Konten dari Pengguna

Overthinking Sebelum Tidur: Pikiran Semakin Aktif di Malam Hari

Girta Deasevila

Girta Deasevila

Seorang mahasiswa aktif Universitas Airlangga

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Girta Deasevila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Pexels

Pernahkah kamu berbaring di tempat tidur dengan niat untuk segera tidur, tetapi justru terfikirkan banyak hal? Mulai dari percakapan yang menghantui pikiran, pekerjaan yang belum selesai, masalah hubungan, tugas yang belum dikerjakan, hingga kekhawatiran tentang masa depan. Bukannya kantuk yang datang, tetapi pikiran yang ramai.

Fenomena tersebut sering disebut sebagai overthinking, yaitu kondisi saat kita terus memikirkan suatu hal atau situasi secara berulang-ulang. Pola berpikir yang berlebihan dapat membuat seseorang sulit rileks dan mengganggu waktu tidur.

Mengapa Pikiran Lebih Aktif Saat Malam?

Overthinking timbul pada malam hari karena berkurangnya aktivitas dan gangguan dari lingkungan kita jam istirahat datang. Pada siang hari, seseorang sibuk dengan dengan aktivitasnya seperti pekerjaan, kuliah, sekolah, percakapan, perjalanan, atau berbagai aktivitas lainnya. Perhatian pun terbagi ke banyak hal.

Ketika malam tiba dan tubuh mulai beristirahat, suasana menjadi lebih tenang. Tidak banyak hal yang mengalihkan perhatian. Akibatnya, pikiran yang sebelumnya tertunda dapat kembali muncul.

Menurut Sleep Foundation, stres dan kecemasan dapat membuat seseorang lebih sulit tidur karena pikiran yang terus aktif dapat menghambat proses tubuh untuk rileks sebelum tidur.

Bermakna bahwa, bukan selalu karena malam membuat seseorang menjadi lebih banyak berpikir. Malam hari bisa jadi memberikan ruang yang lebih besar bagi pikiran untuk memproses berbagai hal yang tertunda.

Seseorang dapat merasa sangat letih setelah melakukan berbagai aktivitas sepanjang hari, tetapi pikirannya masih berada dalam kondisi waspada.

Misalnya, seseorang memiliki presentasi penting keesokan pagi. Tubuhnya mungkin sudah lelah, tetapi pikirannya terus membayangkan berbagai kemungkinan, seperti “Bagaimana kalau saya lupa materi?”, “Bagaimana kalau presentasinya gagal?”, atau “Apakah saya sudah mempersiapkan semuanya?”.

Kekhawatiran tersebut dapat menimbulkan perasaan cemas yang mengganggu. Ketika kantuk tidak segera hadir, muncul kekhawatiran baru mengenai tidur itu sendiri.

Penggunaan Gawai Juga Bisa Memperburuk Keadaan

Kebiasaan menggunakan ponsel sebelum tidur menjadi bagian lain yang perlu diperhatikan. Banyak orang menggunakan waktu sebelum tidur untuk membuka media sosial, menonton video, membaca berita, atau membalas pesan. Aktivitas tersebut membuat otak tetap menerima berbagai rangsangan ketika tubuh seharusnya mulai bersiap untuk tidur. Paparan cahaya dari perangkat elektronik pada malam hari juga dapat mengganggu ritme tidur apabila penggunaannya terlalu dekat dengan waktu tidur.

Tidak hanya soal cahaya layar. Konten yang dilihat juga dapat membuat pikiran semakin aktif. Membaca komentar, melihat berita yang mengkhawatirkan, atau membandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain di media sosial dapat memicu emosi sehingga kita banyak berpikir mengenai sesuatu yang tidak baik untuk diri kita.

Overthinking Tidak Selalu Berarti Memikirkan Hal Buruk

Menariknya, overthinking tidak selalu berbentuk kekhawatiran. Seseorang juga dapat terus memikirkan sesuatu yang menyenangkan atau membuat penasaran.

Contohnya, seseorang terus membayangkan rencana liburan, percakapan dengan orang yang disukai, ide pekerjaan, atau berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.

Masalahnya bukan semata-mata pada apa yang dipikirkan, tetapi pada ketidakmampuan untuk menghentikan atau mengalihkan proses berpikir ketika tubuh membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Menghentikan pikiran secara paksa justru terkadang membuat seseorang semakin fokus terhadap pikirannya. Karena itu, pendekatan yang lebih realistis adalah menciptakan kondisi yang membantu tubuh dan pikiran beralih ke keadaan istirahat. Beberapa kebiasaan yang dapat dicoba antara lain:

1. Kurangi penggunaan gawai sebelum tidur.

Berikan jeda dari media sosial, pekerjaan, atau aktivitas sebelum jam tidur.

2. Tuliskan hal-hal yang sedang dipikirkan.

Apabila terdapat banyak tugas atau kekhawatiran, menuliskannya dapat membantu mengurangi sebagian beban pikiran dan membuat hati menjadi lebih lega.

3. Buat rutinitas sebelum tidur.

Aktivitas sederhana seperti membaca buku, mandi air hangat, melakukan peregangan ringan, atau mendengarkan musik yang menenangkan dapat menjadi sinyal bagi tubuh bahwa waktunya beristirahat.

4. Jangan memaksakan diri untuk langsung tidur.

Jika belum mengantuk, melakukan aktivitas tenang dan santai dengan pencahayaan yang redup dapat membantu daripada terus melihat jam dan merasa panik karena belum tidur.

5. Perhatikan pola tidur.

Tidur yang cukup dan jadwal tidur yang konsisten dapat membantu menjaga tubuh agar tetap segar.

Kapan Harus Mulai Mencari Bantuan?

Sesekali mengalami overthinking sebelum tidur merupakan hal wajar yang dapat dialami banyak orang. Namun, jika kesulitan tidur berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, konsentrasi, suasana hati, atau produktivitas, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.

Kesulitan tidur yang berjalan secara terus menerus, termasuk stres, kecemasan, kebiasaan tidur, kondisi kesehatan tertentu, maupun gangguan tidur. Berkonsultasi dengan dokter atau psikolog dapat membantu menemukan penyebab dan penanganan yang sesuai.

Malam Hari Seharusnya Menjadi Waktu untuk Beristirahat

Overthinking sebelum tidur bukan sekadar terlalu banyak berpikir. Kita dapat mulai menguranginya dengan menciptakan lingkungan dan rutinitas yang membantu pikiran melambat secara alami.

Malam hari adalah waktu yang sangat sesuai untuk merehatkan diri dari segala aktivitas yang melelahkan.