Di Balik Stigma: Saat Orang Tua Menjadi Garda Terdepan Pendidikan Inklusi

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Mulawarman
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hadi Al Hafidh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keberhasilan pendidikan inklusi terletak pada peran orang tua dan kolaborasi antara orang tua dan guru di sekolah
Setiap anak berhak atas pendidikan tanpa terkecuali anak-anak berkebutuhan khusus. Hak ini dijamin dan sangat jelas dalam pasal 31 UUD 1945 serta Pasal 10 UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Namun, di balik jaminan konstitusi tersebut, realitas di lapangan sangat memperlihatkan wajah yang berbeda.
Penelitian Ummah et. al (2023) mengungkapkan bahwa pelaksanaan pendidikan inklusi di sekolah masih terkendala oleh minimnya kemampuan dan kejelasan peran guru. Belum lagi, keterbatasan fasilitas fisik serta stigma negatif masyarakat yang masih memandang sebelah mata. Akibatnya, anak yang seharusnya berkembang sesuai potensinya sering kali jatuh pada perundungan dan terkucilkan.
Lantas, di mana letak kunci utama keberhasilan pendidikan inklusi di tengah berbagai tantangan ini?
Jawabannya ada pada rumah, keberhasilan pendidikan inklusi sangat bergantung pada orang tua sebagai pendidik pertama sebelum anak di sekolah dan guru sebagai mitra penyelengara pendidikan formal. Orang tua adalah garda terdepan yang bertugas menciptakan lingkungan belajar inklusif dan suportif serta menjadi pendamping utama anak dalam menghadapi tantangan akademis dan sosial setiap hari.
Komitmen orang tua adalah pondasi utama. Ketika orang tua hadir secara aktif di rumah, anak mendapatkan rasa aman dan penguatan emosional. Materi pelajaran dari sekolah yang terasa rumit untuk anak dapat diterjemahkan kembali oleh orang tua melalui pendekatan yang lebih personal dan mudah dipahami.
Peran orang tua selain menjadi pendamping belajar anak, orang tua seharusnya menjadi ruang aman bagi anak untuk bercerita dan mengekspresikan kendala yang mereka hadapi tanpa takut dihakimi. Rasa diterima inilah yang membangun rasa percaya diri anak saat berhadapan dengan dunia luar.
Tentu, orang tua tidak berjalan sendirian. Kolaborasi dua arah bersama pihak sekolah menjadi penentu keberhasilan pendidikan inklusi. Komunikasi rutin dengan guru mulai dari mencatat perkembangan berkala hingga mengevaluasi tantangan yang dihadapi anak, untuk memastikan bahwa pola pendampingan di sekolah dan di rumah berjalan selaras dan saling menguatkan.
Pendidikan inklusi tidak akan pernah terwujud hanya dengan mengandalkan dinding sekolah atau regulasi pemerintah semata. Sistem ini membutuhkan keterlibatan aktif dan kasih sayang orang tua di rumah. Sebab, menciptakan masyarakat yang inklusif dimulai dari kepedulian kita terhadap anak-anak yang membutuhkan lingkungan yang menerimanya.
Tulisan ini secara khusus dipersembahkan sebagai kepedulian penulis terhadap tantangan dalam melaksanakan pendidikan inklusi yang seharusnya melibatkan semua peran orang tua, guru, masyarakat dan pemangku kebijakan untuk menciptakan ruang pendidikan yang aman dan setara untuk semua anak.
Selain itu, karya opini ini dituliskan sebagai bentuk tugas perkuliahan mata kuliah pendidikan inklusi yang diampu oleh Bapak Ady Setiawan S.Pd., M.P.d
