Keris, Media Public Relations Budaya dari Lokal hingga Internasional

Nama:Gilang abitio Umur: 21 tahun Status:Mahasiswa Prodi ilmu komunikasi universitas 17 Agustus 1945 Jakarta Minat pada jurnalistik di bidang sosial dan budaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Gilang abitio tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Keris selama ini lebih sering dipahami sebagai benda pusaka yang memiliki nilai sejarah, seni, dan tradisi. Di tengah masyarakat tertentu, keris juga masih ditempatkan sebagai bagian dari identitas keluarga dan kebudayaan daerah. Namun, jika dilihat dari perspektif public relations, keris sebenarnya memiliki fungsi yang lebih luas. Ia dapat menjadi media komunikasi budaya yang membawa cerita tentang Indonesia, mulai dari lingkungan masyarakat lokal hingga ruang pergaulan internasional. Public relations pada dasarnya tidak hanya berbicara tentang perusahaan, lembaga, atau bagaimana membangun citra sebuah organisasi. Dalam konteks kebudayaan, public relations juga dapat digunakan untuk membangun pemahaman publik terhadap suatu warisan budaya. Keris memiliki modal yang cukup kuat untuk menjalankan fungsi tersebut karena di dalam satu bilah keris terdapat berbagai cerita, mulai dari sejarah, teknologi pengerjaan logam, seni, simbol budaya, hingga perkembangan masyarakat yang melahirkannya. Keris juga memiliki kekuatan sebagai media komunikasi visual. Bentuk bilah, pamor, dhapur, hulu, hingga warangka memiliki karakter yang dapat menarik perhatian bahkan sebelum seseorang memahami sejarahnya. Keunikan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat yang sebelumnya tidak mengenal keris.

Di tingkat lokal, komunikasi mengenai keris sebenarnya sudah berlangsung melalui komunitas, paguyuban, museum, perajin, kolektor, hingga berbagai kegiatan kebudayaan. Namun, tantangannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih mudah diterima oleh masyarakat luas, terutama generasi muda. Tidak semua orang tertarik membaca penjelasan panjang mengenai istilah-istilah keris. Karena itu, storytelling dapat menjadi salah satu pendekatan. Cerita tentang bagaimana sebuah keris dibuat, dari mana bahan bakunya berasal, bagaimana pamornya terbentuk, siapa pembuatnya, atau bagaimana sebuah keris berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dapat dikemas menjadi cerita yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Media sosial kemudian menjadi ruang penting dalam proses tersebut. TikTok, Instagram, YouTube, dan Facebook memungkinkan informasi mengenai keris disebarkan secara visual dan cepat. Sebuah video pendek mengenai proses pembuatan keris, misalnya, dapat memperlihatkan bahwa keris bukan benda yang muncul begitu saja, melainkan hasil dari pengetahuan, keterampilan, dan proses panjang. Di sinilah public relations budaya memiliki tantangan tersendiri. Komunikasi tentang keris tidak cukup hanya memperlihatkan bentuk yang indah atau menyebutnya sebagai benda warisan budaya. Publik juga perlu mendapatkan konteks. Mengapa keris dibuat dengan bentuk tertentu? Apa yang membedakan satu keris dengan keris lainnya? Bagaimana sejarahnya? Dan bagaimana posisi keris dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu hingga sekarang?
Pendekatan semacam ini juga penting untuk memperluas persepsi masyarakat. Keris sering kali hanya dilihat melalui sisi mistisnya. Padahal, jika komunikasi budaya dilakukan secara lebih luas, keris dapat diperkenalkan melalui aspek sejarah, seni, teknologi metalurgi, kriya, antropologi, dan kehidupan sosial masyarakat Nusantara. Pada tingkat internasional, keris dapat berkembang menjadi bagian dari diplomasi budaya. Ketika keris diperkenalkan kepada tamu asing atau digunakan sebagai simbol dalam hubungan antarnegara, benda tersebut membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar cendera mata. Ia dapat menjadi simbol keramahan, penghormatan, sekaligus pintu masuk untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Namun, komunikasi kepada publik internasional tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda. Istilah dan
pengetahuan yang sudah biasa digunakan oleh komunitas keris di Indonesia belum tentu dipahami oleh masyarakat luar negeri. Karena itu, diperlukan bahasa komunikasi yang sederhana tanpa menghilangkan ketepatan informasi. Cerita mengenai keris harus mampu menjelaskan konteksnya terlebih dahulu sebelum masuk kepada istilah teknis yang lebih mendalam. Perkembangan teknologi digital memberikan peluang yang semakin besar. Keris tidak harus menunggu wisatawan datang ke Indonesia untuk dikenal. Dokumentasi yang baik dapat membuat proses pembuatan keris, koleksi museum, wawancara dengan empu, hingga cerita mengenai komunitas keris dapat ditonton oleh masyarakat di berbagai negara. Dalam konteks tersebut, keris juga dapat menjadi bagian dari branding budaya Indonesia. Sama seperti makanan, batik, musik, atau destinasi wisata, keris dapat menjadi salah satu identitas yang memperkenalkan karakter Indonesia kepada dunia. Yang dibutuhkan bukan sekadar promosi, tetapi konsistensi dalam membangun narasi. menjaga keris tidak cukup hanya dengan menjaga bilahnya agar tetap lestari. Pengetahuan dan cerita yang mengelilinginya juga harus terus dikomunikasikan. Keris membutuhkan generasi yang mampu memahami, merawat, sekaligus menjelaskan keberadaannya kepada publik.
Dari komunitas kecil hingga panggung internasional, keris memiliki peluang untuk menjadi media public relations budaya. Ia dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara masyarakat lokal dan publik global. Ketika keris mampu diceritakan dengan bahasa yang relevan, warisan budaya tersebut tidak hanya menjadi benda yang disimpan, tetapi menjadi pesan budaya yang terus hidup dan berkomunikasi dengan generasi berikutnya.
