Krisis Kabut Asap di Kalimantan: Dampaknya terhadap Kesehatan dan Pendidikan

Mahasiswa universitas pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fuad Rabbani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan permasalahan lingkungan yang berulang di Indonesia, termasuk di wilayah Kalimantan. Kebakaran tersebut dapat menghasilkan kabut asap yang menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi ini menjadi persoalan penting karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan keberlangsungan pelayanan pendidikan.
Kabut asap mengandung partikel pencemar, termasuk PM2.5, yang berukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan polusi udara akibat kebakaran dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, memperburuk kondisi penderita asma, serta menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan. Anak-anak dan kelompok yang memiliki kondisi kesehatan tertentu memerlukan perhatian khusus ketika kualitas udara memburuk.
Dampak kabut asap juga dapat meluas ke sektor pendidikan. Ketika kualitas udara berada pada tingkat yang tidak sehat, kegiatan belajar mengajar secara langsung dapat terganggu sehingga sekolah perlu menyesuaikan metode atau jadwal pembelajaran. Pada Agustus 2026, misalnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan pembelajaran jarak jauh bagi satuan pendidikan terdampak dengan kondisi kualitas udara tidak sehat dan berbahaya. Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla juga membutuhkan langkah untuk menjaga kesehatan warga sekolah sekaligus mempertahankan keberlangsungan pembelajaran. Kabut asap akibat karhutla dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama ketika masyarakat terpapar dalam waktu lama atau berada di wilayah dengan kualitas udara yang buruk.
Partikel halus PM2.5 dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, pilek, sesak napas, iritasi mata, dan memburuknya gejala asma.
Sebagai contoh, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah melaporkan bahwa hingga 28 September 2026 terdapat 177 kasus gangguan kesehatan terkait kondisi udara di sembilan satuan pendidikan. Kasus yang dilaporkan mencakup 125 kasus ISPA berupa batuk atau pilek, 25 kasus sesak napas atau asma, dan 27 kasus iritasi mata atau kulit. Data tersebut menggambarkan adanya persoalan kesehatan di lingkungan pendidikan pada wilayah terdampak, meskipun tidak mewakili seluruh sekolah di Kalimantan.
Mendikdasmen menegaskan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tetap mengedepankan tiga prinsip. Pertama, keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama. Kedua, hak belajar murid tidak berhenti. Ketiga, pemulihan pascabencana harus terencana sejak awal.
Kemendikdasmen siap bergerak cepat bersama seluruh kementerian/lembaga terkait guna memastikan seluruh murid terdampak Karhutla tidak kehilangan hak belajar dan terus melakukan proses pembelajaran yang efektif, adaptif, dan efisien,” tuturnya di Jakarta, Jumat (21/8).
Dalam menyikapi karhutla, Mendikdasmen juga mendorong kepala sekolah, pengawas, pembina, dan penilik untuk menjaga proses PJJ berjalan dengan baik. Kepala sekolah adalah pihak yang memegang kendali penuh atas pelaksanaan dan pengawasan PJJ. Pengawas, pembina, dan penilik di masing-masing satuan pendidikan bertugas membantu memantau dan melakukan pembinaan guna mendukung antisipasi penanggulangan kabut asap dan kelancaran proses pembelajaran.
Menurut saya, pemerintah perlu lebih serius menangani kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan karena kabut asap tidak hanya mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga menghambat proses pendidikan. Pemerintah harus memperkuat pencegahan karhutla, melindungi kesehatan masyarakat, dan memastikan kegiatan belajar tetap berjalan dengan aman dan efektif.
