Dari Daerah ke Kampus : Ketika Kesempatan Pendidikan Tidak Datang untuk Semua
Tulisan dari ghina tasya salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sisi lain, banyak warganet yang menilai pandangan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan. Mereka mempertanyakan bagaimana dengan siswa yang tinggal di daerah yang tidak memiliki banyak pilihan perguruan tinggi, atau mereka yang harus merantau demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Perdebatan ini sebenarnya membuka satu pertanyaan yang lebih besar, yaitu apakah akses pendidikan tinggi di Indonesia benar-benar sudah setara bagi seluruh warga negara.
Secara teori, setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Hal ini bahkan dijamin dalam konstitusi. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kesempatan tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh semua orang. Faktor ekonomi, lokasi geografis, akses informasi, kualitas sekolah, hingga kondisi sosial keluarga masih menjadi penentu utama siapa yang bisa melanjutkan pendidikan tinggi dan siapa yang harus mengubur mimpinya.
Pandangan bahwa seseorang harus menyesuaikan pilihan kampus dengan kondisi ekonomi keluarga memang tidak sepenuhnya salah. Dalam kehidupan nyata, kemampuan finansial memang menjadi faktor penting dalam menentukan berbagai keputusan, termasuk pendidikan. Tidak sedikit keluarga yang memaksakan diri hingga harus berutang demi membiayai pendidikan anaknya. Dalam konteks tertentu, memilih kampus yang lebih dekat atau lebih murah memang dapat menjadi pilihan yang bijak.
Namun persoalannya tidak sesederhana itu. Argumen tersebut sering kali lahir dari sudut pandang mereka yang tinggal di wilayah dengan banyak pilihan perguruan tinggi. Bagi siswa yang tinggal di Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, atau Yogyakarta, pilihan universitas tersedia dalam jumlah besar. Mereka dapat memilih kampus negeri maupun swasta tanpa harus meninggalkan daerah asal. Biaya hidup juga dapat ditekan karena masih bisa tinggal bersama keluarga.
Situasi yang dihadapi siswa di daerah tentu berbeda. Di banyak kabupaten atau wilayah terpencil, pilihan perguruan tinggi sangat terbatas. Bahkan ada daerah yang tidak memiliki universitas dengan program studi tertentu. Akibatnya, merantau bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Seorang siswa yang bercita-cita menjadi dokter, insinyur, atau ahli teknologi informasi mungkin tidak memiliki pilihan selain meninggalkan daerah asalnya.
Ketika seseorang dari daerah harus kuliah di kota lain, biaya pendidikan tidak lagi hanya soal UKT atau uang kuliah tunggal. Ada biaya kos, makan, transportasi, buku, perlengkapan kuliah, kebutuhan sehari-hari, hingga biaya pulang kampung. Inilah yang sering kali luput dalam perdebatan publik. Ketika seseorang mengatakan bahwa biaya kuliah hanya beberapa ratus ribu rupiah per bulan jika dibagi selama satu semester, perhitungan tersebut tidak menggambarkan keseluruhan realitas yang harus dihadapi mahasiswa.
Bagi keluarga kelas menengah ke atas, biaya tambahan tersebut mungkin masih dapat diatasi. Namun bagi keluarga petani, nelayan, buruh harian, pedagang kecil, atau pekerja informal dengan penghasilan yang tidak menentu, biaya tersebut dapat menjadi beban yang sangat besar. Tidak sedikit orang tua yang harus bekerja lebih keras atau menjual aset keluarga agar anaknya dapat melanjutkan pendidikan.
Menurut saya, persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Memang benar bahwa seseorang harus realistis terhadap kemampuan ekonomi keluarga. Akan tetapi, kita juga harus memahami bahwa pendidikan sering kali menjadi satu-satunya jalan bagi banyak keluarga untuk memperbaiki taraf hidup mereka. Jika setiap anak dari keluarga kurang mampu selalu diminta menyesuaikan mimpinya dengan keterbatasan ekonomi, maka mobilitas sosial akan semakin sulit terjadi.
Dalam perspektif sosiologi pendidikan, pendidikan merupakan salah satu instrumen utama untuk menciptakan mobilitas sosial. Melalui pendidikan, seseorang memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas hidupnya dan keluar dari lingkaran kemiskinan. Karena itu, akses pendidikan yang tidak merata berpotensi memperbesar kesenjangan sosial di masyarakat.
Masalah lain yang tidak kalah penting adalah akses informasi. Banyak siswa di kota besar telah mengenal berbagai jalur masuk perguruan tinggi, program beasiswa, dan bantuan pendidikan sejak dini. Mereka mendapatkan informasi dari sekolah, bimbingan belajar, media sosial, hingga lingkungan pertemanan. Sebaliknya, masih banyak siswa di daerah yang terlambat mendapatkan informasi mengenai peluang pendidikan.
Akibatnya, tidak sedikit siswa berprestasi yang gagal memanfaatkan kesempatan yang sebenarnya tersedia. Ada yang tidak mengetahui adanya program beasiswa. Ada pula yang tidak memahami prosedur pendaftaran. Dalam kondisi seperti ini, kesenjangan pendidikan bukan hanya soal uang, tetapi juga soal akses terhadap informasi.
Perkembangan teknologi memang membawa harapan baru. Saat ini berbagai informasi pendidikan dapat diakses melalui internet. Banyak universitas juga telah menyediakan layanan pendaftaran secara daring sehingga calon mahasiswa dari berbagai daerah dapat mendaftar tanpa harus datang langsung ke kampus. Namun manfaat teknologi tersebut belum dirasakan secara merata. Masih terdapat wilayah yang mengalami keterbatasan jaringan internet dan infrastruktur digital.
Karena itu, upaya pemerataan pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan beasiswa atau membangun gedung sekolah. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa akses informasi dan teknologi dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Pendidikan yang berkualitas harus hadir tidak hanya di kota besar, tetapi juga di daerah-daerah yang selama ini tertinggal.
Sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam membantu siswa memahami peluang pendidikan tinggi. Guru bukan hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang dapat membuka wawasan siswa mengenai berbagai kesempatan yang tersedia. Banyak mahasiswa dari keluarga sederhana yang berhasil kuliah karena mendapatkan dukungan dan motivasi dari guru mereka.
Perguruan tinggi juga perlu lebih aktif menjangkau daerah-daerah yang minim informasi. Sosialisasi mengenai jalur masuk, beasiswa, dan kehidupan kampus dapat membantu siswa membangun kepercayaan diri bahwa mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Di sisi lain, keluarga tetap memiliki peran yang sangat penting. Dukungan orang tua tidak selalu harus berbentuk materi. Kepercayaan, motivasi, dan semangat yang diberikan kepada anak sering kali menjadi modal utama dalam meraih pendidikan yang lebih tinggi. Banyak kisah sukses menunjukkan bahwa dukungan moral dari keluarga mampu memberikan dampak yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan seseorang.
Pada akhirnya, perdebatan yang viral di media sosial tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tinggi di Indonesia masih sangat kompleks. Tidak adil jika seluruh kesalahan dibebankan kepada individu yang ingin kuliah. Namun juga tidak tepat jika seluruh tanggung jawab diserahkan kepada negara. Persoalan ini membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, keluarga, hingga masyarakat.
Menurut saya, inti dari persoalan ini bukanlah soal siapa yang benar atau siapa yang salah dalam perdebatan tersebut. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memahami bahwa tidak semua orang memulai hidup dari titik yang sama. Ada yang memiliki banyak pilihan, sementara ada yang harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan satu kesempatan.
Pendidikan seharusnya menjadi alat untuk memperkecil kesenjangan sosial, bukan justru memperlebar jurang perbedaan antara mereka yang mampu dan yang tidak mampu. Ketika seorang anak berbakat gagal melanjutkan pendidikan hanya karena faktor ekonomi atau lokasi geografis, maka bangsa ini sebenarnya sedang kehilangan potensi besar yang dapat berkontribusi bagi masa depan.
Indonesia memiliki jutaan generasi muda berbakat yang tersebar dari kota besar hingga pelosok daerah. Mereka tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan yang adil. Kesempatan untuk belajar, berkembang, dan membuktikan kemampuan mereka. Ketika akses pendidikan dapat dinikmati secara lebih merata, maka pendidikan benar-benar akan menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera bagi seluruh masyarakat Indonesia.

