Konten dari Pengguna

Ketika Suasana Kelas Memengaruhi Semangat Mengajar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ghina tasya salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gambar Perbandingan Siswa Aktif dan Pasif. Sumber : Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gambar Perbandingan Siswa Aktif dan Pasif. Sumber : Shutterstock

Mengajar di Kelas Aktif dan Kelas Pasif, Apa Bedanya?

Mengajar ternyata bukan hanya soal menyiapkan materi lalu menyampaikannya kepada siswa. Dalam praktiknya, suasana kelas juga ikut menentukan bagaimana proses pembelajaran berlangsung. Penulis pernah mengajar di kelas dengan karakter siswa yang berbeda. Terdapat kelas yang siswanya aktif bertanya dan menjawab, tetapi ada juga kelas yang lebih banyak diam ketika pembelajaran berlangsung.

Perbedaan tersebut ternyata tidak hanya memengaruhi suasana belajar, tetapi juga memengaruhi mood pengajar ketika mengajar. Dari pengalaman tersebut, penulis mulai melihat bahwa setiap kelas membutuhkan cara pendekatan yang berbeda.

Ketika Mengajar di Kelas yang Aktif

Kelas yang aktif biasanya lebih mudah diajak berinteraksi. Ketika pengajar memberikan pertanyaan, ada siswa yang langsung menjawab. Saat materi sedang dijelaskan, beberapa siswa juga tidak ragu untuk bertanya atau memberikan pendapat.

Suasana seperti ini membuat pembelajaran terasa lebih hidup. pemgajar pun juga menjadi lebih bersemangat karena ada respons langsung dari siswa. Ketika siswa terlihat antusias, pengajar merasa lebih terdorong untuk memberikan contoh atau cara menjelaskan yang lebih menarik.

Hal lain yang menarik adalah pembahasan terkadang bisa berkembang dari jawaban siswa. Pertanyaan yang awalnya sederhana bisa menjadi bahan diskusi karena siswa ikut memberikan pendapat masing-masing.

Tantangan Mengajar di Kelas yang Pasif

Berbeda dengan kelas aktif, kelas yang pasif membutuhkan usaha yang lebih banyak untuk membangun suasana. Ketika pengajar memberikan pertanyaan, terkadang kelas langsung hening. Walaupun sudah diberikan waktu untuk berpikir, masih belum ada siswa yang berani menjawab.

Dalam kondisi seperti ini, pengajar biasanya harus mencoba memberikan pertanyaan yang lebih sederhana atau menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tujuannya supaya siswa lebih mudah memahami pertanyaan dan merasa lebih nyaman untuk menjawab.

Mengajar di kelas pasif terkadang juga membuat energi penulis ikut turun. Ketika respons yang diberikan siswa sedikit, suasana mengajar terasa lebih berat. Namun, pengajar harus mulai menyadari bahwa siswa yang pasif belum tentu tidak memahami materi.

Ada kemungkinan siswa sebenarnya memahami materi, tetapi masih malu untuk berbicara, takut jawabannya salah, atau memang lebih nyaman mendengarkan dibandingkan menyampaikan pendapat.

Perbedaan Karakter Siswa Memengaruhi Cara Mengajar

Dari dua kondisi tersebut, pengajar harus melihat bahwa karakter siswa dalam satu kelas bisa memengaruhi cara pengajar menyampaikan materi. Cara yang berhasil digunakan di kelas aktif belum tentu cocok digunakan di kelas yang pasif.

Di kelas aktif, pengajar bisa lebih banyak menggunakan diskusi dan tanya jawab karena siswa sudah terbiasa memberikan respons. Sementara itu, di kelas yang pasif, pengajar mungkin perlu memulai dengan pertanyaan sederhana, contoh yang dekat dengan siswa, atau kegiatan yang bisa membuat mereka lebih nyaman untuk berpartisipasi.

Jadi, pengajar tidak bisa hanya mengandalkan satu cara mengajar untuk semua kelas. Kondisi kelas perlu diperhatikan supaya pembelajaran tetap bisa berjalan dengan baik.

Mood Pengajar Juga Bisa Berubah

Hal yang cukup penulis (pengajar) rasakan selama mengajar adalah suasana kelas ternyata bisa memengaruhi mood pengajar. Ketika berada di kelas yang aktif, penulis merasa lebih bersemangat karena siswa memberikan banyak respons.

Sebaliknya, ketika berada di kelas yang pasif, mood penulis terkadang ikut menurun. Bukan karena tidak menyukai kelas tersebut, tetapi karena membutuhkan energi lebih untuk membuat siswa mau ikut terlibat dalam pembelajaran.

Pengalaman penulis ini ternyata berhubungan dengan penelitian yang diterbitkan di jurnal Learning and Instruction tahun 2021. Penelitian ini melibatkan 70 guru dan 1.537 siswa, yang membahas tentang semangat guru saat mengajar dan keterlibatan siswa di kelas. Hasilnya menunjukkan kalau semangat guru dan keaktifan siswa itu saling berhubungan. Hal ini juga penulis rasakan sendiri selama mengajar. Jika siswanya aktif, guru menjadi lebih semangat buat menjelaskan materi karena ada respons dari siswa. Tetapi kalau kelasnya lebih banyak diam, guru terkadang bingung harus melakukan apa supaya suasananya lebih hidup. Walaupun begitu, siswa yang diam bukan berarti mereka tidak paham materi. Bisa saja mereka malu untuk bertanya atau takut salah saat menjawab. Pengajar juga perlu mencari cara lain supaya siswa lebih nyaman untuk ikut aktif di kelas. Justru kondisi tersebut bisa menjadi tantangan untuk mencari cara baru dalam mengajar.

Setiap Kelas Membutuhkan Pendekatan yang Berbeda

Kesimpulannya, kelas aktif dan kelas pasif tidak bisa dikatakan mana yang lebih baik. Keduanya mempunyai karakter dan tantangan masing-masing. Kelas aktif mungkin lebih mudah diajak berdiskusi, sedangkan kelas pasif membutuhkan pendekatan yang lebih perlahan.

Pengalaman ini membuat pengajar yg lainnya dapat memahami bahwa mengajar bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang bisa disampaikan. Pengajar juga perlu memahami kondisi siswa dan menyesuaikan cara mengajarnya.

Setiap kelas memiliki suasana yang berbeda. Karena itu, kemampuan untuk membaca kondisi kelas menjadi salah satu hal yang penting dalam proses mengajar. Bagi penulis, pengalaman menghadapi kelas aktif dan kelas pasif justru menjadi pembelajaran bahwa menjadi pengajar juga berarti harus terus belajar menyesuaikan diri.