Konten dari Pengguna

Orang Baik Bisa Melakukan Kejahatan, Benarkah Semua Berawal dari Pilihan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gibran Khairuzaad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang pejalan kaki di tengah hiruk-pikuk kota menggambarkan bagaimana kehidupan urban tidak hanya menawarkan harapan, tetapi juga menghadirkan tekanan dan kesepian yang sering luput dari perhatian.
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pejalan kaki di tengah hiruk-pikuk kota menggambarkan bagaimana kehidupan urban tidak hanya menawarkan harapan, tetapi juga menghadirkan tekanan dan kesepian yang sering luput dari perhatian.

Setiap kali muncul berita tentang pencopetan atau pencurian, banyak dari kita segera menyimpulkan bahwa pelakunya memang orang jahat. Penilaian itu mungkin terasa wajar karena setiap tindakan kriminal memang membawa kerugian bagi orang lain. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah semua pelaku kejahatan benar-benar memulai hidupnya dengan niat menjadi penjahat?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika melihat kehidupan di kota-kota besar. Kota menawarkan mimpi tentang pekerjaan yang lebih baik, pendidikan yang lebih tinggi, dan kesempatan untuk mengubah nasib. Namun, di balik gedung-gedung tinggi dan pusat-pusat ekonomi, kota juga menyimpan sisi lain: persaingan yang ketat, biaya hidup yang terus meningkat, dan rasa sepi yang sering kali tidak terlihat

Cerpen Lelaki yang Terus Berdoa karya Andi Wirambara bukan sekadar menghadirkan kisah tentang pencopetan atau kemiskinan. Seperti dijelaskan Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi, makna sebuah karya sastra lahir dari keterpaduan berbagai unsur cerita. Dalam cerpen ini, keterpaduan tersebut justru mengarahkan pembaca pada pertanyaan yang lebih besar: ketika hidup terus mempersempit pilihan, sejauh mana seseorang masih mampu mempertahankan nilai moralnya?

Ketika Harapan Hilang Sejak Langkah Pertama

Perjalanan tokoh utama berubah hanya dalam hitungan menit setelah ia tiba di Jakarta.

"Tak lama usai ia turun dari bus, liarnya terminal langsung melahap dirinya dengan kemunculan copet yang menyambar ranselnya kemudian lari."

Kutipan ini bukan sekadar pembuka konflik. Pengarang memperlihatkan bagaimana kota dapat mengubah harapan menjadi kecemasan dalam waktu yang sangat singkat. Bekal yang hilang bukan hanya berarti kehilangan uang, tetapi juga hilangnya rasa aman dan kesempatan untuk memulai hidup sebagaimana yang ia bayangkan.

Banyak orang datang ke kota dengan keyakinan bahwa kerja keras akan membawa perubahan. Namun, tidak semua memiliki titik awal yang sama. Ada yang datang dengan pendidikan, jaringan, dan tabungan yang cukup. Ada pula yang hanya membawa harapan. Ketika harapan itu hilang sejak hari pertama, pilihan hidup pun menjadi semakin sempit.

Ketika Bertahan Hidup Menjadi Ujian Moral

Dalam banyak cerita, kota hanya berfungsi sebagai latar. Namun, dalam Lelaki yang Terus Berdoa, Jakarta seolah menjadi tokoh lain yang ikut memengaruhi jalannya cerita. Kota tidak berbicara, tetapi menghadirkan tekanan melalui kerasnya kehidupan, minimnya kepedulian, dan cepatnya ritme hidup.

Fenomena ini terasa dekat dengan realitas saat ini. Banyak orang merantau dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Sebagian berhasil mewujudkan impian mereka, tetapi tidak sedikit pula yang harus menghadapi pengangguran, pekerjaan tidak tetap, atau biaya hidup yang jauh melampaui kemampuan mereka. Kondisi seperti itu memang tidak otomatis melahirkan kejahatan, tetapi dapat memperbesar tekanan yang memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan.

Karena itu, memahami kejahatan tidak cukup hanya dengan bertanya "siapa pelakunya", tetapi juga "dalam situasi seperti apa keputusan itu diambil". Pertanyaan kedua sering kali terlupakan, padahal di sanalah persoalan sosial yang sesungguhnya berada

Doa yang Semakin Sunyi

Simbol paling menyentuh dalam cerpen ini muncul melalui satu kalimat yang sangat singkat.

"Doanya makin pendek. Makin sunyi."

Kalimat tersebut tidak hanya menggambarkan kelelahan tokoh utama. Doa yang semakin pendek menjadi simbol bagaimana tekanan hidup perlahan mengikis harapan seseorang. Ia masih percaya, tetapi keadaan membuat keyakinannya semakin berat untuk dipertahankan.

Di sinilah Andi Wirambara berhasil menyampaikan kritik sosialnya. Kota tidak digambarkan sebagai tempat yang jahat, melainkan sebagai ruang yang kadang berjalan terlalu cepat hingga tidak memberi kesempatan bagi mereka yang tertinggal untuk bangkit kembali.

Lebih dari Sekadar Kisah tentang Kejahatan

Pada akhirnya, Lelaki yang Terus Berdoa bukanlah cerita yang mengajak pembaca memaklumi tindakan kriminal. Cerpen ini justru mengingatkan bahwa di balik setiap tindakan selalu ada cerita yang lebih panjang daripada yang terlihat di permukaan.

Tentu saja, tidak semua orang yang hidup miskin akan melakukan kejahatan, dan tidak semua pelaku kejahatan didorong oleh tekanan ekonomi. Namun, cerpen ini mengajak kita melihat bahwa kehidupan tidak selalu menghadirkan pilihan yang hitam dan putih. Ada kalanya seseorang berada pada titik ketika bertahan hidup terasa lebih mudah daripada mempertahankan prinsip yang selama ini diyakininya.

Mungkin kota tidak pernah benar-benar mengubah manusia. Kota hanya memperlihatkan seberapa kuat seseorang mampu bertahan ketika harapan semakin menipis. Dan mungkin, pertanyaan yang paling penting bukanlah mengapa seseorang akhirnya melakukan kejahatan, melainkan apakah kita telah membangun lingkungan yang memberi setiap orang kesempatan untuk tetap hidup secara bermartabat.