Konten dari Pengguna

Minyak Jelantah Ternyata Bisa Jadi Sumber Cuan, Begini Caranya!

Galuh Alysia

Galuh Alysia

Mahasiswi Aktif Universitas Pamulang Semester 3

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Galuh Alysia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah kamu tahu bahwa minyak jelantah sering kali menjadi limbah yang menumpang setelah kita membuat gorengan atau ayam kriuk. Siapa di sini yang tidak bisa makan tanpa gorengan atau ayam kriuk? Hampir setiap hari, dapur rumah tangga di Indonesia tidak pernah lepas dari aktivitas menggoreng makanan. Hidangan yang renyah memang selalu berhasil menggugah selera keluarga. Namun, di balik kelezatan tersebut, ada satu masalah klasik yang kerap luput dari perhatian kita setelah proses memasak selesai, yaitu menumpuknya sisa minyak goreng bekas atau minyak jelantah. Sebagian besar dari kita memilih jalan paling mudah yaitu menuangkannya ke wastafel atau selokan. Padahal, kebiasaan ini adalah awal dari bencana lingkungan di sekitar tempat tinggal kita. Ketika cairan pekat ini mendingin di dalam pipa pembuangan, minyak akan membeku, mengeras, dan menempel pada dinding pipa hingga memicu sumbatan lemak yang memicu bau busuk di area dapur. Akibatnya bila sampai ke sungai, lapisan minyaknya menutupi permukaan air, akibatnya menghalangi masuknya sinar matahari dan oksigen sehingga ekosistem air rusak dan makhluk hidup di dalamnya perlahan mati.

Peluang Ecopreneurship dari Limbah Minyak Jelantah

Kabar baiknya, limbah dapur yang terkesan kotor ini sebenarnya menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar jika kita mau mendaur ulangnya dengan kreatif, bisa berubah menjadi peluang penghasilan. Pengamatan di lingkungan sekitar rumah menunjukkan bahwa minyak jelantah adalah salah satu limbah yang paling konsisten dihasilkan setiap hari. Hampir setiap dapur memilikinya, mulai dari rumah tangga, warung makan, hingga penjual gorengan. Karena bahannya gratis dan selalu tersedia, jelantah sangat cocok dijadikan modal awal usaha kecil yang ramah lingkungan, atau yang kita kenal sebagai ecopreneurship. Kamu bisa menyulap minyak jelantah ini menjadi dua produk rumahan yang bernilai jual tinggi, yaitu lilin aromaterapi dan sabun cuci batangan. Dua produk ini tidak hanya bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga sendiri, tetapi juga bisa menjadi ide bisnis kecil-kecilan yang menghasilkan keuntungan finansial.

Minyak jelantah yang dikumpulkan di dalam botol plastik bekas (Sumber: Shutterstock)

Menyulap Sisa Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi

Pilihan olahan pertama adalah mengubah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Saring minyak jelantah terlebih dahulu, lalu rendam dengan arang aktif selama 24 jam agar lebih jernih. Setelah disaring bersih, panaskan minyak bersama stearin atau asam stearat dengan api kecil dan jangan ditinggalkan karena minyak panas mudah terbakar. Sebelum dituang ke jar kaca bekas, tambahkan beberapa tetes minyak atsiri beraroma lavender atau serai yang sekaligus berfungsi sebagai pengusir nyamuk. Pasang sumbu, lalu tunggu hingga lilin mengeras dan siap digunakan.

Mengolah Sisa Minyak Jelantah Menjadi Sabun Cuci Batangan

Pilihan kedua, minyak jelantah bisa diolah menjadi sabun cuci batangan untuk membersihkan kain lap dapur atau peralatan berkebun. Prosesnya memanfaatkan reaksi penyabunan, yaitu mencampur minyak jelantah dengan larutan soda api dan air suling. Karena soda api bersifat korosif, selalu gunakan sarung tangan, kacamata pelindung, dan masker, serta tuang soda api ke dalam air, bukan sebaliknya. Tambahkan perasan jeruk nipis atau daun pandan untuk aroma segar dan menghilangkan bau tengik. Setelah diaduk hingga mengental, tuang ke cetakan, lalu diamkan beberapa minggu hingga siap digunakan.

Kebiasaan Kecil untuk Perubahan Besar

Minyak jelantah memang tampak seperti sisa yang tak berharga, tetapi di tangan yang tepat ia bisa berubah menjadi sabun, lilin, dan produk bernilai jual lainnya. Dengan mengumpulkannya dalam wadah tertutup dan tidak lagi membuangnya ke wastafel, kita sudah ikut menjaga saluran air, sungai, dan makhluk hidup di dalamnya. Melalui langkah sederhana ini, kita tidak hanya berhasil menyelamatkan lingkungan sekitar dari bahaya pencemaran air bersih, tetapi juga mampu memutar roda kreativitas dari dalam rumah menjadi ladang penghasilan tambahan. Mengelola minyak jelantah kini bukan lagi sekadar urusan membuang sampah, melainkan tentang bagaimana kita melihat peluang cuan di balik sisa masakan. Jadi, sebelum menuang minyak bekas berikutnya ke wastafel, ingatlah bahwa di dalam botol itu ada peluang cuan sekaligus kesempatan untuk merawat bumi. Perubahan besar selalu berawal dari kebiasaan kecil, dan kebiasaan itu bisa kita mulai hari ini.