Konten dari Pengguna

Mengapa Pertumbuhan Ekonomi 5%–6% Masih Menjadi Sasaran yang Sulit Dicapai?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Francissco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia

Mengapa Pertumbuhan Ekonomi 5%–6% Masih Menjadi Sasaran yang Sulit Dicapai?

Kita sering mendengar angka itu disebut-sebut: 5% hingga 6%. Angka ini seolah menjadi pintu gerbang menuju kemakmuran yang lebih nyata, kesempatan kerja yang melimpah, dan kemajuan yang lebih cepat. Namun tahun berganti, rencana disusun kembali, angka itu tetap menjadi sasaran yang belum sepenuhnya terjangkau. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena jalan menuju ke sana masih terhalang banyak hal yang belum selesai kita rapikan.

Apa yang Sebenarnya Menahan Langkah Kita?

1. Fondasi yang Belum Kuat Seutuhnya

Pertumbuhan yang tinggi tidak bisa berdiri di atas satu atau dua sektor saja. Selama ini, pergerakan ekonomi kita masih sangat bergantung pada pengeluaran masyarakat dan harga barang mentah di pasar dunia. Ketika orang-orang berhati-hati membelanjakan uangnya, atau harga komoditas turun, laju kemajuan ikut melambat. Kita belum memiliki banyak industri kuat yang mengolah kekayaan negeri sendiri menjadi barang jadi — yang nilainya besar dan tetap di sini. Tanpa fondasi yang beragam dan kokoh, melompat ke angka 5%–6% ibarat berlari dengan beban yang belum seimbang.

2. Daya Beli yang Belum Kembali Penuh

Roda ekonomi berputar ketika ada yang membeli. Namun saat ini, banyak keluarga masih menata kembali keuangannya. Biaya kebutuhan yang terus naik, sementara pendapatan belum pulih sepenuhnya, membuat orang lebih berhati-hati. Pengeluaran yang berkurang berarti permintaan yang menurun — usaha menjual lebih sedikit, produksi tidak naik, dan pertumbuhan pun tertahan. Ini bukan keinginan untuk tidak berbelanja, melainkan kemampuan yang belum sepenuhnya kembali.

3. Usaha Kecil Belum Bisa Menjadi Penggerak Utama

UMKM adalah jumlah terbesar dalam perekonomian kita. Namun sebagian besar masih berjalan dengan skala kecil, modal terbatas, dan keterampilan yang belum serentak maju. Banyak yang belum bisa beralih ke cara kerja yang lebih modern, memasarkan ke tempat yang lebih luas, atau berkemitraan dengan usaha besar. Jika puluhan juta pelaku usaha ini belum tumbuh bersama, maka laju ekonomi akan tetap lambat — sekuat apa pun usaha besar maju, langkahnya belum cukup untuk mengangkat semuanya sekaligus.

4. Kesenjangan yang Menahan Kemajuan

Kesempatan belum merata di seluruh pelosok. Di satu sisi, kota besar dan wilayah strategis tumbuh pesat. Di sisi lain, daerah-daerah tertinggal masih berjuang membangun sarana, akses, dan kemampuan manusianya. Potensi yang tersebar di seluruh negeri belum sepenuhnya tersentuh — setiap wilayah yang tertinggal berarti kekuatan yang tidak ikut berperan. Pertumbuhan yang tinggi sulit dicapai jika sebagian besar wilayah belum bergerak bersama.

5. Dunia Kerja dan Keterampilan yang Belum Bersua

Banyak lapangan kerja yang membutuhkan tenaga terampil, sementara banyak pencari kerja belum memiliki kemampuan tersebut. Pendidikan dan pelatihan belum sepenuhnya selaras dengan apa yang dibutuhkan sekarang dan nanti. Akibatnya, potensi tenaga kerja yang besar belum bisa diubah menjadi kekuatan produksi yang nyata. Tanpa kemampuan yang tepat, kita tidak bisa melangkah lebih cepat — karena kemajuan sejati lahir dari kemampuan rakyatnya sendiri.

6. Ketergantungan pada Luar dan Ketidakpastian

Kita masih mudah terpengaruh oleh apa yang terjadi di negara lain. Permintaan pasar luar negeri yang naik-turun, perubahan suku bunga, harga energi — semua itu langsung menyentuh kita. Ketidakpastian ini membuat perencanaan jangka panjang menjadi sulit, dan investasi yang dibutuhkan untuk mempercepat kemajuan belum selalu masuk dengan lancar.

Bukan Hal yang Mustahil, Tetapi Belum Selesai Dikerjakan

Angka 5%–6% bukanlah mimpi yang mustahil dicapai. Negara lain pernah melakukannya, dan kita pun pernah melakukannya. Perbedaannya adalah: dulu mungkin cukup mengandalkan kekayaan alam dan tenaga kerja yang murah. Kini, persaingan lebih ketat, tantangan lebih berat, dan kemajuan harus dibangun di atas kemampuan yang lebih tinggi.

Untuk mencapai angka itu, tidak cukup hanya menginginkannya — kita harus mengubah cara kita membangun ekonomi:

Membuat fondasi yang lebih beragam, tidak bergantung pada satu hal saja;

Memperkuat daya beli dengan menyejahterakan pendapatan masyarakat secara merata;

Membantu usaha kecil tumbuh menjadi lebih besar, bukan sekadar bertahan;

Membuka kesempatan yang sama untuk semua daerah;

Menyelaraskan pendidikan dan keterampilan dengan kebutuhan masa depan;

Membangun kemandirian agar tidak mudah terguncang oleh keadaan luar.

Penutup

Sasaran 5%–6% itu nyata. Ia bukan angka yang ditetapkan sembarangan, melainkan kecepatan yang dibutuhkan agar kita bisa mengejar ketertinggalan, menyejahterakan rakyat, dan berdiri setara dengan negara-negara maju. Namun ia tidak akan datang dengan sendirinya. Ia harus dijemput dengan perubahan yang menyeluruh, kesabaran, dan kerja bersama.

Ketika setiap orang memiliki kemampuan yang layak, setiap usaha mendapat dukungan yang tepat, setiap daerah tumbuh merata, dan kekayaan negeri diolah sendiri hingga menjadi barang bernilai tinggi — maka angka itu bukan lagi sasaran yang sulit. Ia akan menjadi hasil yang datang sendiri, sebagai cerminan kemajuan yang nyata dan berkelanjutan.