Konten dari Pengguna

Pekerja Muda dan Pengangguran Terbuka: Tantangan Demografi Emas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Francisco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia

Pekerja Muda dan Pengangguran Terbuka: Tantangan di Balik Harapan Emas

Kita sering mendengar kabar indah: negeri ini sedang memasuki masa keemasan. Jumlah pemuda yang siap bekerja sangat banyak — ini adalah anugerah, peluang besar yang tidak semua negara miliki. Namun di balik harapan yang bersinar itu, ada bayangan yang tak boleh kita abaikan: banyak dari mereka yang bersemangat itu justru berdiri di tepi pintu, menunggu kesempatan yang belum datang.

Mereka adalah para pemuda yang baru lulus, yang sudah berjuang menuntut ilmu, berharap bisa berkarya, membangun masa depan, dan berkontribusi bagi keluarga serta bangsa. Namun kenyataannya, ada yang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mencari kerja, belum juga mendapat tempat. Inilah yang kita sebut pengangguran terbuka — bukan karena tidak mau bekerja, melainkan karena belum ada kesempatan yang menyambut.

Harapan yang Menjadi Ujian

Demografi emas itu ibarat ladang yang penuh benih yang siap tumbuh. Jika dirawat dengan baik, akan tumbuh hutan yang lebat dan bermanfaat bagi semua. Tapi jika tidak disiapkan tanahnya, tidak diberi air dan perawatan, benih-benih itu justru akan terbuang, atau tumbuh di tempat yang tidak seharusnya.

Banyak pemuda yang kini berdiri di persimpangan. Di satu sisi, mereka penuh ilmu, penuh semangat, cepat memahami hal baru, dan berani bermimpi. Di sisi lain, keterampilan yang mereka miliki belum selalu sesuai dengan apa yang dibutuhkan dunia kerja. Sekolah kadang mengajarkan cara yang dulu berlaku, sementara dunia sudah berubah — bergerak cepat ke arah teknologi, digital, dan cara kerja yang baru. Akibatnya, lulusan menunggu pekerjaan, sementara perusahaan justru kesulitan mencari tenaga yang tepat.

Belum lagi, kesempatan belum merata. Pemuda di kota besar lebih mudah melihat peluang, sementara saudara mereka di daerah terpencil sering kali hanya mendengar cerita tentangnya. Ada yang terhambat biaya untuk melanjutkan pendidikan, ada yang tidak mendapat informasi lowongan, ada yang kalah bersaing hanya karena tidak memiliki koneksi yang memadai. Semua ini membuat potensi yang seharusnya menjadi kekuatan besar, justru menjadi beban yang berat jika dibiarkan.

Mengapa Ini Menjadi Urusan Kita Semua?

Pengangguran di kalangan pemuda bukan sekadar angka di laporan. Itu adalah masa depan yang tertunda. Ketika pemuda tidak bisa menyalurkan kemampuannya, bakatnya tidak berkembang, ilmunya perlahan memudar, dan semangatnya perlahan meredup. Mereka yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi, pencipta karya, dan perubah keadaan, justru menunggu tanpa kepastian.

Dan ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang menganggur. Seluruh bangsa ikut merasakannya. Potensi yang tidak tersalurkan berarti kekayaan yang tidak tercipta, ide yang tidak terwujud, serta kemajuan yang berjalan lebih lambat dari seharusnya. Demografi emas bisa berubah menjadi beban berat jika tidak dikelola dengan bijak — karena jumlah pemuda yang besar tanpa kesempatan yang layak akan menimbulkan kesenjangan, keputusasaan, dan ketidakstabilan.

Ke Mana Harus Kita Melangkah?

Masa keemasan ini bukan datang dengan sendirinya — ia harus dijemput bersama-sama.

Pendidikan harus berubah arah. Tidak cukup hanya mencetak lulusan yang pandai menghafal — kita membutuhkan pemuda yang mampu berpikir, berkreasi, menguasai teknologi, dan berani menciptakan pekerjaan sendiri, bukan hanya mencarinya. Sekolah dan pelatihan harus berbicara langsung dengan dunia usaha, agar apa yang dipelajari benar-benar berguna dan dibutuhkan.

Kesempatan harus dibuka selebar-lebarnya. Tidak boleh ada pemuda tertinggal hanya karena tempat lahir atau keadaan keluarga. Informasi peluang, pelatihan keterampilan, dan dukungan modal harus menjangkau mereka di mana pun berada. Bantuan tidak boleh berhenti di pemberian dana — harus disertai bimbingan, pendampingan, dan dukungan agar usaha yang dirintis benar-benar kokoh dan mandiri.

Dan yang paling penting: kita harus melihat pemuda bukan sebagai masalah yang harus ditangani, melainkan sebagai kekuatan utama yang harus didukung. Mereka butuh kepercayaan, kesempatan, dan ruang untuk berkarya.

Penutup

Demografi emas itu nyata — kita memilikinya sekarang. Namun ia bukan jaminan kemakmuran; ia hanyalah kesempatan langka yang datang sekali dalam beberapa generasi.

Jika kita menyambutnya dengan persiapan yang matang, kesempatan yang luas, dan dukungan yang tulus, para pemuda ini akan mengangkat negeri ini ke tempat yang lebih tinggi. Tetapi jika kita membiarkannya berlalu begitu saja, masa depan yang cerah itu akan berubah menjadi penyesalan yang datang terlambat.

Pilihan ada di tangan kita — dan waktu tidak menunggu. Masa depan negeri ini tidak ditentukan oleh angka, melainkan oleh seberapa baik kita membimbing dan memberi tempat bagi mereka yang akan meneruskannya.