Munawaroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rumah dalam cerpen Peta Buta di Dinding Rumah karya Abror Y Prabowo tidak sekadar hadir sebagai bangunan fisik. Ia menjadi ruang yang menyimpan memori, kasih sayang, sekaligus keteguhan jiwa yang rapuh namun bertahan. Rumah, dalam konteks ini, adalah tempat di mana ingatan dan luka hidup berdampingan.
Perbedaan cara pandang ini sangat sejalan dengan tesis utama M.H. Abrams dalam bukunya. Abrams menulis:
The title of the book identifies two common and antithetic metaphors of mind, one comparing the mind to a reflector of external objects, the other to a radiant projector which makes a contribution to the objects it perceives.
Jika masyarakat sekitar bertindak sebagai reflector (cermin) yang hanya memantulkan realitas objektif bahwa rumah itu rusak, tokoh "Aku" justru menggunakan pikirannya sebagai radiant projector (lampu/proyektor bercahaya). Pikiran dan batin tokoh "Aku" memberikan kontribusi makna emosional yang mendalam pada objek yang ia lihat. Alhasil, ketika air sungai mulai naik dan dinding rumahnya retak-retak, proyektor batinnya mengubah retakan semen yang menakutkan itu menjadi sebuah "peta buta" yang intim, yang justru membawa kedamaian jiwa dan rasa tulus dalam memeluk memori masa lalu.
keyword : peta buta, memori, batin, makna, rumah, cinta
Batu Bata Penuh Cerita : Menemukan Kembali Sosok Ayah di Rumah Kita
Rumah bukan sekadar rumah. Dalam Cerpen Peta Buta di Dinding Rumah. Rumah menurut tokoh “aku” ialah sejarah kehidupan bersama ayah. Walaupun rumah itu sudah miring dan miris yang bagi kita tidak layak ditempati, tapi baginya di rumah itu dapat merasakan sosok ayah yang selalu ada di sampingnya.
Sikap keras kepala yang subtil ini lebih tepat dipandang melalui kacamata Romantisisme dan teori ekspresif M.H. Abrams dalam The Mirror and the Lamp. Abrams mengutip pandangan bahwa karya ekspresif dan tindakan humanis sering kali lahir dari:
The spontaneous overflow of powerful feelings
(luapan spontan dari perasaan-perasaan yang kuat).
Para tetangga dan pihak kelurahan sudah sangat berbondong-bondong memintanya untuk segera mengungsi demi keselamatan, ia memilih bergeming. Ia memilih untuk tinggal disana karena mengingat perkataan ayahnya untuk terakhir kalinya.
Tanah tak pernah benar-benar diam, hanya berpura-pura.
Ayah mengatakan bahwa hal itu bukan sekadar candaan, melainkan sebuah kenyataan yang pasti terjadi. Semakin banyak hutan ditebang, semakin hutan berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal, akibatnya akan segera dirasakan karena sesungguhnya tanah tidak pernah benar-benar diam; ia akan menunjukkan dampaknya kepada manusia.
Kesetiaan Tokoh utama membuktikan bahwa rumah bukan sekadar benda padat yang bisa tukar tambah saat rusak. Rumah adalah sebuah microcosmos—dunia kecil tempat jiwa dan identitas seseorang dibentuk. Ketika tokoh utama menolak pergi, ia sedang mempertahankan ruang eksistensialnya.
Membaca "Peta Buta" dengan Kedamaian Jiwa
Seiring waktu berlalu tokoh utama tetap mendiami kediamannya. Dia mengingat sosok ayah yang sering duduk di ruang tamu. Deras hujan, air sungai naik begitu cepat. Mulai terbentuk retakan retakan yang seakan membentuk peta yang menjadi simbol komunikasi intim antara manusia dan ruang hidupnya.
Di sepanjang dinding, retakan-retakan kini telah saling menyambung, membentuk peta buta yang tak pernah ada sebelumnya.
Semakin lama air sungai naik sampai masuk ke rumahnya dan mencapai lutut. Tokoh utama tidak mengalami rasa takut sama sekali. Ia justru merasakan kedamaian jiwa serta tulus. Ada Pelajaran positif yang bisa kita petik: di titik nadir kehidupan, kedamaian batin sejati sering kali lahir Ketika kita mampu menerima takdir dengan ikhlas, memeluk sejarah hidup kita sendiri tanpa ada penyesalan. Sikap ini memperlihatkan bahwa kebahagiaan manusia tidak selalu ditentukan oleh ruang fisik yang aman, melainkan oleh kelapangan dada dalam menerima ketetapan universal. Dengan berdamai pada masa lalu dan merangkul erat memori yang tersisa, tokoh utama mengajarkan kita arti menjadi manusia yang utuh: seseorang yang jiwanya tidak ikut retak dan runtuh, bahkan ketika dunia di sekelilingnya telah hancur lebur.
Esensi Kesetiaan di Tengah Dunia yang Serba Cepat Di zaman modern ini semuanya serba praktis.
Apapun yang rusak dapat diganti yang lebih layak.Berbeda dengan cerpen yang berjudul “Peta Buta di Dinding Rumah” karya Abror Y Prabowo. Cerpen yang menceritakan keteguhan tokoh utama yang memilih tetap pada kondisinya yang sedih dan jiwanya selalu damai tinggal di rumah miringnya. Tokoh utama membuktikan bahwa ada hal-hal di dunia ini yang nilainya tidak bisa diukur dengan materi ataupun uang—salah satunya adalah kesetiaan pada akar sejarah keluarga. Hubungan emosional yang tulus terhadap rumah dan kenangan masa lalu terbukti jauh lebih kokoh dibandingkan dinding semen mana pun.
Daftar Pustaka
Prabowo, A. Y. (2026). Peta Buta di Dinding Rumah. Kompas.id.
Abrams, M. H. (1953). The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Oxford University Press.
