Mengulas Film Yuni : Antara Keadaan dan Kebebasan Perempuan

Hi, saya merupakan mahasiswa semester 5 dengan program studi Ilmu Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Cheelsea Sabrina Fairana Flora tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu membayangkan kehidupan yang bebas tetapi tekanan sosial memaksamu untuk pasrah? Kehidupan seperti ini tercermin dalam Film “Yuni” yang disutradarai oleh Kamila Andini. Film “Yuni” telah tayang di bioskop pada 9 Desember 2021 dan saat ini ada di Netflix. Melansir dari situs IMDb, Film “Yuni” adalah salah satu karya sinema Indonesia yang berhasil meraih penghargaan Internasional. Film ini berhasil memperoleh 17 penghargaan bergengsi dari 37 nominasi. Di antaranya adalah pemenang dalam Toronto International Film Festival, Asian World Film Festival, dan International Film Festival Gorinchem. Lantas, bagaimana film “Yuni” bisa terlihat menarik? Siapakah yang harus pasrah menerima keadaan atau justru memberontak untuk memperoleh kebebasan?
Sinopsis Film “Yuni” (2021)
Film “Yuni’ merupakan film dengan genre drama Indonesia yang menceritakan remaja perempuan bernama Yuni. Perempuan ini tengah duduk di bangku SMA dan dikenal sebagai siswi yang pintar dan berprestasi di sekolahnya. Dirinya berencana ingin melanjutkan pendidikan tinggi hingga bangku perkuliahan. Namun, di tengah harapannya, Yuni harus menghadapi tekanan sosial ketika beberapa laki-laki datang untuk melamarnya. Yuni merasa lamaran tersebut menjadi “masalah” baginya. Ia selalu dihantui rasa bersalah apabila menolak lamaran laki-laki. Pasalnya, lingkungan tempat Yuni tinggal yang berada di Kabupaten Serang, Banten, mendukung kepercayaan menikahkan anak perempuannya setelah lulus SMA. Situasi ini semakin rumit ketika Yuni dihadapkan pada pilihan yang berkaitan dengan masa depannya. Melalui perjalanan Yuni, film ini menggambarkan perlawanan perempuan untuk mempertahankan keinginannya di tengah tuntutan keluarga, norma sosial, dan budaya patriarki. Yuni mampu mewakili “kebebasan diri” yang diidam-idamkan oleh perempuan. Karena, tak jarang seorang perempuan hanya bisa pasrah menukar kebahagiaannya agar tetap diterima di “masyarakat”.
Tokoh-tokoh dalam Film “Yuni”
Film dengan durasi 122 menit ini diproduksi oleh Fourcoulours Film, StarVision Plus, Akanga Film Productions. Film “Yuni” diperankan langsung oleh Arawinda Kirana sebagai sang tokoh utama. Selain Yuni, film ini diperankan oleh aktor Indonesia di antaranya Film Asmara Abigail sebagai Suci, Sekar Sari sebagai Rika, Marissa Anita sebagai Bu Lies, Dimas Aditya sebagai Damar, Kevin Ardilova sebagai Yoga, Rukman Rosadi sebagai Bagja, Neneng Wulandari sebagai Sarah, Boah Sartika sebagai Uung, Nazia Thoyib sebagai Nenek, Anne Yasmine sebagai Tika, dan Made Aurelia sebagai Nisa.
Kebebasan dalam Kungkungan Patriarki
Sejatinya, film bisa mencerminkan dan menentang realitas sosial. Film “Yuni” menjadi gambaran dari keberanian seorang perempuan yang ingin hidup dengan bebas berdasarkan kemauannya sendiri. Di tengah situasi dan lingkungan yang memaksa tunduk dengan budaya patriarki, Yuni berjuang memperoleh haknya. Jika dilihat dari Teori Feminisme, cakupannya bahwa bagaimana sebuah film merepresentasikan gender dan ketimpangan sosial akibat budaya patriarki. Yuni, perempuan cerdas yang memiliki prinsip bahwa pendidikan dan masa depan adalah pilihan tepat bagi hidupnya. Namun, pilihan hidup Yuni seakan sirna secara perlahan setelah dirinya dihadapkan dengan laki-laki yang datang untuk melamarnya. Iman, laki-laki pertama yang ingin melamarnya. Pada awalnya, Yuni menolak karena dirinya ingin melanjutkan pendidikannya. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa orang-orang di sekitarnya justru menilai pilihan untuk menolak lamaran laki-laki adalah pilihan yang salah. Ini menunjukkan bahwa dirinya berada di bawah relasi kuasa. Laki-laki dan orang disekitarnya dianggap “lebih memahami dan berhak menentukan” pilihan hidup Yuni daripada dirinya sendiri. Sebuah narasi yang dilontarkan oleh tetangganya “Emang sekolah tinggi tinggi mau jadi apa? Perempuan yang penting dapur, sumur, kasur”. Padahal, seharusnya seorang perempuan memiliki ruang dan porsi yang sama untuk menentukan pilihan hidupnya.
Lamaran Kedua, Dilema Melanda
Yuni kembali dilamar oleh laki-laki untuk kedua kalinya, namanya Mang Dodi. Mang Dodi melamar Yuni dengan sejumlah uang yang ditawarkannya. Namun, lagi-lagi Yuni menolak lamaran Mang Dodi. Yuni mengatakan bahwa dirinya sudah “tidak perawan”. Memang benar, Yuni sudah kehilangan keperawanannya setelah ia melakukan hubungan seksual dengan Yoga. Keduanya seakan mencintai satu sama lain tetapi keadaan yang tidak bisa mempersatukan mereka. Yuni kembali mencari jati dirinya, ia melakukan apapun yang diinginkannya. Namun, dilema kembali melanda, Yuni dihadapkan dengan lamaran dari Pak Damar, gurunya sendiri. Pada awalnya, Yuni tertarik dengan Pak Damar karena beliau merupakan seorang guru yang bijaksana. Ketertarikan ini mulai hilang ketika Yuni mengetahui bahwa Pak Damar berpenampilan menggunakan gamis dan jilbab layaknya perempuan. Pada akhirnya, Yuni dengan “terpaksa” menerima lamaran Pak Damar namun dirinya melarikan diri saat acara pernikahan. Pelarian ini dimaknai sebagai bentuk penolakan tegas mengenai norma sosial yang ada di masyarakat. Namun sayangnya, ending film dikembalikan kepada persepsi masing-masing. Satu hal menarik dari film ini bahwasanya seorang perempuan bebas dan memiliki hak atas hidupnya sendiri. Karena, tidak seharusnya seorang perempuan berada di bawah tekanan sosial dan tunduk pada budaya patriarki.
Sumber: Khanifah, A. N., & Fajriyah, I. M. D. (2023). Film “Yuni” karya Kamila Andini: tubuh perempuan dalam kungkungan patriarki dan pamali. Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam, 22(1), 73-86.
