Konten dari Pengguna

Bagaimana agar Santri Didengar Dunia?

Hadhir Ghali Atsna'IR

Hadhir Ghali Atsna'IR

Mahasiswa Ilmu Politik

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hadhir Ghali Atsna'IR tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah Refleksi untuk Cendikiawan Muda Islam masa depan, Apakah kita akan menjadi Penonton, atau menjadi pemain?

Foto ini diambil ketika waktu sholat Idul Fitri di Kukusan, Beji.
zoom-in-whitePerbesar
Foto ini diambil ketika waktu sholat Idul Fitri di Kukusan, Beji.

Banyak lulusan pesantren dan madrasah yang punya kemampuan luar biasa dalam ilmu agama, tapi kesulitan menembus diskusi internasional karena terkendala bahasa.

Perlu dicatat, dunia Islam saat ini tidak hanya dibahas di Timur Tengah. Ia juga dibicarakan di Oxford, Leiden, Harvard, Tokyo, Berlin, Nairobi, hingga Rio de Janeiro.

Buku-buku kunci tentang islam masa kinipun banyak ditulis dalam Bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Arab, Turki. Tanpa Kemampuan bahasa, kita hanya akan jadi penonton.

Bagaimana mungkin kita ingin "membela islam," jika kita sendiri bahkan kesulitan membaca apa yang dibicarakan dunia tentang Islam?

Menurut saya, Ilmuwan Islam masa depan adalah mereka yang mampu :

  • Membaca "Ihya' 'Ulumiddin" Karya Al-Ghazali dan "The Order of Things" karya Foucault sekaligus.

  • Menjelaskan Kitab Tafsir sembari juga menulis di Jurnal Internasional.

  • Berdiskusi dengan para Masyayikh, Kyai dan juga Professor Global.

Sebagai lulusan pesantren yang mengamati dan pembelajari Guru-Guru kami yang pernah belajar Studi Islam dikampus Barat, Saya memahami betul apa yang dikatakan sang Guru kepada Muridnya, Ketika Guru saya menyaksikan langsung bahwa diskusi besar tentang Islam " tidak pernah menunggu kita " untuk hadir.

Dengan kata lain, kalau kita diam, orang lainlah yang akan bicara atas nama kita. itulah pesan yang saya Pahami dari Guru saya. tantangan terbesar saat ini bukan soal pintar atau kurang pintar. Tapi seringkali kita terlalu nyaman dengan batas-batasan yang kita bangun sendiri.

Teruntuk para ilmuwan muda Islam, mara bersama-sama :

  • Pelajari Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya dengan serius termasuk bahasa arab.

  • Ikuti jurnal dan konfrensi secara Global tentang isu-isu Keislaman.

  • Tulis, bicara, dan wakili Islam dengan kualitas akademik dunia.

Islam juga butuh ilmuan global, bukan hanya lokal. Kalau kamu adalah lulusan Pesantren atau madrasah, itu justru sangat bagus : Panggung dunia terbuka lebar untukmu!

Jangan hanya menjadi santri yang hebat. jadilah santri yang suaranya menggema ke seantero dunia!