Generasi Muda: Kaya Informasi, Minim Literasi

Murid SMA Kelas 12 di SMA Santa Ursula Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Freidelita Amadea Budiono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemampuan literasi menjadi dasar penting dalam pendidikan karena merupakan fondasi bagi murid untuk menyaring arus informasi dan mengasah kemampuan berpikir kritis. Namun, krisis literasi di Indonesia masih menjadi perhatian. Permasalahan ini bukan hanya berkaitan dengan rendahnya minat membaca, tetapi juga kemampuan membaca generasi muda yang masih di bawah standar. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian murid belum memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami informasi secara optimal. Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana sistem penilaian dalam pendidikan mampu memastikan setiap murid memiliki kemampuan literasi yang memadai.
Rendahnya kemampuan literasi fungsional dan komprehensi membaca masih menjadi tantangan di kalangan generasi muda. Literasi fungsional merupakan kemampuan untuk membaca, menulis, dan berhitung yang dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari, sedangkan komprehensi membaca adalah kemampuan untuk memahami, menangkap, dan mengolah makna suatu teks, bukan sekadar membacanya. Namun, berdasarkan data PISA, hanya sekitar 25% murid Indonesia yang mencapai tingkat minimum kecakapan membaca. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar generasi muda masih kesulitan dalam memahami dan mengolah informasi yang mereka baca. Sementara itu, tingkat kegemaran membaca masyarakat yang mencapai 54,8% belum sepenuhnya menunjukkan kuatnya kemampuan literasi di masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa tingginya minat baca belum pasti diikuti dengan kemampuan memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara efektif. Jika kemampuan tersebut belum dapat dikuasai, generasi muda cenderung lebih sulit menyaring informasi dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari.
Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah membuat minat generasi muda terhadap buku fisik menurun. Berkembangnya teknologi digital saat ini telah membuat hampir seluruh aspek kehidupan didigitalisasikan. Akibatnya, buku, informasi, berita, semua dapat diakses lewat gawai. Kemudahan tersebut membuat generasi muda seringkali memilih sesuatu yang lebih praktis dan instan dibandingkan harus membuka lembar secara fisik. Waktu luang mereka seringkali lebih banyak dihabiskan untuk menggunakan media sosial, menonton video pendek, atau membaca ringkasan singkat di internet. Walaupun hal tersebut membuat mereka bisa mendapatkan akses akan informasi secara lebih mudah dan cepat, mereka menjadi kurang terlatih untuk membaca buku-buku fisik yang memiliki teks panjang dan mendalam. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2026, sebanyak 43,4% pengguna internet di Indonesia menghabiskan 4-6 jam per hari untuk mengakses internet. Perangkat yang paling sering digunakan adalah smartphone dengan presentasi 84.31%. Besarnya waktu yang dihabiskan di depan layar menunjukkan bahwa perhatian generasi muda seringkali terperangkap dalam dunia digital dibandingkan aktivitas membaca buku fisik. Apabila kondisi ini terus berlanjut, kebiasaan membaca buku yang mendalam akan semakin tergeser dan dapat memperburuk rendahnya komprehensi membaca yang telah dijelaskan sebelumnya.
Rendahnya literasi fungsional dan komprehensi membaca di kalangan generasi muda tidak hanya disebabkan oleh kurangnya minat membaca, tetapi juga kemampuan memahami teks yang belum terbentuk secara baik sejak dini, serta bergesernya kebiasaan membaca akibat digitalisasi. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan harusnya berfokus pada tiga hal. Pertama, menanamkan keterampilan membaca sejak dini agar kebiasaan membaca teks yang mendalam dapat terbentuk sebelum anak terbiasa dengan informasi yang serba cepat dan instan. Kedua, memastikan kemampuan dasar, yaitu membaca, menulis, dan menghitung, telah dikuasai dengan baik sebelum mereka melangkah ke materi yang lebih sulit. Ketiga, menggunakan pembelajaran secara digital dengan bijak, dalam hal ini pembelajaran digital berfungsi sebagai pendukung, bukan sebagai pengganti.
Dengan langkah-langkah tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya suka membaca, tetapi juga mampu memahami makna dan isi teks, menyaring, serta memanfaatkan informasi secara kritis. Namun, kurikulum pendidikan dari pemerintah tersebut juga harus ditanggapi dan diterapkan secara langsung oleh guru dan murid untuk memastikan bahwa literasi generasi muda dapat memenuhi standar. Penerapan tersebut membutuhkan kerja sama antara sekolah, guru, murid, dan pemerintah agar kemampuan literasi tidak hanya menjadi target dalam kurikulum, tetapi juga menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, upaya meningkatkan literasi dapat berjalan secara berkelanjutan dan menghasilkan generasi yang lebih mampu berpikir kritis serta menghadapi perkembangan informasi.
