Kecerdasan Buatan dalam Dunia Pendidikan: Peluang atau Ancaman bagi Siswa?

Mahasiswa universitas pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fuad Rabbani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang semakin banyak digunakan adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini memungkinkan pengguna memperoleh informasi, memahami materi pelajaran, menyusun ide, hingga mendapatkan bantuan dalam menyelesaikan berbagai persoalan akademik. Kehadiran AI membuka peluang baru bagi siswa untuk belajar secara lebih fleksibel, cepat, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Dalam kegiatan belajar, AI dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat. Siswa dapat memanfaatkan teknologi ini untuk memahami materi yang sulit, mencari penjelasan tambahan, berlatih menjawab soal, dan mengembangkan kreativitas. Bagi guru, AI juga berpotensi membantu menyiapkan bahan ajar serta menciptakan metode pembelajaran yang lebih bervariasi. Dengan pemanfaatan yang tepat, teknologi ini dapat mendukung proses pembelajaran agar menjadi lebih efektif dan menarik.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan AI juga menghadirkan tantangan yang perlu diperhatikan. Kemudahan memperoleh jawaban secara instan dapat membuat sebagian siswa terlalu bergantung pada teknologi. Jika AI digunakan hanya untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami materi, siswa berisiko kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemandirian, dan pemecahan masalah. Selain itu, informasi yang dihasilkan AI tidak selalu benar sehingga siswa perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa dan menilai kebenaran informasi yang diperoleh.
Permasalahan ini menunjukkan bahwa kehadiran AI dalam pendidikan tidak dapat dipandang hanya sebagai peluang ataupun ancaman. Dampaknya sangat bergantung pada cara teknologi tersebut digunakan oleh siswa, guru, dan lingkungan pendidikan. AI seharusnya menjadi alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir dan usaha siswa dalam memahami ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, literasi digital, tanggung jawab akademik, dan kemampuan berpikir kritis menjadi hal penting yang perlu dikembangkan seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi AI.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menekankan pentingnya peran sekolah dan guru dalam membentuk kemampuan berpikir siswa di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan artifisial (AI) dalam pendidikan. Hal tersebut disampaikan Wamen Stella dalam Konvensi Tahunan ke-9 Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) Indonesia, Kamis (1/10).
Penggunaan AI dalam menyelesaikan persoalan akademik dicontohkan. Wamen Stella memaparkan studi yang menunjukkan penggunaan AI sebagai tutor meningkatkan hasil selama proses latihan sebesar 127%. Namun, ketika diuji kembali tanpa AI, kelompok yang menggunakan AI sebagai tutor tidak menunjukkan perbedaan dibandingkan kelompok yang tidak menggunakan GPT. Ia juga menyampaikan penelitian yang menunjukkan kemampuan diagnosis dokter turun dari 28,4% menjadi 22,4% setelah tiga bulan menggunakan AI secara rutin.
Kalau hanya AI yang memecahkan masalah, meringkas, dan menyusun informasi sendiri, bukti yang saya sampaikan, masih banyak lagi, cuma saya waktunya sedikit, sampai saat ini memperlihatkan bahwa manusianya jadi tidak belajar,” ujar Wamen Stella.
Menurut saya, kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan merupakan peluang sekaligus tantangan bagi siswa. AI dapat membantu proses belajar menjadi lebih mudah dan efektif, tetapi jika digunakan secara berlebihan, dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis dan kemandirian siswa. Oleh karena itu, AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir manusia.
