Konten dari Pengguna

Peran Dosen Tetap Penting pada Pembelajaran Berbasis AI

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

SEVIMA - Peran dosen dalam pendidikan tidak otomatis berkurang ketika kecerdasan buatan mampu membuat ringkasan, menyusun draf, atau menghasilkan materi. Pekerjaan yang membutuhkan empati, pembacaan konteks, pembentukan hubungan, dan tanggung jawab keputusan tetap berada pada manusia. Teknologi dapat mengambil sebagian tugas, tetapi tidak mengambil seluruh fungsi pendidik.

Batas antara otomatisasi dan fungsi manusia menjadi pokok bahasan Dosen Universitas Trunojoyo Madura, Wahyudi Agustiono, M.Sc., Ph.D., dalam sesi daring mengenai pemanfaatan GenAI di perguruan tinggi pada Senin, 17 Maret 2025. Wahyudi membedakan kemampuan kognitif mesin dari kemampuan sosial, emosional, dan kontekstual yang dibutuhkan dalam interaksi pendidikan.

“AI tidak selalu benar. Bahkan tidak semua pekerjaan AI bisa dilakukan,” kata Wahyudi.

Menurutnya, AI dapat membantu banyak pekerjaan berbasis teks dan informasi. Namun, proses pendidikan tidak hanya berisi pengolahan informasi. Dosen juga membaca kondisi mahasiswa, memberi umpan balik sesuai situasi, mempertimbangkan konsekuensi etis, dan membangun kepercayaan yang tidak bisa diperlakukan seperti sekadar keluaran teks.

Peran Dosen Berada di Atas Otomatisasi

Wahyudi menilai kecerdasan buatan terutama bekerja pada ranah kognitif. Sistem dapat memproses perintah, menghasilkan alternatif jawaban, atau mempercepat pekerjaan tertentu. Batasnya terlihat ketika keputusan membutuhkan pemahaman sosial dan emosional yang bergantung pada hubungan antarorang.

“Ini yang tidak bisa digantikan: kemampuan berempati, kemampuan konteks, pembentukan hubungan,” ujar Wahyudi.

Panduan berjudul 'Guidance for generative AI in education and research' dari UNESCO mengusulkan pendekatan human-centred dalam pemanfaatan GenAI. Teknologi ditempatkan untuk mendukung kapasitas manusia, bukan menggantikan agensi manusia dalam pendidikan. Pendekatan ini menjadi penting ketika keputusan menyangkut perkembangan peserta didik, evaluasi, privasi, dan keadilan.

Empati dan Konteks Sulit Diserahkan ke Mesin

Dalam kelas, respons yang sama tidak selalu cocok untuk semua mahasiswa. Nilai rendah dapat berkaitan dengan pemahaman materi, kondisi pribadi, hambatan akses, atau masalah lain yang membutuhkan percakapan. Dosen perlu menilai konteks sebelum menentukan intervensi. AI dapat membantu merangkum data, tetapi hubungan antara data dan keputusan tetap memerlukan penilaian manusia.

Peran dosen terlihat ketika informasi yang tersedia tidak lengkap. Dua mahasiswa dapat memberi jawaban serupa tetapi membutuhkan umpan balik berbeda karena proses berpikir, pengalaman, atau hambatan belajarnya berbeda. Mesin dapat mengusulkan respons berdasarkan pola, sedangkan pendidik perlu menentukan apakah respons tersebut adil, relevan, dan tidak menutup kesempatan mahasiswa untuk berkembang.

Hal serupa berlaku pada asesmen. Skor otomatis dapat membantu memilah pola jawaban, tetapi keputusan yang berdampak besar sebaiknya tidak diserahkan hanya pada keluaran sistem. Dosen perlu mengetahui kriteria penilaian, memeriksa kasus yang meragukan, dan memberi ruang bagi mahasiswa untuk menjelaskan pekerjaannya.

Dalam bimbingan, dimensi hubungan bahkan lebih jelas. Mahasiswa tidak selalu membutuhkan jawaban tercepat. Mereka dapat membutuhkan pertanyaan balik, penjelasan bertahap, atau arahan yang mempertimbangkan tujuan belajar jangka panjang. Kapasitas membaca situasi inilah yang membuat otomatisasi tidak identik dengan penggantian pendidik.

Peran dosen juga mencakup menetapkan batas kapan mahasiswa boleh memakai AI dan kapan kemampuan harus diuji tanpa bantuan. Batas tersebut dapat berbeda antar mata kuliah karena kompetensi yang dinilai tidak sama. Pada kelas pemrograman, misalnya, penggunaan bantuan kode dapat relevan untuk tahap tertentu tetapi tidak untuk menguji pemahaman dasar. Pada kelas menulis, bantuan penyuntingan juga berbeda dengan menyerahkan argumentasi utama kepada mesin.

Karena itu, kebijakan kelas perlu dikaitkan langsung dengan tujuan asesmen. Jika yang dinilai adalah kemampuan menganalisis, dosen perlu melihat jejak alasan dan sumber, bukan hanya produk akhir. Jika yang dinilai adalah keterampilan komunikasi, penggunaan alat bantu dapat diatur tanpa menghilangkan kewajiban mahasiswa memahami isi yang disampaikan.

Wahyudi bahkan menyebut kecerdasan manusia tidak hanya bersifat kognitif. Ada dimensi sosial, emosional, etis, dan kontekstual yang memengaruhi bagaimana keputusan dibuat dan bagaimana konsekuensinya dipahami.

“Porsi kita ini juga masih sangat kuat,” jelas Wahyudi.

Merujuk laman resmi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, 'Panduan Penggunaan Generative Artificial Intelligence pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi' juga menempatkan beban tanggung jawab pada manusia. Dokumen itu menekankan bahwa pemanfaatan GenAI perlu disertai evaluasi risiko, transparansi, dan akuntabilitas, bukan penggunaan secara membabi buta.

AI Membantu, Manusia Menanggung Keputusan

Bagi dosen, pembagian kerja itu dapat diterapkan secara praktis. AI dipakai untuk memunculkan alternatif bahan, mengolah draf awal, atau membantu menyusun variasi aktivitas. Setelah itu, dosen memeriksa isi, menilai kesesuaian dengan capaian pembelajaran, memilih pendekatan yang sesuai kelas, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.

Wahyudi menggambarkan posisinya sebagai upaya menjaga kreativitas manusia tetap berada di atas keluaran mesin. Mesin dapat mempercepat pekerjaan, tetapi hasilnya tetap perlu dibaca sebagai bahan yang harus dipilih dan diarahkan.

Kalimat itu menegaskan peran dosen sebagai pengambil keputusan, bukan sekadar operator alat. Ketika pembelajaran memakai AI, kompetensi yang dibutuhkan justru bertambah: memahami teknologi, mengenali batasnya, memeriksa bias, menjaga integritas, dan mempertahankan hubungan manusia dalam proses belajar.

Peran dosen karena itu tidak hanya bertahan, tetapi berubah. Sebagian pekerjaan rutin dapat dipercepat oleh teknologi, sementara energi pendidik dapat diarahkan ke penilaian, pendampingan, umpan balik, dan pembentukan keterampilan. Nilai manusia berada pada kemampuan menentukan tujuan dan konsekuensi, bukan sekadar menghasilkan jawaban lebih cepat.