Tuti dan Perempuan Baru: Gagasan dari Layar Terkembang yang Belum Usang

Mahasiswa UIN Syarif Hidayattullah Jakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Gibran Khairuzaad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hampir sembilan dekade setelah terbit, Layar Terkembang masih terasa dekat dengan keseharian kita. Novel Sutan Takdir Alisyahbana ini sering dibaca sebagai kisah cinta tiga orang muda. Padahal di balik kisah itu ada pertanyaan yang belum selesai: seperti apa seharusnya perempuan Indonesia hidup sebagai manusia yang merdeka?

Pertanyaan itu dihadirkan lewat dua kakak beradik yang berbeda sifatnya. Tuti, sang kakak, serius, teliti, dan teguh pendirian. Ia guru dan pemimpin perkumpulan Putri Sedar. Maria, sang adik, riang, mudah kagum, dan hangat pada siapa saja. Keduanya sama-sama terdidik dan dibesarkan ayah yang memberi kebebasan. Namun cara mereka memandang hidup sangat berlainan. Perbedaan itulah yang membuat novel ini hidup, sebab tidak ada yang digambarkan sepenuhnya benar atau salah.
Pidato yang menggugat
Bagian yang paling kuat adalah pidato Tuti dalam kongres Putri Sedar. Ia menggugat cara masyarakat mendidik perempuan: sejak kecil dipersiapkan untuk menurut dan melayani, bukan untuk berpikir dan memilih. Ia mengkritik nasihat-nasihat lama yang menempatkan kepatuhan sebagai sumber kemuliaan perempuan. Menurutnya, perempuan yang dilemahkan semangatnya tidak mungkin melahirkan generasi yang kuat. Karena itu, memperbaiki bangsa harus dimulai dari memperbaiki kedudukan perempuan, dan ini kepentingan semua orang, bukan hanya kaum perempuan.
Argumen ini menarik karena tidak berhenti pada soal hak. Tuti mengaitkan kemerdekaan perempuan dengan masa depan bangsa. Gagasan “perempuan baru” dalam novel ini adalah manusia yang berpikir sendiri, berani bertanggung jawab atas pilihannya, dan tidak menjadikan perkawinan sebagai satu-satunya tujuan hidup.
Bukan hanya soal perempuan
Novel ini juga memperlihatkan benturan antargenerasi. Dalam obrolan sore di beranda rumah Wiriaatmaja, Partadiharja kesal karena keponakannya, Saleh, berhenti dari pekerjaan kantor yang mapan. Baginya bahagia berarti gaji tetap dan jabatan yang aman. Tuti membela Saleh dengan pandangan lain: bahagia adalah bisa mengikuti panggilan hati dan mengembangkan kecakapan sepenuhnya. Perdebatan seperti ini masih sering terdengar di meja makan keluarga kita, misalnya ketika anak memilih jurusan atau karier yang tidak lazim.
Tuti juga mempertanyakan cara kaum terpelajar menjalankan agama. Ia menolak kebiasaan menempelkan agama sebagai pelengkap upacara tanpa dihayati. Sikap ini keras dan kadang terasa angkuh, tetapi menunjukkan watak Tuti yang menuntut keselarasan antara keyakinan dan perbuatan.
Maria, Yusuf, dan harga sebuah kebahagiaan
Di tengah dua kakak beradik ini hadir Yusuf, mahasiswa kedokteran yang bertemu mereka di akuarium Pasar Ikan. Ia lebih dulu tertarik pada Maria. Pertunangan mereka terhenti ketika Maria jatuh sakit parah dan akhirnya meninggal. Sebelum wafat, Maria berpesan agar Tuti mau menerima Yusuf. Novel berakhir dengan pertunangan Tuti dan Yusuf.
Akhir ini menimbulkan tafsir yang beragam. Sebagian pembaca melihatnya sebagai kompromi: Tuti yang dulu menolak menikah bila itu berarti kehilangan haknya sebagai manusia, akhirnya menerima perjodohan lewat pesan terakhir adiknya. Pembaca lain memandangnya sebagai kedewasaan, bahwa perempuan merdeka tidak harus menolak cinta, asalkan keputusan itu lahir dari dirinya sendiri. Justru karena tidak memberi jawaban tunggal, novel ini layak dibicarakan lagi.
Mengapa masih relevan
Hari ini perempuan Indonesia sudah jauh lebih bebas bersekolah dan bekerja. Tetapi ukuran “perempuan yang baik” sering masih sama: penurut, halus, dan siap berkorban. Perempuan yang berkarier kerap masih dituntut mengurus rumah sepenuhnya, dan usia menikah masih menjadi bahan komentar orang. Gagasan Tuti bahwa perempuan harus berdiri sebagai manusia utuh masih relevan.
Pada akhirnya Layar Terkembang mengingatkan bahwa kemajuan tidak cukup diumumkan lewat pidato dan kongres. Ia harus diuji dalam keputusan sehari-hari: dalam cara kita mendidik anak perempuan, menghargai pilihan hidup orang lain, dan menyikapi perbedaan pendapat antargenerasi. Dengan begitu, layar yang dulu dikembangkan para tokoh novel ini terus membawa kita bergerak.
