UMKM: Tulang Punggung Ekonomi Indonesia yang Belum Sepenuhnya Didukung

saya adalah seorang mahasiswa universitas pamulang dengan prodi pendidikan ekonomi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Francissco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

UMKM: Tulang Punggung Ekonomi Indonesia yang Belum Sepenuhnya Didukung
Kawan, coba kita lihat sekeliling kita. Di gang sebelah rumah, ada Bu Siti yang setiap pagi menyiapkan nasi bungkus untuk pekerja lewat. Di pinggir jalan raya, ada toko kelontong milik Pak Budi yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Di desa tak jauh dari kota, ada kelompok pemuda yang mengolah kopi dari kebun sendiri, mengemasnya rapi, lalu menjualnya ke seluruh penjuru negeri lewat ponsel. Dan tak ketinggalan, pengrajin di pelosok yang dengan tangan sendiri membatik, mengukir, atau menenun kain khas daerahnya. Merekalah yang kita sebut Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah — atau singkatnya UMKM. Seringkali kita lewat begitu saja tanpa menyadari, bahwa sebenarnya merekalah penyangga terkuat perekonomian kita ini, tulang punggung yang menopang kehidupan jutaan keluarga setiap harinya.
Bayangkan betapa besarnya peran mereka: dari setiap sepuluh orang yang bekerja di negeri ini, hampir sembilan mendapat nafkah dari sektor ini. Mereka bukan sekadar berjualan — mereka memberi pekerjaan kepada tetangga, kerabat, anak-anak muda yang kesulitan mendapat tempat di perusahaan besar, bahkan kepada anggota keluarga sendiri. Ketika masa sulit datang, seperti saat pandemi dulu yang membuat banyak tempat kerja besar tutup, justru UMKM inilah yang tetap berdiri, memberi nafkah, menjaga roda kehidupan tetap berputar di tingkat paling bawah. Dari kota sampai desa, dari pulau padat sampai pulau kecil, merekalah yang membuat perekonomian ini tetap bernapas, tetap hidup, tetap menampung siapa saja yang ingin berusaha. Itulah sebabnya mereka disebut tulang punggung — tanpa mereka, bangunan perekonomian ini akan goyah.
Namun, kawan, ironisnya, punggung yang menanggung beban seberat ini belum selalu mendapat sandaran yang layak. Coba kita ikuti perjalanan salah satu dari mereka, misalnya pemuda pengolah kopi tadi. Ia punya semangat, punya kualitas produk yang baik, dan tahu caranya menjual — tapi ia kesulitan mendapat pinjaman modal dengan biaya ringan untuk menambah mesin atau memperluas tempat. Bank terasa terlalu jauh, terlalu banyak syarat, terlalu rumit baginya. Lalu ketika ia sudah berusaha memproduksi dengan baik, jalan yang menghubungkan ke pasar belum cukup baik, biaya pengiriman mahal, sehingga harga yang ia tawarkan tak lagi bersaing. Belum lagi banyak di antara mereka yang belum terbiasa mencatat keuangan secara rapi, belum paham cara melindungi hasil karyanya, atau belum mengerti aturan yang seharusnya melindungi mereka — sehingga ketika ada kesulitan datang, mereka tak punya cukup tempat untuk berlindung.
Masalahnya bukan karena mereka kurang giat atau kurang pandai. Justru sebaliknya: mereka sudah bekerja keras sejak fajar menyingsing hingga malam larut. Yang belum cukup ada adalah dukungan yang menyertai langkah mereka dari awal hingga akhir. Banyak yang masih berjalan sendiri, seolah-olah tulang punggung ini harus menopang semuanya sendirian tanpa mendapat kekuatan dari sisi lain. Padahal jika mereka didukung dengan benar — jika modal mudah dijangkau, jika jalan dan jaringan sampai ke tempat mereka, jika ilmu dan keterampilan terus dibarui, jika aturan memudahkan bukan mempersulit — bayangkan betapa kuatnya perekonomian kita ini. Bukan hanya ada satu atau dua perusahaan raksasa yang terlihat dari jauh, tetapi ratusan ribu usaha di mana-mana tumbuh sehat, saling menguatkan, dan menyejahterakan lingkungan sekitarnya.
Seringkali kita memandang kemajuan hanya dari gedung tinggi atau nama perusahaan besar. Padahal kemakmuran yang sejati itu tumbuh dari bawah — dari toko yang makin ramai, dari kebun yang diolah sendiri, dari tangan yang berkarya. Jika tulang punggung ini sehat dan kuat, seluruh tubuh akan tegak berdiri. Jika mereka makmur, jutaan keluarga ikut makmur. Jika mereka berkembang, kesejahteraan menyebar merata ke setiap sudut negeri.
Jadi, kawan, inilah hal yang seharusnya kita sadari bersama: UMKM memang sudah menjadi tulang punggung kita, tetapi tulang punggung itu butuh dijaga, diperkuat, tidak dibiarkan menanggung beban sendirian. Dukungan itu bukan hanya dari pemerintah — meskipun perannya sangat besar — tetapi juga dari kita semua. Ketika kita lebih memilih membeli karya tetangga, produk anak bangsa, barang yang dibuat di daerah sendiri, kita sedang menopang mereka. Ketika kita berbagi ilmu, memberi kesempatan, atau sekadar mendorong mereka yang berusaha di sekitar kita, kita sedang menguatkan tulang punggung ini.
Masa depan Indonesia tidak hanya dibangun di gedung-gedung besar, tetapi juga di setiap kedai kecil, setiap bengkel, setiap dapur yang berubah menjadi tempat berkarya. Biarkan mereka tidak sekadar disebut tulang punggung, tetapi benar-benar diperlakukan seperti itu — dihormati, dibantu, diberi jalan yang lapang untuk melangkah. Karena jika mereka tumbuh kuat, kita semua ikut berdiri tegak. Dan jika mereka sejahtera, maka sejahteralah seluruh negeri.
