Konten dari Pengguna

Hidup Hemat Itu Bukan Pelit: Mengapa Mahasiswa Malu Mengaku Sedang Menabung?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filly Azahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ai Generate
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ai Generate

Bayangkan sepulang kuliah, sekelompok teman mengajakmu mencoba kafe baru yang sedang ramai dibicarakan. Isi dompetmu sebenarnya cukup, tetapi kamu sedang mengumpulkan uang untuk membeli laptop yang sudah lama diincar. Alih-alih berterus terang, kamu menjawab, "Duh, aku ada urusan nih, kalian duluan saja ya." Padahal alasan yang sebenarnya sederhana: kamu enggan mengaku bahwa kamu sedang berhemat.

Cerita semacam ini begitu akrab di telinga mahasiswa. Anehnya, banyak dari kita merasa lebih nyaman berkata sibuk, lelah, atau kurang enak badan daripada mengakui sedang menabung. Padahal menabung adalah kebiasaan terpuji yang sudah diajarkan sejak kecil melalui celengan ayam atau kaleng biskuit. Lalu, mengapa di bangku kuliah, kebiasaan baik ini justru terasa memalukan?

Hemat dan Pelit: Mirip, tetapi Bukan Kembar

Akar persoalannya adalah salah kaprah. Di benak banyak orang, hemat dan pelit dianggap sama. Padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar, yaitu pada kesadaran dan kepedulian.

Hemat adalah sikap bijak dalam membelanjakan uang berdasarkan skala prioritas. Orang yang hemat tetap bisa mentraktir, berbagi, dan membantu teman, sebab semua itu sudah masuk dalam perencanaannya.

Pelit adalah keengganan mengeluarkan uang bahkan ketika situasinya menuntut, misalnya selalu menghindar saat patungan atau terbiasa menumpang tanpa pernah membalas kebaikan.

Dengan kata lain, orang yang menolak ajakan nongkrong demi mengejar target tabungan sedang bersikap disiplin, bukan kikir. Ia hanya paham bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga.

Mengapa Menabung Terasa Memalukan?

1. Cemas dicap kurang pergaulan.

Dalam lingkaran pertemanan, mahasiswa yang sering menolak ajakan rentan dilabeli "tidak asik" atau "susah diajak kumpul". Demi menjaga citra dan diterima kelompok, banyak yang memilih ikut-ikutan walaupun kondisi keuangan sedang pas-pasan.

2. Gengsi yang dipupuk media sosial.

Beranda media sosial dipenuhi foto kafe estetik, liburan akhir pekan, dan barang-barang baru. Tanpa disadari, kita menganggap bahwa hidup yang "normal" adalah hidup yang penuh pengeluaran. Akibatnya, tampil sederhana terasa seperti tampil kekurangan.

3. Anggapan bahwa hemat berarti tidak mampu.

Sebagian orang beranggapan bahwa yang berhemat pasti sedang kesulitan ekonomi. Tidak ada yang ingin dikasihani, sehingga lebih mudah berpura-pura mampu daripada berterus terang.

4. Slogan "masa muda cuma sekali".

Ungkapan ini ada benarnya, tetapi sering dijadikan pembenaran untuk pengeluaran impulsif, yaitu pembelian spontan tanpa pertimbangan matang. Akibatnya, siapa pun yang menahan diri tampak membosankan.

5. Minimnya teladan.

Karena hampir tidak ada yang terbuka soal tabungan, kita mengira semua teman hidup royal dan hanya kita yang berhemat. Padahal bisa jadi banyak teman yang punya niat serupa, tetapi sama-sama enggan mengatakannya. Inilah yang disebut ilusi mayoritas: kita merasa sendirian, padahal sebenarnya ramai.

Harga Mahal di Balik Gengsi

Rasa malu ini bukan tanpa konsekuensi. Mahasiswa yang terus memaksakan diri mengikuti gaya hidup teman berisiko menghadapi beberapa masalah:

Uang bulanan menipis lebih cepat, sehingga terpaksa berutang atau meminta tambahan kepada orang tua.

Tidak memiliki dana darurat ketika laptop rusak, biaya praktikum mendadak muncul, atau ada kebutuhan kesehatan.

Terjerat utang kecil, termasuk paylater, yang terasa ringan di awal tetapi menumpuk dan membebani di kemudian hari.

Tertekan secara mental karena harus terus berpura-pura mampu di depan teman.

Ironisnya, gengsi yang kita jaga hari ini sering berubah menjadi penyesalan di penghujung bulan.

Mengubah Cara Pandang, Membangun Kebiasaan

Sudah saatnya menabung dipandang sebagai tanda kedewasaan, bukan tanda kekurangan. Orang yang sanggup menunda keinginan demi tujuan yang lebih besar sedang melatih kedisiplinan yang kelak sangat berharga di dunia kerja. Berikut beberapa langkah yang dapat dicoba:

Berterus terang dengan santai. Cukup katakan, "Bulan ini aku lagi nabung buat beli laptop, nongkrongnya minggu depan ya." Singkat, jelas, dan tidak perlu merasa bersalah.

Tawarkan alternatif yang lebih murah. Ajak teman patungan, makan di kantin, atau belajar bersama. Kamu tetap hadir tanpa menguras dompet.

Tetapkan tujuan yang konkret. Menabung terasa lebih bermakna dan mudah dijelaskan jika ada targetnya, misalnya laptop, liburan, dana darurat, atau modal usaha.

Cari teman seperjuangan. Mulailah percakapan tentang keuangan dengan sahabat terdekat. Kamu mungkin terkejut karena ternyata banyak yang punya keinginan sama.

Jadilah teladan. Keberanianmu bersikap terbuka dapat membuat orang lain merasa aman untuk melakukan hal serupa.

Penutup:

Tidak ada yang keliru dari menolak ajakan demi masa depan yang lebih tenang. Yang patut dikhawatirkan justru ketika kita lebih takut dicap pelit daripada takut kehabisan uang. Hemat bukan berarti anti bersenang-senang, melainkan kemampuan memilah kapan uang perlu dikeluarkan dan kapan harus ditahan. Jadi, lain kali ada yang bertanya mengapa kamu tidak ikut, jawablah dengan percaya diri, "Aku lagi nabung." Sebab pada akhirnya, orang yang bijak mengelola uang hari ini adalah orang yang paling tenang di akhir bulan.