Pendidikan sebagai Investasi: Mengapa Sekolah Penting bagi Masa Depan Ekonomi?

Mahasiswa (Universitas Pamulang)
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Guesty Sri Rachma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan sering kali dianggap sebagai kewajiban yang harus ditempuh setiap orang untuk mendapatkan ijazah. Namun, jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, pendidikan sebenarnya merupakan salah satu bentuk investasi jangka panjang. Investasi tidak selalu berbentuk uang, saham, atau aset. Pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan juga merupakan modal yang dapat memberikan manfaat bagi seseorang di masa depan.
Sekolah menjadi salah satu tempat penting dalam proses pembentukan sumber daya manusia. Melalui sekolah, seseorang tidak hanya belajar mengenai teori, tetapi juga belajar berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, memecahkan masalah, menggunakan teknologi, dan bertanggung jawab. Berbagai kemampuan tersebut nantinya dapat digunakan ketika seseorang melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, maupun membangun usaha.
Pendidikan dan Kualitas Sumber Daya Manusia
Hubungan pendidikan dengan ekonomi dapat dilihat melalui konsep sumber daya manusia atau human capital. Semakin baik pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang, semakin besar modal yang dimilikinya untuk melakukan kegiatan ekonomi secara produktif.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2024 mencapai 75,02, meningkat dari 74,39 pada 2023. Pada dimensi pendidikan, harapan lama sekolah penduduk usia 7 tahun meningkat menjadi 13,21 tahun, sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas mencapai 8,85 tahun. Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan merupakan salah satu bagian penting dalam perkembangan kualitas manusia Indonesia.
Meski demikian, meningkatnya akses pendidikan tidak otomatis berarti seluruh persoalan pendidikan telah selesai. Kualitas pembelajaran, pemerataan fasilitas, kemampuan guru, akses teknologi, serta kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan dunia kerja masih menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Artinya, investasi pendidikan bukan hanya tentang berapa banyak orang yang bersekolah, tetapi juga tentang seberapa banyak pengetahuan dan keterampilan yang benar-benar diperoleh selama proses pendidikan.
Sekolah sebagai Persiapan Memasuki Dunia Kerja
Salah satu manfaat ekonomi dari pendidikan adalah membantu seseorang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Sekolah, khususnya pendidikan kejuruan, memiliki peran dalam memberikan keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja atau berwirausaha.
Namun, data ketenagakerjaan Indonesia menunjukkan bahwa memiliki pendidikan saja belum otomatis menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan. BPS mencatat jumlah pengangguran terbuka pada Agustus 2025 sebanyak sekitar 7,46 juta orang. Jika dilihat berdasarkan pendidikan terakhir, terdapat sekitar 1,92 juta pengangguran yang merupakan lulusan SMK dan sekitar 904 ribu lulusan universitas.
Data tersebut tidak berarti bahwa pendidikan menyebabkan pengangguran. Justru, data tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara pendidikan dan dunia kerja cukup kompleks. Selain tingkat pendidikan, terdapat faktor lain seperti kesesuaian kompetensi, pengalaman kerja, kebutuhan industri, kondisi ekonomi, lokasi pekerjaan, dan perkembangan teknologi.
Karena itu, sekolah perlu memberikan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan yang relevan. Misalnya, kemampuan menggunakan teknologi digital, komunikasi, kerja sama, kreativitas, pemecahan masalah, serta keterampilan kewirausahaan.
Pendidikan sebagai Investasi Pemerintah
Pendidikan juga dapat dilihat sebagai investasi dari sisi pemerintah. Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk membangun dan memperbaiki sekolah, membayar dan meningkatkan kompetensi guru, memberikan bantuan pendidikan, menyediakan beasiswa, serta mendukung berbagai program pendidikan lainnya.
Dalam APBN 2025, anggaran pendidikan ditetapkan sebesar sekitar Rp724,3 triliun atau 20 persen dari total belanja negara. Anggaran tersebut antara lain digunakan untuk Program Indonesia Pintar, Bantuan Operasional Sekolah, beasiswa, tunjangan guru, revitalisasi sekolah, dan digitalisasi pembelajaran.
Besarnya anggaran tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memiliki posisi penting dalam pembangunan. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana anggaran tersebut digunakan agar benar-benar memberikan manfaat bagi peserta didik.
Investasi pendidikan akan lebih berarti jika digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperbaiki fasilitas yang memang dibutuhkan, meningkatkan kompetensi guru, memperluas akses pendidikan, serta membantu siswa dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Tantangan Pemerataan Pendidikan
Salah satu tantangan pendidikan di Indonesia adalah masih adanya perbedaan kesempatan dan kualitas pendidikan antarwilayah maupun kelompok masyarakat. Tidak semua siswa memiliki fasilitas belajar yang sama. Ada siswa yang memiliki akses internet dan perangkat digital yang memadai, sementara siswa lainnya masih menghadapi keterbatasan fasilitas.
BPS dalam Statistik Pendidikan 2024 menunjukkan bahwa partisipasi sekolah cenderung lebih tinggi pada kelompok usia pendidikan dasar dan menurun pada kelompok usia yang lebih tinggi. Data tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan peserta didik agar terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi masih menjadi tantangan.
Masalah lainnya adalah kualitas pembelajaran. Bank Dunia menekankan bahwa bersekolah tidak selalu sama dengan benar-benar belajar. Dalam kajiannya mengenai pendidikan Indonesia, Bank Dunia menjelaskan bahwa kualitas pembelajaran dan kesenjangan hasil belajar masih menjadi tantangan yang berpengaruh terhadap kemampuan generasi muda untuk berpartisipasi secara produktif dalam perekonomian.
Oleh karena itu, investasi pendidikan perlu memperhatikan dua hal sekaligus, yaitu akses dan kualitas. Anak-anak perlu mendapatkan kesempatan untuk bersekolah, tetapi mereka juga perlu memperoleh pembelajaran yang benar-benar membangun kemampuan.
Pendidikan untuk Masa Depan Ekonomi
Perubahan teknologi membuat kebutuhan dunia kerja terus berkembang. Pekerjaan yang tersedia saat ini dapat berubah dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, pendidikan perlu membantu siswa menjadi lebih siap menghadapi perubahan tersebut.
Pembelajaran di sekolah dapat diarahkan tidak hanya untuk menghafal materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, dan kemampuan beradaptasi. Keterampilan tersebut dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda ketika menghadapi dunia kerja maupun ketika menciptakan peluang usaha sendiri.
Pada akhirnya, pendidikan merupakan investasi yang manfaatnya tidak selalu dapat dilihat secara langsung. Uang yang dikeluarkan untuk sekolah, pelatihan, fasilitas, buku, teknologi, dan peningkatan kualitas guru mungkin terlihat sebagai biaya dalam jangka pendek. Namun, manfaatnya dapat muncul dalam jangka panjang melalui peningkatan kemampuan manusia, produktivitas, kesempatan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian, sekolah memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar tempat untuk mendapatkan nilai dan ijazah. Sekolah merupakan salah satu tempat untuk membangun modal manusia yang nantinya akan berkontribusi terhadap kegiatan ekonomi.
Pendidikan yang berkualitas dapat menjadi salah satu fondasi bagi terciptanya sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan zaman. Karena itu, membangun pendidikan bukan hanya tentang membangun sekolah, tetapi juga tentang membangun kemampuan manusia. Ketika kualitas manusia meningkat, peluang untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang lebih produktif juga semakin terbuka.
Sumber Referensi:
Badan Pusat Statistik. Statistik Pendidikan 2024. BPS, 2024.
Badan Pusat Statistik. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2024. BPS, 2024.
Badan Pusat Statistik. Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan 2025. BPS, diperbarui 2026.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Anggaran Pendidikan: Pilar Masa Depan Bangsa Indonesia. 2025.
World Bank. Janji Pendidikan di Indonesia. 2020.
Penulis:
Guesty Sri Rachma
Prodi Pendidikan Ekonomi S1
Universitas Pamulang
Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ekonomi Pendidikan
