"Mau Sukses? Ya, Kerja Lebih Keras": Mitos atau Fakta?
Tulisan dari Gustyani Aurellia Sekar Syakirah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kerja keras katanya kunci kesuksesan. Namun, bagaimana jika usaha saja tak cukup untuk mengalahkan privilege dan koneksi? Apakah semua orang benar-benar punya kesempatan yang sama untuk berhasil?
Sejak kecil, hampir semua dari kita pernah mendengar kalimat itu: “Kalau mau sukses, harus kerja keras.” Kalimat ini sering diucapkan orang tua di meja makan, guru di depan kelas, hingga motivator di panggung seminar. Ia terdengar sederhana, masuk akal, dan menenangkan, seolah-olah hidup adalah ruang ujian yang adil. Namun, apakah kerja keras saja cukup jika titik awal dan kesempatan setiap orang tidak sama? Dua orang bisa sama-sama bekerja keras, tetapi yang satu berlari di jalan beraspal dengan sepatu lari, sementara yang lain menembus lumpur dengan kaki telanjang. Wajarkah keduanya diharapkan tiba di garis finis pada waktu yang sama?

Salah satu jawaban paling populer atas persoalan ini adalah pendidikan. Lewat sekolah dan kuliah, seseorang diharapkan meningkatkan kemampuan, memperluas pilihan pekerjaan, dan memperbaiki kondisi hidupnya. Harapan itu tidak keliru, karena pendidikan memang membuka pintu yang sebelumnya tertutup. Tetapi pendidikan bukan jaminan otomatis untuk berpindah ke kelas sosial yang lebih tinggi. Kualitas sekolah berbeda-beda, biaya pendidikan tinggi tidak ringan, dan ijazah yang sama bisa bernilai berbeda tergantung dari mana ia berasal. Lulusan dari keluarga berada bisa menunggu pekerjaan yang tepat, sementara lulusan dari keluarga sederhana sering harus menerima pekerjaan apa saja demi menopang keluarga. Ijazahnya sama, tetapi daya tawarnya tidak.
Persoalan ini paling terasa di dunia rekrutmen tenaga kerja. Banyak pencari kerja mengenal pengalaman mengirim puluhan lamaran tanpa kabar, lalu mendengar bahwa posisi yang mereka incar ternyata diisi kenalan seseorang di dalam perusahaan. Padahal, rekomendasi pada dasarnya bukan hal buruk. Ketika seorang karyawan merekomendasikan rekan yang ia tahu kualitasnya, perusahaan terbantu menemukan kandidat kompeten, dan kandidat itu tetap harus melewati seleksi yang sama. Masalah muncul ketika hubungan pribadi justru mengalahkan kemampuan. Saat kedekatan, hubungan keluarga, atau balas budi menjadi penentu utama, seleksi berhenti menjadi ajang menilai kemampuan dan berubah menjadi ajang menilai siapa mengenal siapa. Di titik ini, nasihat “bekerjalah lebih keras” terasa hampa: sekeras apa pun seseorang mengasah kemampuan, ia tidak bisa menciptakan koneksi yang tidak pernah ia punya.
Ironisnya, masyarakat cenderung memandang kesuksesan sebagai hasil usaha pribadi semata. Cara pandang ini punya nama: meritokrasi, gagasan bahwa posisi seseorang seharusnya ditentukan oleh kemampuan dan usahanya. Istilah ini dipopulerkan sosiolog Inggris Michael Young lewat bukunya The Rise of the Meritocracy (1958). Menariknya, Young tidak memaksudkannya sebagai cita-cita, melainkan satire tentang masyarakat ketika kelas atas merasa pantas sepenuhnya atas posisinya, sementara kelas bawah diyakini gagal karena kurang mampu atau kurang berusaha. Peringatan itu relevan hari ini. Ketika keberhasilan dipandang sepenuhnya sebagai buah kerja keras, orang yang berhasil mudah melupakan keluarga, lingkungan, dan kesempatan yang mendukungnya. Sebaliknya, kegagalan diperlakukan sebagai kekurangan individu: malas, kurang gigih, kurang bersyukur. Struktur yang membatasi seseorang menghilang dari pandangan, dan yang tersisa hanya kesalahan pribadi.
Untuk memahami mengapa kesempatan tidak terbagi rata, kita bisa meminjam pemikiran sosiolog Prancis Pierre Bourdieu. Ia menunjukkan bahwa keuntungan dalam hidup tidak hanya berupa uang. Ada modal sosial, yaitu jaringan hubungan yang bisa dimanfaatkan, dan modal budaya, yaitu pengetahuan, cara berbicara, serta kebiasaan yang dianggap “pantas” oleh institusi seperti sekolah dan dunia kerja. Semua modal ini diwariskan secara halus lewat latar belakang keluarga. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang akrab dengan dunia profesional belajar banyak hal tanpa disadari, mulai dari menghadapi wawancara hingga membaca peluang. Menurut Bourdieu, mekanisme inilah yang membuat struktur sosial cenderung bereproduksi dari generasi ke generasi. Pintu memang tampak terbuka bagi semua orang, tetapi sebagian orang sudah memegang kuncinya sejak lahir.
Jadi, apakah “kalau mau sukses, harus kerja lebih keras” itu mitos atau fakta? Jawaban paling mungkin adalah keduanya. Kerja keras tetap penting, sebab tanpa usaha kemampuan tidak akan berkembang dan kesempatan yang datang bisa terbuang. Namun, ia menjadi mitos ketika dijadikan satu-satunya penjelasan, karena penjelasan seperti itu menutup mata pada ketimpangan titik awal setiap orang dan membuat mereka yang tertinggal menanggung beban kesalahan sendirian. Maka, yang perlu kita pertanyakan bukan nilai kerja keras, melainkan keadilan kesempatan. Tugas kita adalah memastikan kemampuan seseorang mendapat ruang untuk berkembang dan dinilai secara adil, lewat seleksi kerja yang transparan dan akses pendidikan yang lebih setara. Sebab, yang kita butuhkan bukan hanya orang yang mau bekerja keras, tetapi juga sistem yang layak menjadi tempat kerja keras itu bermuara.

