Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Sulit Membuang Barang yang Sebenarnya Sudah Tidak Terpakai?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zayn Alexander tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Momen nostalgia seseorang saat memilih dan merenungkan barang-barang lama berselimut kenangan.(Source: AI)
zoom-in-whitePerbesar
Momen nostalgia seseorang saat memilih dan merenungkan barang-barang lama berselimut kenangan.(Source: AI)

Ada baju yang sudah bertahun-tahun tidak dikenakan, tiket acara yang terselip di laci, atau hadiah kecil dari seseorang yang sudah lama tidak ditemui. Secara fungsi, benda-benda itu mungkin tidak lagi dibutuhkan. Namun, ketika tiba waktunya untuk membuangnya, muncul perasaan sayang yang sulit dijelaskan.

Kita mungkin berpikir, “Siapa tahu nanti masih berguna.” Padahal, jauh di dalam hati, kita tahu bahwa benda tersebut kemungkinan besar akan tetap berada di tempat yang sama selama bertahun-tahun.

Lalu, mengapa sesuatu yang sudah tidak kita gunakan masih terasa begitu berharga?

Bukan sekadar soal fungsi

Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa menilai barang berdasarkan kegunaannya. Pakaian untuk dikenakan, buku untuk dibaca, dan peralatan rumah tangga untuk membantu pekerjaan. Ketika fungsi itu hilang, mempertahankan barang tersebut seolah tidak lagi masuk akal.

Namun, hubungan manusia dengan benda tidak selalu sesederhana itu.

Sebuah benda bisa memiliki nilai yang tidak terlihat dari bentuk maupun harganya. Baju lama mungkin mengingatkan kita pada masa ketika hidup terasa lebih sederhana. Sebuah hadiah bisa membawa ingatan tentang orang yang memberikannya. Bahkan benda kecil yang tampak biasa bagi orang lain dapat menjadi pengingat akan pengalaman yang berarti bagi pemiliknya.

Kajian tentang hubungan benda dan ingatan yang diterbitkan dalam jurnal Current Opinion in Psychology pada 2021 menjelaskan bahwa benda milik pribadi dapat membantu manusia mempertahankan, menghadirkan kembali, dan memberi makna pada kenangan tertentu. Artinya, nilai sebuah benda tidak hanya terletak pada apa yang bisa dilakukannya, tetapi juga pada pengalaman yang terhubung dengannya.

Benda itu mungkin sudah tidak berguna secara praktis. Namun, secara emosional, ceritanya belum tentu selesai.

Ketika membuang barang terasa seperti kehilangan kenangan

Coba bayangkan menemukan kartu ucapan dari seseorang yang pernah dekat dengan kita. Kita mungkin tidak pernah membacanya lagi, tetapi tetap merasa enggan membuangnya.

Alasannya tidak selalu karena kartu itu istimewa. Bisa jadi, yang ingin dipertahankan sebenarnya adalah perasaan ketika menerimanya, hubungan yang pernah terjalin, atau versi diri kita pada masa itu.

Di sinilah benda dapat berfungsi sebagai pengingat personal. Ketika melihatnya, kita memiliki petunjuk konkret untuk mengingat kembali pengalaman yang tidak selalu mudah dipanggil hanya melalui pikiran.

Penelitian tentang keterikatan emosional terhadap benda juga menunjukkan bahwa barang pribadi dapat berkaitan dengan identitas, rasa aman, dan ingatan autobiografis. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Behavioral Addictions pada 2019 menemukan hubungan antara beberapa bentuk keterikatan pada benda dan gejala perilaku menimbun barang. Salah satu aspek yang berkontribusi terhadap kesulitan membuang barang adalah kecenderungan menggunakan benda sebagai tempat menyimpan kenangan.

Temuan tersebut tidak berarti setiap orang yang menyimpan barang lama memiliki masalah psikologis. Justru, penelitian itu membantu menunjukkan bahwa hubungan emosional dengan benda memiliki beberapa lapisan yang perlu dipahami.

Terkadang, kita tidak sedang mempertahankan sebuah benda. Kita sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang diwakilinya.

Kita juga menyimpan bagian dari diri sendiri

Selain kenangan tentang orang lain, barang-barang tertentu dapat mengingatkan kita pada perjalanan hidup sendiri.

Sepatu yang sudah usang mungkin mengingatkan seseorang pada masa awal bekerja. Buku lama bisa membawa ingatan tentang cita-cita yang pernah diperjuangkan. Sebuah benda pemberian orang tua dapat terasa berarti karena menjadi penghubung dengan rumah dan masa kecil.

Ketika benda-benda tersebut dibuang, sebagian orang merasa seolah sedang melepaskan bagian dari kehidupannya.

Hubungan ini membuat proses merapikan barang terkadang lebih rumit daripada sekadar memilah mana yang masih berguna. Ada pertimbangan tentang apa yang ingin dikenang, apa yang sudah selesai, dan bagian kehidupan mana yang masih ingin kita simpan.

Meski demikian, tidak semua barang harus dipertahankan agar kenangannya tetap ada. Ingatan seseorang tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan benda fisik. Kita tetap dapat menghargai pengalaman masa lalu meskipun memilih untuk tidak lagi menyimpan benda yang berkaitan dengannya.

Kapan sebaiknya kita melepaskan?

Memahami nilai emosional sebuah benda bukan berarti kita harus menyimpan semuanya.

Ada perbedaan antara menyimpan beberapa barang karena memiliki arti khusus dan mengalami kesulitan membuang begitu banyak barang hingga ruang hidup tidak lagi dapat digunakan sebagaimana mestinya. Dalam kondisi kedua, persoalannya mungkin lebih kompleks daripada sekadar sentimentalitas.

Untuk barang yang tidak lagi digunakan tetapi sulit dilepaskan, kita bisa mulai dengan bertanya: apa sebenarnya yang ingin saya pertahankan dari benda ini?

Jika jawabannya adalah kenangan, mungkin ada cara lain untuk menyimpannya. Kita bisa mengambil foto, menuliskan cerita di baliknya, atau memilih satu benda yang paling mewakili pengalaman tersebut. Cara ini tidak harus diterapkan pada semua barang, tetapi dapat membantu ketika ruang mulai terasa penuh.

Kita juga tidak perlu memaksakan diri untuk langsung membuang sesuatu yang memiliki arti emosional. Memberi waktu untuk memahami perasaan sendiri bisa menjadi langkah yang lebih masuk akal daripada mengambil keputusan hanya karena merasa harus segera merapikan semuanya.

Pada akhirnya, tujuan merapikan barang bukanlah menghilangkan seluruh jejak masa lalu dari kehidupan kita. Tujuannya adalah memberi ruang bagi kehidupan yang sedang dijalani, tanpa harus menganggap semua yang pernah berarti wajib dipertahankan selamanya.

Sebab, sebuah kenangan bisa tetap berharga meskipun bendanya sudah tidak lagi bersama kita.