Belanja Online dan Tantangan Perilaku Konsumtif dalam Ekonomi Islam

mahasiswa di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari finalia mei miladia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Belanja online sekarang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari membeli pakaian, makanan, skincare, sampai perlengkapan kuliah, semuanya bisa dilakukan hanya melalui handphone. Apalagi sekarang banyak aplikasi belanja yang menawarkan diskon, gratis ongkir, dan berbagai promo menarik. Kemudahan ini tentu membuat masyarakat semakin nyaman berbelanja secara online.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ada kebiasaan yang tanpa disadari mulai berkembang di masyarakat, yaitu perilaku konsumtif. Tidak sedikit orang yang membeli barang bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan hanya karena tertarik dengan harga murah atau sedang mengikuti tren. Hal ini menjadi persoalan yang menarik untuk dibahas, terutama jika dilihat dari sudut pandang ekonomi Islam.

Belanja Online dan Kebiasaan Konsumtif
Perkembangan teknologi membuat kegiatan belanja menjadi semakin mudah. Kita tidak perlu lagi datang langsung ke toko untuk membeli barang. Cukup membuka aplikasi, memilih produk, melakukan pembayaran, lalu menunggu barang sampai di rumah. Kemudahan ini memang memberikan banyak manfaat, tetapi juga bisa membuat seseorang semakin sering berbelanja.
Salah satu contohnya adalah ketika ada promo tanggal kembar atau flash sale. Banyak orang merasa harus segera membeli barang karena takut kehilangan kesempatan mendapatkan harga murah. Padahal, barang tersebut belum tentu dibutuhkan. Bahkan, terkadang seseorang membeli barang hanya karena melihat orang lain memilikinya.
Menurut saya, kebiasaan seperti ini cukup sering terjadi di kalangan anak muda, termasuk mahasiswa. Media sosial juga ikut memengaruhi keinginan seseorang untuk berbelanja. Saat membuka TikTok atau Instagram, kita sering menemukan konten rekomendasi produk yang menarik. Dari yang awalnya hanya melihat-lihat, akhirnya muncul keinginan untuk membeli barang tersebut.
Sebenarnya, belanja online bukan sesuatu yang salah. Justru dengan adanya marketplace, masyarakat bisa lebih mudah memenuhi kebutuhan dan membandingkan harga. Namun, jika kegiatan belanja dilakukan secara berlebihan, pengeluaran bisa menjadi tidak terkontrol. Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting justru habis untuk membeli barang yang kurang diperlukan.
Perilaku Konsumsi dalam Pandangan Ekonomi Islam
Dalam ekonomi Islam, kegiatan konsumsi tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan kepuasan, tetapi juga harus mempertimbangkan manfaat dari barang yang dibeli. Islam mengajarkan umatnya untuk menggunakan harta secara bijak dan tidak berlebihan. Oleh karena itu, kita perlu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu.
Hal ini sesuai dengan ajaran dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 31 yang mengingatkan manusia agar tidak berlebih-lebihan. Menurut saya, pesan tersebut sangat berkaitan dengan kebiasaan belanja online saat ini. Meskipun seseorang memiliki uang yang cukup, bukan berarti semua barang yang diinginkan harus dibeli.
Dalam ekonomi Islam juga terdapat konsep maslahah, yaitu manfaat atau kebaikan yang diperoleh dari suatu kegiatan. Konsep ini mengajarkan bahwa keputusan membeli barang sebaiknya mempertimbangkan manfaatnya, bukan hanya kesenangan sementara. Misalnya, seorang mahasiswa yang memiliki uang terbatas tentu lebih baik mendahulukan kebutuhan kuliah daripada membeli barang yang sedang viral tetapi belum terlalu diperlukan.
Selain itu, terdapat istilah israf, yaitu perilaku berlebih-lebihan. Kebiasaan membeli barang secara terus-menerus tanpa mempertimbangkan kebutuhan dapat mengarah pada perilaku tersebut. Bahkan, terkadang barang yang sudah dibeli hanya digunakan beberapa kali, kemudian dibiarkan begitu saja.
Menurut saya, prinsip konsumsi dalam ekonomi Islam sangat penting diterapkan di tengah perkembangan belanja online. Kita boleh mengikuti perkembangan teknologi dan membeli barang yang disukai, tetapi tetap harus mempertimbangkan kondisi keuangan. Jangan sampai keinginan sesaat membuat kita mengabaikan kebutuhan yang lebih penting.
Menjadi Konsumen Muslim yang Lebih Bijak
Melihat kebiasaan belanja online yang semakin berkembang, masyarakat perlu memiliki kesadaran untuk mengatur pengeluaran dengan baik. Terutama bagi mahasiswa yang memiliki berbagai kebutuhan, mulai dari biaya makan, transportasi, perlengkapan kuliah, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.
Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja. Dengan adanya daftar tersebut, kita bisa lebih fokus membeli barang yang memang diperlukan. Selain itu, menentukan batas pengeluaran juga penting agar uang tidak habis hanya untuk memenuhi keinginan.
Ketika melihat diskon atau promo menarik, sebaiknya kita tidak langsung membeli barang tersebut. Coba pikirkan terlebih dahulu apakah barang itu benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik karena harganya sedang murah. Menunda pembelian juga bisa menjadi cara untuk menghindari kebiasaan belanja secara berlebihan.
Di sisi lain, perkembangan belanja online juga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Banyak pelaku usaha kecil yang memanfaatkan marketplace untuk menjual produknya. Dengan adanya teknologi digital, mereka memiliki kesempatan menjangkau pembeli yang lebih luas tanpa harus memiliki toko besar.
Oleh karena itu, menurut saya, perkembangan belanja online seharusnya dimanfaatkan dengan cara yang tepat. Sebagai konsumen, kita perlu lebih bijak dalam menggunakan uang. Sementara itu, sebagai mahasiswa yang mempelajari ekonomi Islam, kita juga perlu menerapkan nilai-nilai konsumsi Islami dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya memahaminya sebagai teori di ruang kelas.
Pada akhirnya, belanja online memang memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat. Namun, kemudahan tersebut jangan sampai membuat kita menjadi boros dan sulit mengendalikan keinginan. Menjadi konsumen Muslim yang bijak bukan berarti tidak boleh membeli barang yang disukai, tetapi harus mampu menentukan prioritas. Dengan mengutamakan kebutuhan, menghindari pemborosan, dan mempertimbangkan manfaat sebelum membeli, kita dapat memanfaatkan belanja online tanpa meninggalkan prinsip-prinsip ekonomi Islam.
