Konten dari Pengguna

Studi Kelayakan Bisnis: Strategi Bertahan saat Harga Bahan Baku Melonjak

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fitri Fadilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan AI dengan ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan AI dengan ChatGPT

Studi kelayakan bisnis sering kali baru teringat saat sebuah usaha mendadak berada di ambang gulung tikar. Banyak pengusaha pemula merintis usaha hanya berbekal modal awal dan semangat tanpa perhitungan yang matang. Padahal, dinamika di lapangan mulai dari toko ritel, kedai, hingga usaha jasa jauh lebih kompleks dari yang terlihat di media sosial.

Berdasarkan laporan Kementerian Koperasi dan UMKM serta berbagai studi manajemen bisnis, lebih dari 60 persen kegagalan bisnis UMKM di tahun pertama bukan disebabkan oleh produk yang kurang diminati, melainkan lemahnya perencanaan keuangan dan ketidakmampuan mengantisipasi lonjakan biaya operasional.

Coba bayangkan sebuah tempat usaha yang tadinya selalu ramai pelanggan. Tiba-tiba, berdasarkan data survei fluktuasi harga bahan pokok dari Badan Pusat Statistik (BPS), harga bahan baku utama atau pendukung operasional melonjak tinggi secara drastis. Jika tidak diperhitungkan sejak awal, kenaikan ini bisa langsung menyedot habis margin keuntungan. Menolak menaikkan harga jual berisiko membuat kas bobol, tetapi menaikkan harga terlalu mendadak juga berisiko ditinggalkan pelanggan setia.

Di sinilah daya tahan dan perencanaan sebuah usaha benar-benar diuji melalui beberapa aspek krusial berikut:

1. Perhitungan Biaya Produksi yang Fleksibel

Kenaikan harga komponen atau bahan utama adalah ancaman utama bagi stabilitas usaha. Berbagai studi manajemen bisnis menunjukkan bahwa pelaku usaha yang menerapkan proyeksi biaya fleksibel (flexible budgeting) lebih tangguh menghadapi gejolak harga pasar dibanding yang menggunakan perhitungan kaku. Tanpa perhitungan ini, pengusaha akan kebingungan menyesuaikan harga jual tanpa mengorbankan kualitas.

2. Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM)

Saat operasional makin berkembang, bantuan tenaga kerja tentu sangat dibutuhkan. Namun, mengelola karyawan bukan sekadar membagikan gaji di akhir bulan. Berdasarkan laporan riset produktivitas tenaga kerja, diperlukan pelatihan standar pelayanan yang baik. Tanpa manajemen SDM yang rapi, pelayanan akan melambat, kualitas produk jadi tidak konsisten, dan tingkat keluar masuk karyawan (turnover) menjadi sangat tinggi.

3. Aspek Keuangan dan Pengelolaan Modal Kerja

Pencatatan dan analisis keuangan adalah jantung dari operasional usaha. Banyak pemilik usaha terkecoh oleh omzet harian yang terlihat tebal, padahal mereka lupa memperhitungkan biaya operasional bulanan seperti beban listrik, air, sewa, kemasan, hingga penyusutan alat. Riset keuangan UMKM kerap mencatat bahwa percampuran antara uang pribadi dan kas bisnis adalah penyebab utama rusaknya alur keuangan usaha.

4. Tanggung Jawab Lingkungan dan Operasional

Setiap aktivitas usaha tentu menghasilkan sisa atau limbah operasional. Berdasarkan studi tentang bisnis berkelanjutan (sustainable business), pengelolaan sampah yang buruk tidak hanya mencemari lingkungan sekitar, tetapi juga berisiko memicu konflik dengan warga. Penggunaan material yang ramah lingkungan serta menjaga kebersihan area kerja merupakan investasi jangka panjang untuk reputasi usaha.

Pada akhirnya, membangun bisnis yang bertahan lama (sustain) tidak cukup hanya mengandalkan modal semangat. Lewat perencanaan dan analisis kelayakan yang matang sejak awal didukung data serta riset yang jelas calon pengusaha dapat memetakan risiko harga, merancang SDM yang solid, serta menjaga kesehatan keuangan agar usaha mampu berkembang dalam jangka panjang

dosen pengampu Bapak Budi Syamtoro, S.E., M.M. (Email: dosen02332@unpam.ac.id)