Kredit Usaha Rakyat: Efektif Membantu atau Hanya Simbol Kebijakan?

Mahasiswa program studi pendidikan ekonomi di universitas pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Francisco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KUR — Membawa Perubahan, Tapi Belum Selesai Sepenuhnya
Sejak tahun 2007, ada satu program yang diharapkan menjadi pelita bagi para pelaku usaha kecil di seluruh negeri: Kredit Usaha Rakyat, atau yang kita kenal sebagai KUR. Tujuannya sangat mulia — membuka akses modal bagi mereka yang selama ini ingin berkembang, tetapi belum bisa disentuh oleh pinjaman biasa. Dengan dana yang sudah disalurkan mencapai ribuan triliun rupiah, KUR bukan sekadar deretan angka di atas kertas. Ia telah mengubah kehidupan banyak orang. Namun, satu pertanyaan tetap mengemuka: apakah program ini benar-benar menyentuh inti masalah, atau hanya terlihat indah di permukaan saja?
Cerita Perubahan yang Nyata
Sebelum adanya KUR, jutaan orang yang ingin membangun usahanya sering kali terhenti di pintu bank. Tidak ada agunan, tidak ada riwayat pinjaman yang jelas — sehingga peluang tertutup rapat. KUR hadir dengan syarat yang lebih ringan dan bunga yang terjangkau, bahkan kini serendah 6% per tahun. Tiba-tiba, modal yang dulu sulit didapat kini bisa digunakan untuk menambah barang dagangan, membeli peralatan baru, hingga membuka pasar yang lebih luas.
Dan hasilnya terasa nyata. Berbagai penelitian menceritakan bahwa mereka yang menerima KUR rata-rata merasakan kenaikan pendapatan sekitar 17%, laba naik 16%, dan bahkan bisa memberi pekerjaan kepada lebih banyak orang — jumlah tenaga kerja bertambah hingga 22%. Dari sisi ekonomi, setiap rupiah yang disalurkan ternyata berkembang menjadi sekitar satu setengah kali lipat, dan jutaan lapangan kerja baru lahir.
Bukan itu saja. Dengan memiliki akses ke KUR, banyak pelaku usaha mulai menyadari pentingnya mengurus izin dan legalitas. Usaha yang tadinya berjalan sendiri kini mulai tertata, siap tumbuh lebih besar. Dan saat masa sulit datang — seperti saat pandemi lalu — KUR menjadi penyangga yang menahan banyak usaha agar tidak berhenti sama sekali. Tingkat kredit yang bermasalah pun tetap rendah, di bawah 3%.
Namun, Mengapa Masih Ada yang Belum Merasakannya?
Meski begitu, belum semua orang yang membutuhkan benar-benar mendapatkannya. Bank-bank penyalur cenderung memilih mereka yang sudah dikenal dan dianggap aman, sehingga mereka yang benar-benar baru memulai dan belum punya akses justru tertinggal. Banyak di desa-desa dan daerah terpencil belum tahu, atau belum bisa menjangkaunya. Secara keseluruhan, kebutuhan pembiayaan UMKM yang belum terpenuhi masih sangat besar — diperkirakan mencapai Rp2.400 triliun. Artinya, KUR belum mampu menutup semuanya.
Lagi pula, baru sebagian kecil — sekitar 2 dari 10 penerima — benar-benar melihat usahanya tumbuh naik kelas. Sebagian besar tetap berjalan seperti sedia kala, dan terus bergantung pada pinjaman bersubsidi. Yang berhasil berdiri sendiri tanpa bantuan bunga rendah hanya sekitar 3%. Ternyata, modal saja belum cukup untuk mengubah nasib usaha.
Karena sesungguhnya, kendala terbesar bukan lagi soal uang. Yang dirasakan banyak pelaku usaha adalah pasar yang belum pasti, keterampilan yang perlu ditingkatkan, pemahaman mengelola keuangan yang masih sederhana, serta akses teknologi dan pembeli yang terbatas. KUR memberi dana, tetapi pendampingan untuk menggunakannya dengan tepat belum selalu menyertai.
Belum lagi, meski dikatakan mudah, prosedur dan persyaratan yang ada masih menyisakan rintangan. Dan di balik semua itu, ada biaya besar yang ditanggung negara lewat subsidi bunga. Jika kemampuan usaha tidak ikut tumbuh, dikhawatirkan program ini akan terus menjadi beban anggaran tanpa menghasilkan kemandirian yang kokoh.
Jalan yang Masih Terus Berjalan
Jadi, KUR bukan sekadar simbol — ia telah menolong banyak orang. Namun ia belum sempurna. Bisa dikatakan, KUR itu seperti benih yang sudah ditanam, tetapi belum selalu disertai pupuk, air, dan perawatan yang cukup agar tumbuh menjadi pohon yang kuat.
Agar tidak berhenti di sini, ada hal-hal yang perlu diubah:
Dana sebaiknya disertai bimbingan — cara mengelola keuangan, cara memajukan usaha, bukan sekadar menyerahkan uang;
Penyaluran diarahkan ke daerah dan kelompok yang benar-benar belum tersentuh, bukan hanya kepada mereka yang sudah dikenal bank;
Pengawasan diperketat agar dana digunakan untuk hal yang benar-benar mengembangkan usaha;
Serta melengkapi bantuan modal dengan dukungan pasar, kemajuan digital, dan kemitraan — karena uang yang murah tidak akan berguna jika tidak ada yang membeli hasil kerjanya.
KUR adalah langkah yang benar, tetapi perjalanannya belum selesai. Ia baru akan disebut sukses sepenuhnya ketika para penerimanya tidak lagi membutuhkan KUR — karena usahanya sudah mandiri, tumbuh, dan mampu berdiri sendiri.
