Konten dari Pengguna

Budaya Politik Damai: Jalan Rekonsiliasi Bangsa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Francisco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https//www.pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
https//www.pexels.com

Konflik sosial dan politik bukan hal baru di Indonesia. Sejarah bangsa kita penuh dengan dinamika perebutan kuasa, diskriminasi, dan kekerasan atas nama ideologi maupun identitas. Tapi pertanyaannya: apakah kita hanya akan terus mengingat luka itu, atau mulai membangun budaya politik yang menyembuhkan?

Saatnya Meninggalkan Budaya Politik Permusuhan

Hari-hari ini, kita masih sering menyaksikan bagaimana perbedaan pandangan politik berubah menjadi permusuhan. Di media sosial, ruang publik, bahkan di rumah tangga, politik menjadi pemicu retaknya hubungan. Ini menandakan bahwa kita belum benar-benar punya budaya politik yang sehat.

Budaya politik seharusnya bukan soal siapa menang dan siapa kalah, tetapi bagaimana kita bisa berdialog dan mencari jalan tengah. Negara yang matang secara demokratis selalu menempatkan perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman.

Rekonsiliasi Butuh Ruang, Bukan Sekadar Seruan

Bicara soal rekonsiliasi, banyak pihak sering menggaungkannya setelah konflik besar terjadi. Tapi rekonsiliasi tidak bisa instan. Ia butuh proses, ruang aman untuk bicara, serta pengakuan atas luka yang pernah ada. Lebih dari itu, rekonsiliasi memerlukan budaya politik yang berpihak pada keadilan dan kesetaraan, bukan hanya elite yang duduk di meja kekuasaan.

Tanpa budaya politik yang damai, rekonsiliasi hanya jadi jargon. Kita butuh sistem yang membuka ruang bagi semua pihak, termasuk mereka yang dulu tersingkir dari proses politik.

Peran Masyarakat dan Generasi Muda

Mengubah budaya politik bukan tugas pemerintah semata. Justru masyarakat sipil, komunitas, dan anak muda punya peran sentral. Kita harus mulai membiasakan diri untuk berdiskusi, tidak baperan saat berbeda pandangan, dan berani bicara untuk kebenaran tanpa harus menyakiti.

Pendidikan politik juga harus dimulai dari hal-hal kecil: mengajarkan empati, mendengarkan orang lain, dan tidak terjebak pada polarisasi hitam-putih. Politik itu soal membangun, bukan menjatuhkan.

Jika kita ingin hidup dalam masyarakat yang damai dan adil, kita perlu memulai dari membenahi budaya politik kita sendiri. Perdamaian tidak bisa dibangun di atas ketakutan dan kebencian. Ia hanya tumbuh jika kita mau membuka hati, saling mendengar, dan mengutamakan masa depan bersama ketimbang ego sesaat.