Konten dari Pengguna

Hidup Sudah Baik-Baik Saja, Lantas Mengapa Kita Masih Merasa Hampa?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Firanti Widi Ningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Gambaran seseorang yang merenungkan kehidupannya meskipun berada dalam situasi yang nyaman. AI-generated by ChatGPT (OpenAI, 2026)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Gambaran seseorang yang merenungkan kehidupannya meskipun berada dalam situasi yang nyaman. AI-generated by ChatGPT (OpenAI, 2026)

Pernahkah kita merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup, padahal semuanya terlihat baik-baik saja? Kebutuhan sehari-hari terpenuhi, masih punya teman untuk berbagi cerita, dan aktivitas berjalan seperti biasa. Tidak ada masalah besar yang sedang terjadi. Namun, entah mengapa, muncul perasaan kosong yang sulit dijelaskan.

Kadang kita justru merasa bersalah karena mengalaminya. Di luar sana, banyak orang sedang menghadapi kesulitan yang lebih berat. Sementara kita, yang kehidupannya relatif nyaman, masih saja mempertanyakan kebahagiaan sendiri. Rasanya seperti kurang bersyukur.

Padahal, merasa hampa tidak selalu berarti kita tidak menghargai kehidupan. Bisa jadi, ada kebutuhan emosional atau sesuatu yang dianggap penting dalam hidup yang belum terpenuhi.

Selama ini, kita sering membayangkan kebahagiaan sebagai tujuan yang harus dicapai. Nanti kalau sudah lulus, pasti bahagia. Kalau sudah bekerja, hidup akan lebih tenang. Kalau sudah punya penghasilan sendiri, semuanya akan terasa cukup. Namun, ketika keinginan itu terwujud, rasa bahagia yang dibayangkan ternyata tidak selalu bertahan lama.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Ketika Kebahagiaan Perlahan Terasa Biasa

Dalam psikologi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep hedonic adaptation atau adaptasi hedonis, yaitu kecenderungan manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kehidupan, termasuk pengalaman yang menyenangkan.

Coba ingat ketika kita berhasil mendapatkan sesuatu yang sudah lama diinginkan. Awalnya, kita begitu senang. Namun, beberapa minggu atau bulan kemudian, hal yang dahulu terasa istimewa mulai menjadi bagian dari rutinitas.

Diener, Lucas, dan Scollon (2006) menjelaskan bahwa manusia dapat beradaptasi terhadap berbagai perubahan hidup, meskipun proses adaptasi tersebut berbeda pada setiap individu.

Persoalannya, ketika kebahagiaan mulai terasa biasa, kita sering menganggap ada sesuatu yang masih kurang. Akhirnya, kita kembali mencari pencapaian baru, berharap hal tersebut akan membuat hidup lebih memuaskan.

Tanpa disadari, kita terus mengejar kebahagiaan tanpa benar-benar menikmati apa yang sudah dimiliki.

Mungkin Kita Bukan Kurang Bahagia, tetapi Kurang Merasa Bermakna

Psikologi positif memandang kesejahteraan manusia lebih luas daripada sekadar perasaan senang. Ada perbedaan antara kehidupan yang menyenangkan dan kehidupan yang bermakna.

Kesejahteraan hedonis berkaitan dengan kesenangan dan kepuasan hidup. Sementara itu, kesejahteraan eudaimonik menekankan pentingnya tujuan hidup, pengembangan diri, dan aktivitas yang sesuai dengan nilai pribadi.

Penelitian Huta dan Ryan (2010) menunjukkan bahwa orientasi terhadap kesenangan dan kebermaknaan memiliki manfaat psikologis yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi.

Artinya, menikmati hiburan, membeli barang yang disukai, atau menghabiskan waktu untuk beristirahat bukanlah sesuatu yang keliru. Namun, manusia juga membutuhkan pengalaman yang membuat kehidupannya terasa berarti.

Misalnya, seseorang mungkin memiliki pekerjaan yang nyaman, tetapi merasa kurang berkembang. Ada pula mahasiswa yang memperoleh nilai bagus, tetapi belum menemukan alasan mengapa ia menjalani pendidikan tersebut.

Dalam situasi seperti ini, persoalannya mungkin bukan kurangnya pencapaian, melainkan belum ditemukannya hubungan antara aktivitas sehari-hari dan sesuatu yang benar-benar dianggap penting.

Apakah Kita Sedang Menjalani Hidup Versi Orang Lain?

Tidak dapat dimungkiri, lingkungan sering membentuk gambaran tentang kehidupan yang dianggap berhasil. Kita seolah harus berprestasi, memiliki pekerjaan bagus, mandiri secara finansial, dan mencapai berbagai hal pada usia tertentu.

Belum lagi ketika membuka media sosial. Melihat pencapaian orang lain terkadang membuat kehidupan sendiri terasa tertinggal, meskipun sebelumnya kita merasa baik-baik saja.

Tanpa sadar, kita mungkin terlalu sibuk memenuhi standar kebahagiaan yang ditentukan orang lain.

Carol Ryff (1989) menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis mencakup beberapa aspek penting, seperti penerimaan diri, hubungan positif, kemandirian, tujuan hidup, serta pertumbuhan pribadi.

Pandangan ini mengingatkan bahwa kehidupan yang baik tidak hanya diukur dari seberapa banyak pencapaian yang terlihat, tetapi juga dari bagaimana seseorang menerima dirinya dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai pribadinya.

Lalu, Bagaimana Menghadapi Perasaan Hampa?

Ketika perasaan hampa muncul, kita tidak harus langsung membuat perubahan besar. Terkadang, langkah pertama justru sesederhana memberi waktu untuk memahami diri sendiri.

Cobalah bertanya, apa yang sebenarnya membuat hidup terasa berarti? Kapan terakhir kali kita melakukan sesuatu karena benar-benar menginginkannya, bukan sekadar ingin memenuhi harapan orang lain?

Kita juga bisa mulai membangun kebiasaan kecil yang sesuai dengan nilai pribadi. Meluangkan waktu bersama keluarga, membantu teman, mempelajari hal baru, atau menikmati kegiatan yang disukai dapat menjadi cara untuk menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna.

Selain itu, tidak ada salahnya belajar menikmati proses tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Tidak semua hal harus menjadi pencapaian besar agar layak dihargai.

Namun, perasaan hampa juga tidak boleh selalu dianggap sebagai persoalan kurangnya makna hidup. Kelelahan, tekanan berkepanjangan, maupun kondisi kesehatan mental tertentu dapat ikut berperan. Jika perasaan tersebut menetap dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari dukungan profesional merupakan langkah yang bijak.

Pada akhirnya, psikologi positif bukan mengajarkan kita untuk selalu bahagia. Merasa sedih, kecewa, atau kehilangan arah tetap merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk bertanya tentang apa lagi yang harus dimiliki agar bahagia, sampai lupa menanyakan apakah kehidupan yang sedang dijalani sudah terasa berarti.

Sebab, kebahagiaan tidak selalu datang ketika kita memiliki segalanya. Terkadang, kebahagiaan justru tumbuh ketika kita mulai memahami arti dari apa yang sudah ada.