Outbound bersama RoCMHI, Tingkatkan Resiliensi Ibu dan Anak MCC Darul Ilmi

Fitri Fausiyah, M.Psi., M.Phil., Psikolog Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fitri Fausiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hubungan antara ibu dan anak dapat dibangun melalui berbagai interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui percakapan, kegiatan bersama, dan cara merespons satu sama lain, ibu dan anak dapat belajar memahami perasaan serta kebutuhan masing-masing. Namun, sebagai ibu yang menjalankan peran sebagai orang tua sekaligus memenuhi berbagai tuntutan kehidupan dapat membuat waktu untuk membangun kedekatan menjadi terbatas. Hal ini menjadi salah satu hal yang melatarbelakangi kegiatan outbound yang diselenggarakan oleh Research of Community Mental Health Initiative (RoCMHI), Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia bersama Muhammadiyah Children Center (MCC) Darul Ilmi, Depok, Jawa Barat.
MCC Darul Ilmi mendampingi keluarga yang terdiri dari ibu dan anak yang menghadapi kerentanan sosial ekonomi. Bahwa dalam kondisi tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat keluarga yang menghadapi berbagai tuntutan, mulai dari memenuhi kebutuhan keluarga hingga menjalankan tanggung jawab pengasuhan. Spesifiknya bagi ibu yang menjalankan peran sebagai orang tua tunggal (single parent), tanggung jawab tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama anak dapat menjadi salah satu hal yang penting dalam membangun hubungan yang dekat.
Kedekatan antara ibu dan anak juga berkaitan dengan resiliensi keluarga, yaitu kemampuan keluarga untuk menghadapi dan beradaptasi dengan berbagai kesulitan. Resiliensi keluarga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu untuk bertahan ketika menghadapi masalah, tetapi juga dengan cara anggota keluarga saling berkomunikasi, memberikan dukungan, dan mencari solusi bersama. Dalam proses tersebut, komunikasi dan pemecahan masalah bersama menjadi dua aspek penting yang dapat membantu keluarga menghadapi tantangan secara konstruktif.
Lantas, bagaimana komunikasi dan pemecahan masalah bersama dapat dilatih dalam kehidupan keluarga? Salah satu caranya adalah melalui kegiatan yang memungkinkan ibu dan anak berinteraksi secara langsung. Sayangnya, kesempatan ini cukup sulit didapat oleh keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah karena kesibukan mencari nafkah secara terus-menerus. Oleh karena itu, RoCMHI menciptakan kesempatan interaksi tersebut melalui kegiatan outbound keluarga. Melalui kegiatan outbound keluarga, ibu dan anak tidak hanya menghabiskan waktu bersama, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk menghadapi tantangan, memahami instruksi, menyampaikan pesan, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan. Pendekatan ini sejalan dengan experiential learning, yaitu proses pembelajaran melalui pengalaman langsung yang kemudian dapat direfleksikan untuk memahami penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan outbound bersama MCC Darul Ilmi, RoCMHI menghadirkan lima pos permainan edukatif, yaitu Kartu Piknik Hati, Penyelamatan Kacang, Jejak Petualang, Bangun Bentuk Rahasia, dan Labirin Keluarga. Setiap permainan memiliki tantangan yang berbeda, tetapi semuanya memberikan kesempatan bagi peserta untuk berlatih berkomunikasi dan bekerja sama.
Permainan Kartu Piknik Hati mengajak anak memeragakan emosi yang tertera pada kartu, sementara ibu atau wali bertugas menebak emosi tersebut berdasarkan gestur dan ekspresi anak. Melalui aktivitas ini, peserta diajak untuk mengenali emosi yang disampaikan tanpa kata-kata. Kemampuan tersebut dapat membantu orang tua lebih memperhatikan ekspresi anak, sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaannya dengan cara yang menyenangkan. Kegiatan ini juga memberikan pemahaman bahwa emosi diekspresikan secara berbeda oleh setiap anak.
Berbeda dengan permainan sebelumnya, permainan Penyelamatan Kacang berfokus pada kerja sama dalam menyelesaikan tantangan. Peserta bekerja secara berpasangan atau dalam kelompok kecil untuk memindahkan gelas berisi kacang dari satu titik ke titik lainnya. Untuk mencapai tujuan, peserta perlu mengoordinasikan gerakan dan menyusun cara agar tantangan dapat diselesaikan. Aktivitas ini memberikan pengalaman tentang pentingnya komunikasi yang jelas dan usaha bersama ketika menghadapi kesulitan.
Keterampilan berkoordinasi juga menjadi bagian penting dalam permainan Jejak Petualang. Dalam permainan ini, peserta dalam kelompok besar harus menempatkan tangan dan kaki sesuai jumlah yang ditetapkan co-fasilitator. Setiap peserta perlu memahami instruksi dan menyesuaikan gerakannya dengan anggota kelompok lainnya. Tantangan tersebut memperlihatkan bagaimana keberhasilan bersama membutuhkan kemampuan mendengarkan, berani berpendapat, dan bekerja sama.
Sementara itu, permainan Bangun Bentuk Rahasia mengajak pasangan ibu dan anak untuk menyusun bentuk berdasarkan instruksi model yang tersedia. Salah satu peserta perlu memberikan arahan, sedangkan pasangannya berusaha memahami informasi tersebut untuk menyusun bentuk yang sesuai. Permainan ini menekankan pentingnya menyampaikan pesan secara jelas dan mendengarkan dengan saksama. Ketika terjadi kesalahpahaman, peserta juga perlu menemukan cara untuk memperbaiki komunikasi agar dapat menyelesaikan tantangan.
Permainan terakhir, Labirin Keluarga, turut mengajak peserta untuk bekerja sama. Berangkat dari instruksi cerita tentang seorang anak yang membantu singa buta yang kelaparan, salah satu peserta berperan sebagai anak yang memberikan arahan, sedangkan peserta lainnya menjadi singa yang harus melewati labirin. Untuk mencapai tujuan, peserta perlu menyampaikan dan mengikuti petunjuk dengan tepat. Aktivitas ini memberikan pengalaman mengenai pentingnya komunikasi yang dapat dipahami serta kepercayaan terhadap pasangan ketika menghadapi tantangan.
Setelah menyelesaikan setiap permainan, peserta mengikuti sesi debriefing atau refleksi. Dalam sesi ini, peserta diajak membicarakan pengalaman selama bermain, kesulitan yang dihadapi, serta cara yang membantu mereka menyelesaikan tantangan. Pengalaman tersebut kemudian dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, seperti bagaimana menyampaikan perasaan kepada anggota keluarga, mendengarkan ketika orang lain berbicara, dan mencari jalan keluar bersama ketika menghadapi masalah.
Melalui kegiatan ini, ibu dan anak dari keluarga yang dinaungi oleh MCC Darul Ilmi tak hanya mendapatkan momen untuk bersenang-senang bersama, tetapi juga belajar untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah bersama dalam keluarga. Dengan begitu, harapannya pengalaman ini dapat membantu keluarga membangun resiliensi yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan sehari-hari yang lebih efektif secara bersama-sama.
Penulis artikel: Fitri Fausiyah, M.Psi., M.Phil., Psikolog, Elsa Maulida Rahma, Rinjani Sasikirana Putri, Safa Syifa El Rahma
