Konten dari Pengguna

Menatap Cermin Pujangga Baru: Pergulatan Identitas yang Belum Selesai

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Aidil Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Juli 1933, ketika Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Amir Hamzah meluncurkan Poedjangga Baroe, Indonesia masih sebatas angan-angan. Zaman sedang bergeser. Warisan tradisi Melayu klasik mulai ditinggalkan karena dianggap tak lagi sanggup menjawab tantangan masa, sedangkan pengaruh Barat menyusup kuat ke pikiran anak-anak muda terdidik. Dari halaman-halaman majalah itulah, pertanyaan besar tentang rupa manusia Indonesia modern pertama kali diperdebatkan secara terbuka dan sistematis.Membaca ulang karya-karya sastra tahun 1930-an, kita akan menyadari bahwa Pujangga Baru tak berhenti pada keindahan bahasa yang halus dan mendayu. Yang sesungguhnya mereka tinggalkan adalah pergulatan tentang jati diri, sebuah pertanyaan yang hingga kini belum benar-benar menemukan jawabannya

Ilustrasi karya sastra pujangga baru 1930.poto pexels.Foto oleh Leah  dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/buku-buku-pustaka-antik-rak-8115587/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi karya sastra pujangga baru 1930.poto pexels.Foto oleh Leah dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/buku-buku-pustaka-antik-rak-8115587/

Layar Terkembang dan Obsesi Otentisitas Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana menaruh perdebatan besar zamannya di pundak dua kakak-beradik dalam Layar Terkembang (1936). Tuti, si sulung, berdiri sebagai perempuan mandiri yang sibuk di organisasi dan lebih percaya nalar daripada perasaan. Di matanya, Tuti adalah potret manusia modern yang dicita-citakan: individualis, penuh daya hidup, dan berkiblat ke Barat. Bagi Sutan Takdir Alisjahbana, bangsa yang ingin bangkit dari ketertinggalan tak punya pilihan selain merangkul rasionalisme dan semangat kemajuan. Tapi bila dibaca sekarang, keyakinan itu terasa terlalu kaku. Seakan-akan menjadi modern berarti Tuti harus melepas seluruh warisan budaya Timur. Di titik inilah ironi Pujangga Baru muncul: upaya melepaskan diri dari cengkeraman kolonial justru ditempuh dengan meminjam kacamata si penjajah.

Belenggu: Keretakan Psikologis dan Jawaban Armijn Pane

Kalau Takdir gemar berceramah dan melukis masa depan yang rapi, Armijn Pane memilih jalan lain. Lewat Belenggu (1940), ia membedah jiwa manusia dengan ketajaman yang terasa melampaui zamannya. Tak ada khotbah tentang budaya mana yang paling layak dibela. Armijn cukup memotret segitiga cinta antara Dokter Sukartono, Sumartini, dan Yah, lalu membiarkan pembaca melihat betapa rapuhnya manusia Indonesia yang berdiri canggung di antara dua dunia.Sukartono adalah intelektual yang limbung. Tini menjadi cermin retaknya batin akibat perpaduan budaya yang dipaksakan. Yah hadir sebagai kenangan akan masa lalu: hangat, tapi tak pernah benar-benar bisa dipegang. Dari ketiganya, Armijn menelanjangi kemunafikan moral masyarakat kota kala itu. Tak heran bila novel ini disebut-sebut ditolak Balai Pustaka karena dianggap mengusik kesusilaan. Padahal, Armijn hanya bersikap jujur: menjadi modern ternyata menyisakan sepi dan keterasingan.

Amir Hamzah dan Sunyi yang Melampaui Zaman

Di jalur puisi, Amir Hamzah menempati puncak yang lain lagi. Lewat Nyanyi Sunyi (1937), ia menunjukkan bahwa menjadi modern tak harus berarti meninggalkan tradisi Melayu maupun napas keislaman. Bahasanya mengalir berliku, menautkan metafora Melayu klasik dengan keraguan eksistensial manusia zaman baru. Dalam sajak-sajaknya, Amir menyapa Tuhan dengan pasrah sekaligus gelisah. Pertemuannya dengan pemikiran Barat tak menggiringnya menjadi sekuler. Sebaliknya, justru di dalam sunyi batin yang begitu modern itulah ia menemukan kembali Tuhan.

Mengapa Pujangga Baru Masih Relevan Hari Ini?

Membaca ulang Pujangga Baru hari ini bukan sekadar urusan mengagumi diksi romantiknya. Kita sedang bercermin. Dilema yang dipikul Takdir, Armijn, dan Amir hampir seabad silam ternyata belum selesai, dan kini berpindah ke pundak kita.Di tengah arus globalisasi dan banjir teknologi digital, pertanyaan mereka masih sama: sampai di mana kita boleh menyerap dunia luar tanpa tercerabut dari akar sendiri?Pujangga Baru memang meletakkan batu pertama bagi kebudayaan Indonesia modern. Perdebatan yang mereka wariskan boleh jadi tak pernah rampung. Tetapi justru di situlah sastra menunjukkan taringnya: ia tidak menyodorkan jawaban instan, melainkan terus mengajukan pertanyaan.