Memanusiakan Manusia menurut Tan Malaka

Seorang mahasiswa awal di STFT Widya Sasana Malang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Gregorius Kusuma Dewantara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia itu negara besar yang pernah dijajah oleh beberapa bangsa sebelum memerdekakan diri pada 17 Agustus 1945. Biasanya, tiap daerah punya pahlawan sendiri-sendiri. Salah satu pahlawan yang bisa dibilang dilupakan adalah Tan Malaka.
Tan Malaka sendiri lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat pada tanggal 2 Juni 1897 dengan nama Ibrahim Datuk Sutan Malaka. Tan pernah bersekolah di jenjang pendidikan dasar selama 6 tahun kemudian melanjutkan studinya di Bandung sebelum akhirnya mengambil sekolah tinggi di sekolah keguruan atau RijksKweekschool.
Selama di Belanda, Tan mulai mulai mengenal berbagai pemikiran yang muncul di daerah Eropa seperti Marxisme, kolonialisme, liberalisme, nasionalisme dan komunisme radikal karena dirinya berkenalan dengan para buruh yang juga tertindas oleh pihak yang lebih berkuasa.
Setelah menempuh pendidikan di Belanda, Tan Malaka kembali pulang ke Indonesia dan mengajar sebagai guru di sebuah perkebunan tembakau di Deli. Di tempat ini, Tan melihat ada penindasan dari Belanda ke orang-orang Indonesia. Tan tidak tahan dengan perilaku tersebut dan memutuskan untuk keluar dan pindah ke Semarang. Di tempat inilah Tan Malaka juga mendirikan sekolah rakyat dan menulis beberapa karya yang ada unsur "kiri" nya dan berujung pada pengasingan di Belanda
Tan Malaka memutuskan untuk pergi ke Moskow ketika dirinya sampai di Belanda. Alasan Tan Malaka pergi ke Moskow untuk menyuarakan nasib Bangsa Indonesia yang terjajah di depan bangsa-bangsa. Di Moskow, Tan Malaka dipercaya sebagai pengawas partai-partai komunis di sekitar Asia. Tugas inilah yang membuat Tan Malaka berkeliling Asia dengan berbagai nama samaran demi melindungi dirinya dari mata-mata polisi internasional. Total negara yang dijalani oleh Tan Malaka selama masa penyamaran ini ada 9 dan dia menggunakan 20 nama samaran untuk melindungi dirinya termasuk nama samaran yang digunakan di Indonesia.
Waktu di Indonesia, Tan Malaka cukup disegani karena banyak pemikirannya yang diadopsi oleh para bapa bangsa. Dua tahun setelah kemerdekaan Belanda kembali menyerang Indonesia yang saat ini dikenal sebagai Agresi Militer Belanda. Tahun 1948, beberapa bapa bangsa melakukan perundingan dengan Belanda yang selanjutnya dikenal dengan Perjanjian Linggarjati, Renville dan Kongres Meja Bundar.
Tan Malakatidak setuju dengan tindakan bapa bangsa yang berunding dengan Belanda karena baginya Indonesia telah merdeka dan tidak membutuhkan bantuan apapun dari negara lain. Konsep inilah yang dikenal sebagai "Merdeka 100%". Perbedaan pendapat antara Tan dan pemerintah ini membuat dirinya harus melakukan Geriliya demi menyelamatkan Bangsa Indonesia dari kecaman Belanda lagi. Dia melakukan geriliya di Kediri, Jawa Timur. Di Kediri, dirinya wafat karena ditangkap dan ditembak tanpa pengadilan yang resmi secara militer. Tan meninggal dunia pada tanggal 21 Februari 1949 di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur.
Sumbangan untuk Indonesia
Tulisan
Selama hidupnya, Tan Malaka banyak menulis buku-buku yang nantinya akan dipakai oleh para bapa bangsa. Beberapa buku tersebut masih dapat diakses hingga saat ini karena memiliki banyak peminat. Buku-buku tersebut antara lain Naar de “Republiek Indonesia", Madilog, Gerpolek, Dari Penjara ke Penjara, dan Aksi Massa.
Inspirasi
Tokoh Tan Malaka tidak hanya menyumbangkan tulisan kritik yang tajam melainkan juga cara hidupnya yang menginspirasi banyak orang hingga sekarang. Dapat dikatakan bahwa Tan Malaka memperjuangkan kemerdekaannya secara tulus. Alasannya karena dia wafat di tangan bangsanya sendiri dan sempat ketinggalan berita kemerdekaan karena dirinya berada di daerah terpencil saat teks proklamasi disiarkan ke seluruh Indonesia.
Manusia menurut Tan Malaka
Manusia yang bebas
Tan Malaka melihat bahwa Bangsa Indonesia diperlakukan semena-mena oleh penjajah. Hal ini sesuai dengan idealismenya yaitu Marxisme. Marxisme merupakan paham yang menyatakan bahwa dalam sebuah sistem masyarakat memiliki dua kelompok yaitu kelompok bourjouis atau orang kaya yang menguasai modal dan tanah dan kelompok proletar atau kaum miskin yang menjadi budak kelompok proletar.
Tan menginginkan masyarakat tanpa kelas seperti yang dicita-citakan oleh Karl Marx. Tan menemukan cara agar idealisme ini dapat digunakan di Indonesia yaitu merdeka. Merdeka berarti terbebas dari pihak Belanda. Untuk mencapai kemerdekaan tersebut, Tan mengumpulkan kekuatan sedikit demi sedikit dari pihak rakyat. Dua hal inilah yang membuatnya terkenal dengan seruan "Merdeka 100%" dan menulis buku berjudul "Aksi Massa"
Manusia yang berpikir
Tan menulis buku yang berjudul "Madilog Materialisme, Dialetika dan Logika". Buku ini membahas mengenai pola pikir Bangsa Indonesia yang perlu dirubah dari awalnya percaya pada hal-hal mistis menjadi lebih realistis dan menggunakan pikirannya secara kritis dalam menghadapi persoalan hidup sehari-hari
Manusia yang merasa
Tan memiliki sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan dan pengalaman inilah yang membuatnya menjadi pahlawan nasional yaitu melihat ketidakadilan di Deli ketika dirinya menjadi seorang guru. Tan Malaka peduli dengan nasib orang tersebut yang menggambarkan nasib Bangsa Indonesia di bawah penjajahan Belanda. Tan Malaka merasa sakit hati dan muncul keinginan untuk merubah kondisi tersebut. Perubahan inilah yang menyebabkan dirinya berkelana ke berbagai negara dan daerah di Indonesia sebelum akhirnya menghembuskan nyawa di Kediri.
Manusia yang tulus
Tan Malaka merupakan orang yang tulus. Tulus dalam konteks ini berarti berjuang sebaik mungkin tanpa mengharapkan imbalan yang setimpal dengan perjuangannya. Tan Malaka rela berkeliling dunia demi mendapatkan pengakuan internasional akan kemerdekaan Indonesia. Walaupun demikian, Tan Malaka seolah-olah tidak mendapat hal yang diinginkan. Alasan mengapa dia tidak mendapatkannya karena diperlakukan tidak adil oleh bangsanya yaitu pemerintah dan satuan militer resmi Indonesia yang dipimpin oleh Soekotjo.
Semangat Tan Malaka di Era Modern
Saat ini, muncul sebuah teknologi yang membantu efesiensi pekerjaan manusia. Teknologi ini bernama AI atau Akal Imitasi. Di satu sisi, teknologi ini memiliki hal-hal positif seperti membantu manusia dalam mengerjakan sesuatu, mendapatkan ide-ide baru, mempermudah seseorang untuk mendapatkan informasi. Walaupun demikian, AI juga memiliki dampak negatif seperti kecanduan, acuh terhadap sesamanya, dibanjiri oleh banyak informasi yang sebenarnya tidak penting, termakan hoax, dan tidak bisa berpikir secara baik karena semua keputusan ditanya kepada AI dan menelan mentah-mentah informasi tersebut.
Dari biografi dan pemikiran Tan Malaka, dia kembali mengajak warga Indonesia untuk melawan penjajah. Penjajah saat ini bukanlah bangsa asing yang datang dengan senjata dan kapal melainkan teknologi yang sudah masuk ke berbagai bidang kehidupan.
Tan Malaka menawarkan solusi untuk melawan penjajah ini yaitu dengan membatasi diri melihat konten-konten yang kurang baik, berpikir kritis saat menerima sebuah informasi, peduli kepada sesama, dan terlibat dalam hidup bermasyarakat.
Kesimpulan
Manusia bagi Tan Malaka merupakan sosok yang memiliki hak-hak dilindungi. Baginya, menjadi manusia berarti menjadi seseorang yang dapat bertindak bebas tanpa tekanan dari pihak asing, seseorang yang mampu melihat suka dan duka orang di sekitarnya, seseorang yang mampu membuat keputusan berdasarkan pertimbangan akal budi dan seseorang yang rela berkorban demi kepentingan bangsanya.
